MALARIA
Penyakit malaria adalah penyakit yang
disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium yang termasuk golongan
protozoa melalui perantaraan tusukan (gigitan) nyamuk Anopheles spp. Indonesia
merupakan salah satu negara yang memiliki endemisitas tinggi (Oswari, 2003).
Malaria maupun penyakit yang menyerupai
malaria telah diketahui ada selama lebih dari 4.000 tahun yang lalu. Malaria
dikenal secara luas di daerah Yunani pada abad ke-4 SM dan dipercaya sebagai
penyebab utama berkurangnya penduduk kota. Penyakit malaria sudah dikenal sejak
tahun 1753, tetapi baru ditemukan parasit dalam darah oleh Alphonse Laxeran
tahun 1880. Untuk mewarnai parasit, pada tahun 1883 Marchiafava menggunakan
metilen biru sehingga morfologi parasit ini lebih mudah dipelajari. Siklus
hidup plasmodium di dalam tubuh nyamuk dipelajari oleh Ross dan Binagmi pada
tahun 1898 dan kemudian pada tahun 1900 oleh Patrick Manson dapat dibuktikan
bahwa nyamuk adalah vektor penular malaria (Hiswani, 2004).
Pada tahun 1890 Giovanni Batista Grassi dan
Raimondo Feletti adalah dua peneliti Italia yang pertama kali memberi nama dua
parasit penyebab malaria pada manusia, yaitu Plasmodium vivax dan Plasmodium
malariae. Pada tahun 1897 seorang Amerika bernama William H. Welch memberi
nama parasit penyebab malaria tertiana sebagai Plasmodium falciparum dan
pada 1922 John William Watson Stephens menguraikan nama parasit malaria
keempat, yaitu Plasmodium ovale
(Oswai, 2003).
Penyakit malaria hingga kini masih merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat dunia yang utama. Malaria menyebar di berbagai negara,
terutama di kawasan Asia, Afrika,dan Amerika Latin. Di berbagai negara, malaria
bukan hanya permasalahan kesehatan semata. Malaria telah menjadi masalah
sosial-ekonomi, seperti kerugian ekonomi, kemiskinan dan keterbelakangan
(Panggabean, 2010).
I.
Host,
Agent dan Environment
A.
Host
Menurut
Rajab (2009), dijelaskan bahwa faktor pejamu (host) adalah semua faktor yang
terdapat pada manusia yang dapat mempengaruhi timbulnya suatu perjalanan penyakit.
Host erat hubungannya dengan manusia sebagai makhluk biologis dan manusia
makhluk sosial sehingga manusia dalam hidupnya mempunyai dua keadaan dalam
timbulnya suatu penyakit yaitu manusia kemungkinan terpajan dan kemungkinan
rentan/resisten.
Secara
umum dapat dikatakan bahwa setiap orang dapat terkena penyakit malaria.
Perbedaan prevalensi menurut umur dan jenis kelamin karena berkaitan dengan
perbedaan tingkat kekebalan dan frekuensi keterpaparan gigitan nyamuk.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kerentanaan seseorang adalah:
1. Ras
atau suku bangsa. Di Afrika, apabila prevalensi hemoglobin S (HbS) cukup
tinggi, penduduknya lebih rentan terhadap infeksi P.falcifarum. penyelidikan
terakhir menunjukkan bahwa HbS menghambat P.falcifarum baik sewaktu invasi
maupun berkembang biak.
2. Kurangnya
suatu enzim tertentu. Kurangnya enzim G6PD (Glucosa 6-Phosphat Dehydrogenase)
memberikan perlindungan terhadap infeksi P.Falcifarum yang berat. Walaupun
demikian, kurangnya enzim ini merugikan ditinjau dari segi pengobatan dengan
golongan Sulfonamid dan Primakuin oleh karena dapat terjadi hemolisis darah.
Defisiensi enzim G6PD ini merupakan penyakit genetik dengan manifestasi utama
pada perempuan.
3. Kekebalan
pada manusia terjadi apabila tubuh mampu menghancurkan Plasmodium yang masuk
atau menghalangi perkembangannya (Harijanto, 2000).
B.
Agent
Agen
adalah faktor esensial yang harus ada agar penyakit dapat terjadi. Agent dapat
berupa benda hidup, tidak hidup, energi, sesuatu yang abstrak, suasana sosial,
yang dalam jumlah yang berlebih atau kurang merupakan penyebab utama/esensial
dalam terjadinya penyakit (Soemirat, 2010).
Penyebab
timbulnya penyakit malariapada manusia adalah yang disebut parasit/plasmodium.
Pada manusia Plasmodium terdiri dari 4 spesies yaitu (Soegijanto, 2004) dan
(Prabowo, 2004):
1) Plasmodium Vivax
Menyebabkan
malaria vivax/tertian. Masa inkubasi 13 - 17 hari. Menginfeksi eritrosit imatur
(retikulosit). Relaps pada malaria diakibatkan oleh aktifnya kembali hipnozoit di
organ hati (fase eksoerittrositik) yangkemudian menjadi merozoit dan seterusnya
memasuki sirkulasi darah dan menyerang eritrosit normal. Umumnya dapat terjadi
berkali-kali sampai jangka waktu 2 - 4 tahun (Soegijanto, 2004).
2) Plasmodium falciparum
Menyebabkan
malaria falciparum/tropika.Masa inkubasi 12 hari. Merupakan penyebab utama
infeksi berat, karena Plasmodium falciparum dapat menginfeksi eritrosit
imatur dan matur. Umumnya kekambuhan terjadi paling lama 1 tahun, penyebabnya
adalah parasit stadium eritrositik yang belum terbunuh sempurna oleh obat-obat
antimalaria (Soegijanto, 2004).
3) Plasmodium
malariae
Menyebabkan
malariae/quartana. Masa inkubasi 28 - 30 hari. Menyerang eritrosit matur.
Merupakan suatu bentuk malaria yang paling ringan namun merupakan infeksi
kronik. Relaps umumnya terjadi selama 1 tahun pertama kemudian diikuti timbulnya
kekambuhan jangka panjang sampai 30 tahun. Penyebabnya parasit stadium
eritrositik yang berada di sirkulasi mikrokapiler yang tidak dapat dibunuh karena
pengobatan antimalaria yang tidak sempurna (Soegijanto, 2004).
4) Plasmodium ovale
Menyebabkan
malaria ovale. Masa inkubasi sama dengan Plasmodium vivax 13 - 17 hari.
Seorang penderita dapat dihinggapi lebih dari satu jenis plasmodium. Infeksi
demikian disebut infeksi campuran (mixed infection).Biasanya, penderita
paling banyak dihinggapi dua jenis parasit malaria, yakni campuran antara Plasmodium
falciparumdan Plasmodium vivax dan
Plasmodium ovale (Prabowo, 2004).
Perantara (Agent)
Hidup di dalam tubuh manusia dan dalam tubuh
nyamuk. Manusia disebut host intermediate (pejamu sementara) dan nyamuk disebut
host definitife (pejamu tetap).
a) Nyamuk Anopheles (host defenitife)
Nyamuk Anopheles terutama hidup di daerah tropik
dan subtropik, namun bisa juga hidup di daerah beriklim sedang dan bahkan di
daerah arktika. Efektifitas vektor untuk menularkan malaria ditentukan hal-hal sebagai
berikut (Harijanto, 2000):
1.
Kepadatan
vektor dekat pemukiman manusia.
2.
Kesukaan
menghisap darah manusia atau antropofilia.
3.
Frekuensi
menghisap darah (tergantung dari suhu).
4.
Lamanya
sporogoni (berkembangnya parasit dalam nyamuk sehingga menjadi infektif).
5.
Lamanya hidup
nyamuk harus cukup untuk sporogoni dan kemudian menginfeksi jumlah yang
berbeda-beda menurut spesies.
Nyamuk Anopheles betina menggigit antara waktu senja
dan subuh, dengan jumlah yang berbeda-beda menurut spesiesnya. Kebiasaan makan
dan istirahat nyamuk Anopheles dapat dikelompokan menjadi:
1) Tempat tinggal atau beristirahat
a. Endofilik: suka tinggal dalam rumah/bangunan
b. Esksofilik: suka tinggal di luar rumah.
2) Tempat menggigit
a. Endofagik: menggigit dalam rumah/bangunan
b. Eksofagik: menggigit di luar rumah/bangunan
3) Objek yang digigit
a. Antropofilik: suka menggigit manusia
b. Zoofilik: suka menggigit binatang.
C.
Environment
Lingkungan adalah
segala sesuatu yang ada di luar dari host (pejamu), baik benda tidak hidup,
benda hidup, nyata atau abstrak, seperti suasana yang terbentuk akibat
interaksi semua elemen-elemen tersebut, termasuk host yang lain (Soemirat,
2010). Faktor lingkungan ini dapat
dibagi menjadi:
1.
Lingkungan
Biologis (flora & fauna)
Mikroorganisme penyebab penyakit Reservoar, penyakit
infeksi (binatang, tumbuhan). Vektor pembawa penyakit umbuhan & binatang
sebagai sumber bahan makanan, obat dan lainnya.
2.
Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik adalah yang berwujud geogarfik dan
musiman. Lingkungan fisik ini dapat bersumber dari udara, keadaan tanah,
geografis, air sebagai sumber hidup dan sebagai sumber penyakit, Zat kimia atau
polusi, radiasi, dll.
3.
Lingkungan
Sosial Ekonomi
Yang termasuk dalam faktor lingkungan sosial ekonomi
adalah sistem ekonomi yang berlaku yang mengacu pada pekerjaan sesorang dan
berdampak pada penghasilan yang akan berpengaruh pada kondisi kesehatannya.
Selain itu juga yang menjadi masalah yang cukup besar adalah terjadinya
urbanisasi yang berdampak pada masalah keadaan kepadatan penduduk rumah tangga,
sistem pelayanan kesehatan setempat, kebiasaan hidup masyarakat, bentuk
organisasi masyarakat yang kesemuanya dapat menimbulkan berbagai masalah
kesehatan terutama munculnya bebagai penyakit.
Keadaan
lingkungan berpengaruh besar terhadap ada tidaknya malaria disuatu
daerah.Adanya danau air payau, genangan air di hutan, persawahan, tambak ikan,
pembukaan hutan, dan pertambangan di suatu daerah akan meningkatkan kemungkinan
timbulnya penyakit malaria karena tempat-tempat tersebut merupakan tempat
perindukan nyamuk malaria (Prabowo, 2004).
Beberapa
bagian dari lingkungan yang merupakan tempat hidup atau perkembangbiakan nyamuk
adalah (Harijanto, 2000):
a. Lingkungan
Fisik
Faktor
geografi dan meteorologi di Indonesia sangat menguntungkan transmisi malaria di
Indonesia. Pengaruh suhu ini berbeda bagi setiap spesies. Pada suhu 26,70c masa
inkubasi ekstrinsik adalah 10 - 12 hari untuk Plasmodium falciparum dan 8 - 11
hari untuk Plasmodium vivax, 14 - 15 hari untuk Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale.
1) Suhu
Suhu
mempengaruhi perkembangan parasit dalam nyamuk. Suhu yang optimum berkisar
antara 20 dan 300c. makin tinggi suhu (sampai batas tertentu) makin pendek masa
inkubasi ekstrinsik (sporogoni) dan sebaliknya makin rendah suhu makin panjang
masa inkubasi ekstrinsik (Harijanto, 2000).
Suhu
optimum untuk perkembangan parasit malaria dalam nyamuk adalah antara 200C dan
300C. Parasit berhenti berkembang jika suhu rata-rata di bawah 160C. Suhu yang
lebih tinggi dibandingkan 300C yang mematikan parasit. Sebuah kelembaban
relatif 60% diperlukan bagi nyamuk untuk hidup normal (Widoyono, 2008).
2) Kelembaban
Pada
kelembaban relatif tinggi, nyamuk menjadi lebih aktif dan makan banyak,
sementara pada kelembaban rendah nyamuk tidak bertahan hidup (Jung, 2001).
Kelembaban yang rendah memperpendek umur nyamuk, meskipun tidak berpengaruh
pada parasit. Tingkat kelembaban 60% merupakan batas paling rendah untuk
memungkinkan hidupnya nyamuk. Pada kelembaban yang lebih tinggi nyamuk menjadi
lebih aktif dan lebih sering menggigit, sehingga meningkatkan penularan malaria
(Harijanto, 2000).
3) Hujan
Curah
hujan, secara umum, mempengaruhi mereka dalam dua cara dengan meningkatkan
jumlah tempat berkembang biak dan dengan meningkatkan humadity relatif yang
mengarah ke kehidupan yang lebih panjang dari vektor. Deforestasi dan struktur
seperti liang, lubang, kolam, taman, saluran irigasi, sawah, dan lain-lain
mengakibatkan peningkatan di tempat penangkaran yang menguntungkan (Widoyono,
2008). Hujan akan memudahkan perkembangan nyamuk dan terjadinya epidemi
malaria. Besar kecilnya pengaruh tergantung jenis dan deras hujan, jenis vektor
dan jenis tempat perindukan. Hujan yang diselilingi panas akan memperbesar
kemungkinan berkembang biaknya nyamuk Anopheles (Harijanto, 2000).
4) Ketinggian
Secara
umum malaria berkurang pada ketinggian yang semakin bertambah. Hal ini
berkaitan dengan menurunnya suh rata-rata. Pada ketinggian di atas 2000 meter
jarang ada transmisi malaria. Hal ini bisa berubah bila terjadi pemanasan bumi
dan pengaruh dari El-Nino. Di pegunungan Irian Jaya yang dulu jarang ditemukan malaria
kini lebih sering ditemukan malaria.Ketinggian paling tinggi masih memungkinkan
transmisi malaria adalah 2500 meter di atas permukaan laut (di Bolivia)
(Harijanto, 2000).
5)
Angin
Kecepatan
dan arah angin dapat mempengaruhi jarak terbang nyamuk dan ikut menentukan
jumlah kontak antara nyamuk dan manusia.
6) Sinar matahari
Pengaruh
sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk berbeda-beda. Anopheles
sundaicus lebih suka tempat yang teduh. Anopheles
hyrcanus spp dan Anopheles
pinctulatus spp lebih menyukai tempat yang terbuka. Anopheles barbirostis dapat
hidup baik di tempat teduh maupun yang terang.
7) Arus air
Anopheles barbirostis
menyukai perindukan yang airnya statis/mengalir lambat. Sedangkan Anopheles minimus menyukai aliran air
yang deras dan Anophelesa letifer menyukai air tergenang.
8) Kadar garam
Anopheles sundaicus
tumbuh optimal pada air payau yang kadar garamnya 12%-18% dan tidak berkembang
pada kadar garam 40% keatas. Namun di Sumatera Utara ditemukan pula perindukan
Anopheles sundaicus dalam air tawar.
b. Lingkungan
Biologik
Tumbuhan
bakau, lumut, ganggang dan berbagai tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan
larva karena ia dapat menghalangi sinar matahari atau melindungi dari serangan makhluk
hidup lainnya. Adanya berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala
timah (panchax spp), gambusia, nila, mujair dan lain-lain akan mempengaruhi
populasi nyamuk di suatu daerah. Adanya ternak seperti sapi, kerbau dan babi
dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia, apabila ternak tersebut dikandangkan
tidak jauh dari rumah (Harijanto, 2000).
c. Lingkungan
Sosial-Budaya
Kebiasaan
untuk berada di luar rumah sampai larut malam, dimana vektornya bersifat
eksofilik dan eksofagik akan memudahkan gigitan nyamuk. Tingkat kesadaran masyarakat
tentang bahaya malaria akan mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk memberantas
malaria antara lain dengan menyehatkan lingkungan, menggunakan kelambu,
memasang kawat kasa pada rumah dan menggunakan obat nyamuk. Berbagai kegiatan
manusia seperti pembuatan bendungan, pembuatan jalan, pertambangan dan
pembangunan pemukiman baru/transmigrasi sering mengakibatkan perubahan
lingkungan yang menguntungkan penularan malaria (manmade-malaria). Peperangan
dan perpindahan penduduk dapat menjadi faktor penting untuk meningkatkan
malaria. Meningkatnya pariwisata dan perjalan dari daerah endemik mengakibatkan
meningkatnya kasus malaria yang di impor (Harijanto, 2000).
D. Hubungan Host, Agen, dan Environment
Dari
keseluruhan unsur di atas, di mana hubungan interaksi antara satu dengan yang
lainnya akan menentukan proses dan arah dari proses kejadian penyakit, baik
pada perorangan, maupun dalam masyarakat. Dengan demikian maka terjadinya suatu
penyakit tidak hanya di tentukan oleh unsur penyebab semata, tetapi yang utama
adalah bagaimana rantai penyebab dan hubungan sebab akibat di pengaruhi oleh
berbagai faktor maupun unsur lainnya. Oleh karena itu, dalam setiap proses
terjadinya penyakit, selalu memikirkan adanya penyebab jamak (multiple
causational). Hal ini sangat mempengaruhi dalam menetapkan program pencegahan
maupun penanggulangan penyakit tertentu. Usaha tersebut akan memberikan hasil
yang di harapkan bila dalam perencanaannya memperhitungkan berbagai unsur di
atas (Noor, 2002).
II.
Riwayat
Alamiah Penyakit
Riwayat alamiah
penyakit merupakan perjalanan penyakit yang alami dan tanpa pengobatan apapun,
yang terjadi mulai dari keadaan sehat hingga timbul penyakit. Meskipun setiap
penyakit mempunyai riwayat alamiah yang berbeda, karena kerangka konsep yang
bersifat umum perlu dibuat untuk menjelaskan riwayat perjalanan penyakit pada
umumnya (Rajab, 2009).

Gambar 1: Bagan Riwayat Alamiah
Penyakit
Berasarkan bagan
diatas, riwayat alamiah penyakit dibagi menjadi lima kategori, yaitu:
a. Tahap
prepatogenesis: Manusia (host) masih dalam keadaan sehat namun pada saat ini
pula manusia telah terpajan dan berisiko terhadap penyakit yang ada di
sekelilingnya. Adapun penyebabnya karena telah terjadi interaksi dengan bibit
penyakit (agent), bibit penyakit belum masuk ke manusia (host), manusia masih
dalam keadaan sehat atau belum ada tanda penyakit, dan belum terdeteksi baik
secara klinis maupun laboratorium.
b. Tahap
inkubasi: tahap ini bibit penyakit telah masuk ke manusia, namun gejala belum
tampak. Jika daya tahan pejamu tidak kuat, akan terjadi gangguan pada bentuk
dan fungsi tubuh.
c. Tahap
penyakit dini: tahap ini mulai timbul gejala penyakit, sifatnya masih ringan,
dan umumnya masih dapat beraktivitas.
d. Tahap
penyakit lanjut: tahap ini penyakit makin bertambah hebat, penderita tidak
dapat beraktivitas sehingga memerlukan perawatan.
e. Tahap
akut penyakit: tahap akhir perjalanan penyakit ini, manusia berada dalam lima
keadaan yaitu sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, karrier, kronis, atau
meninggal dunia (Rajab, 2009).
Namun, ada beberapa
penyakit yang tidak sesuai dengan bagan diatas, sehingga dikenal dengan istilah
atau kejadian seperti dibawah ini:
a. Self
limiting desease: proses penyakit berhenti sendiri dan semua fungsi tubuh
normal kembali.
b. Penyakit
inapparent: penyakit yang berlangsung tanpa gejala klinis, penderita penyakit
tertentu sudah mulai menularkan penyakitnya sebelum masa inkubasi selesai
(misal campak, polio, rubella, cacar air), atau penderita penyakit tertentu
menularkan penyakitnya setelah gejala klinis muncul (misal filariasis, batuk
rejan, malaria).
c. Masa
latent: masa antara masuknya agent sampai penderita dapat menularkan
penyakitnya.
d. Periode
menular: penderita mampu menularkan penyakit ketika keadaan penderita pulih
(konvalesens) dan pulih sesudah penyakit tidak menunjukkan gejala klinis
(penderita menjadi karrier).
e. Periode
akut: penyakit berlangsung dalam waktu singkat (beberapa hari atau minggu
saja). Misalnya, influenza, rabies, cacar, atau campak.
f. Periode
kronis: penyakit ini berlangsung beberapa tahun (misal TBC, leprae, AIDS)
(Rajab, 2009).
a.
Tahap
Prepatogenesis
Pada tahap ini individu
berada dalam keadaan normal/sehat tetapi mereka pada dasarnya peka terhadap
kemungkinan terganggu oleh serangan agen penyakit. Walaupun demikian pada tahap
ini sebenarnya telah terjadi interaksi antara host dengan
bibit penyakit. Tetapi interaksi ini masih terjadi di luar tubuh, dalam arti
bibit penyakit masih ada diluar tubuh host. Pada proses
prepatogenesis penyakit malaria bisa terjadi pada orang-orang yang tinggal didaerah
malaria atau orang yang mengadakan perjalanan kedarah malaria.
Daur hidup spesies
malaria terdiri dari fase seksual (sporogoni) dalam badan nyamuk Anopheles dan
aseksual (skizogoni) dalam badan hospes vertebra termauk manusia. Tahap
prepatogenesis penyakit malaria dimulai pada fase seksual (sporogoni). Fase
seksual dimulai dengan bersatunya gamet jantan dan gamet betina untuk membentuk
ookinet dalam perut nyamuk. Ookinet akan menembus dinding lambung untuk
membentuk kista di selaput luar lambung nyamuk. (Arif et. Al., 2001). Waktu yang diperlukan sampai pada proses ini
adalah 8-35 hari, tergantung pada situasi lingkungan dan jenis parasitnya. Pada
tempat inilah kista akan membentuk ribuan sporozoit yang terlepas dan kemudian
tersebar ke seluruh organ nyamuk termasuk kelenjar ludah nyamuk. Pada kelenjar
inilah sporozoit menjadi matang dan siap ditularkan bila nyamuk menggigit
manusia (Widoyono, 2008).
b.
Tahap
Inkubasi
Masa inkubasi pada penyakit malaria beberapa hari
sampai beberapa bulan yang kemudian barulah muncul tanda dan gejala yang
dikeluhkan oleh penderita seperti demam, menggigil, linu atau nyeri persendian,
kadang sampai muntah, dll. Masa inkubasi pada penularan secara alamiah
bagi masing-masing species parasit adalah sebagai berikut, Plasmodium
Falciparum 12 hari. Plasmodium vivax dan Plasmodium Ovate 13 -17 hari.
Plasmodium maJariae 28 -30 hari (Arif et. Al., 2001).
Manusia yang
tergigit nyamuk infektif akan mengalami gejala sesuai dengan jumlah sporozoit,
kualitas plasmodium, dan daya tahan tubuhnya. Sporozoit akan memulai stadium
eksoeritrositer dengan masuk ke dalam sel hati. Di hati sporozoit matang
menjadi skizon yang akan pecah dan melepaskan merozoit jaringan. Merozoit akan
memasuki aliran darah dan menginfeksi eritrosit untuk memulai siklus
eritrositer. Merozoit dalam erotrosit akan mengalami perubahan morfologi yaitu
: merozoit -> bentuk
cincin -> trofozoit -> merozoit. Proses perubahan ini
memerlukan waktu 2-3 hari. Di antara merozoit-merozoit tersebut akan ada yang
berkembang membentuk gametosit untuk kembali memulai siklus seksual menjadi
mikrogamet (jantan) dan makrogamet (betina). Siklus tersebut disebut masa tunas instrinsik. Eritrosit yang
terinfeksi biasanya pecah yang bermanifestasi pada gejala klinis. Jika ada
nyamuk yang menggigit manusia yang terinfeksi ini, maka gametosit yang ada pada
darah manusia akan terhisap oleh nyamuk. Dengan demikian, siklus seksual pada
nyamuk dimulai, demikian seterusnya penularan malaria (Widoyono,
2008).
Masa antara permulaan
infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah tepi adalah masa prapaten,
sedangkan masa inkubasi dimulai dari masuknya sporozoit dalam badan hospes
sampai timbulnya gejala klinis. Masa prepaten tiap-tiap plasmodium
berbeda-beda. Masa prepaten P. Falcifarum
adalah 6-25 hari, P. Vivax 8-27
hari, P. Ovale 12-20 hari, dan P. Malariae 18-59 hari.
c.
Tahap
Dini/Klinis
Dikenal beberapa
kaadaan klinik dalam perjalan infeksi malaria yaitu :
- Serangan
primer (Periode Klinis)
Yaitu keadaan mulai
dari akhir masa inkubasi dan mulai terjadi serangan paroksimal yang terdiri
dari dingin/menggigil; panas dan berkeringat. Serangan paroksimal ini dapat
pendek atau panjang tergantung dari perbanyakan parasit dan keadaan imunitas
penderita.
Gejala yang biasa
terjadi adalah terjadinya “Trias
Malaria” (Malaria proxysm) secara berurutan :
- Periode
dingin
Mulai menggigil, kulit
dingin dan kering, penderita sering membungkus diri dengan selimut atau sarung
dan pada saat menggigil sering seluruh badan bergetar dan gigi-gigi saling
terantuk, pucat sampai sianosis seperti orang kedinginan. Periode ini
berlangsung 15 menit sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya temperatur.
- Periode
panas
Penderita muka merah,
kulit panas dan kering, nadi cepat, dan panas badan tetap tinggi sampai 40oC
atau lebih, penderita. Periode ini lebih lama dari fase dingin, dapat sampai 2
jam atau lebih, diikuti dengan keadaan berkeringat.
- Periode
berkeringat
Penderita berkeringat
mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh, sampai basah, temperatur turun,
penderita merasa cape dan sering tertidur. Bila penderita bangun akn merada
sehat dan dapat melakukan pekerjaan biasa (Rampengan, 2007).
- Periode
laten
Yaitu periode tanpa
gejala dan tanpa parasitemia selama terjadinya infeksi malaria. Biasanya
terjadi diantara dua keadaan paroksismal.
- Recrudescense
Yaitu berulangnya
gejala klinik dan parasitemia dalam masa 8 minggu sesudah berakhirnya serangan
primer.
- Recurrence
Yaitu berulangnya
gejala klinik atau parasitemia setelah 24 minggu berakhirnya serangan primer.
- Relapse
atau “Rechute”
Ialah berlangnya gejala
klinik atau parasitemia yang lebih lama dari wakti diantara serangan periodik
dari infeksi primer.
(Rampengan, 2007)
d.
Tahap
Lanjut
Merupakan tahap di mana
penyakit bertambah jelas dan mungkin tambah berat dengan segala kelainan
patologis dan gejalanya. Pada tahap ini penyakit sudah menunjukkan gejala dan
kelainan klinik yang jelas, sehingga diagnosis sudah relatif mudah ditegakkan.
Dan juga sudah memerlukan perlukan pengobatan. Pada penyakit malaria
tahap lanjut terjadi tergantung pada jenis atau tipe penyakit malarianya
(Widoyono, 2008).
e. Tahap
Akhir
Berakhirnya perjalanan penyakit dapat berada dalam lima pilihan keadaan,
yaitu: 1) Sembuh sempurna, yakni bibit penyakit menghilang dan tubuh
menjadi pulih, sehat kembali. 2) Sembuh dengan cacat, yakni bibit penyakit
menghilang, penyakit sudah tidak ada, tetapi tubuh tidak pulih sepenuhnya,
meninggalkan bekas gangguan yang permanen berupa cacat. 3) Karier, di mana tubuh penderita pulih kembali,
namunpenyakit masih tetap ada dalam tubuh tanpa memperlihatkan gangguan
penyakit. 4)Penyakit
tetap berlangsung secara kronik. 5) Berakhir dengan kematian
(Bustam,2002).
Pada tahap akhir
penyakit malaria dapat sembuh sempurna, sembuh karier atau pembawa, dan ada
juga yang meninggal dunia dikarenakan plasmodium yang menyerang yaitu
plasmodium falcifarum. Jenis plasmodium ini bisa menimbulkan kematian dan
merupakan penyebab infeksi terbanyak , Pada P. Falciparum dapat menyerang ke
organ tubuh dan menimbulkan kerusakan seperti pada otak, ginjal, paru, hati dan
jantung (Arif et. al., 2001).
III.
Lima
Tahap Pencegahan Penyakit (Five Level of Prevention)
Upaya pencegahan yang
dapat dilakukan akan sesuai dengan perkembangan patologis penyakit itu dari
waktu ke waktu, sehingga upaya pencegahan itu dibagi atas berbagai tingkat
sesuai dengan perjalanan penyakit.

- Masa sebelum sakit (pre patogenesis phase)
1. Mempertinggi nilai kesehatan (Health Promotion).
Promosi kesehatan
(Health Promotion) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat pertama. Sasaran
dari tahapan ini yaitu pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat
kesehatan. Hal ini juga disebut sebagai pencegahan umum yakni meningkatkan
peranan kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal, mengurangi peranan
penyebab serta derajat risiko serta meningkatkan secara optimal lingkungan yang
sehat. (Noor, 2000).
Menurut Noor (2000),
promosi kesehatan (health promotion) dalam upaya mencegah terjadinya penyakit
hipertensi dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti:
- Memberikan
penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya melakukan atau menerapkan
PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) sejak dini, guna mencegah
terjadinya atau masuknya agen-agen penyakit.
- Melakukan
seminar-seminar kesehatan bagi masyarakat tentang upaya-upaya yang dapat
dilakukan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang
optimal, seperti pola makan yang seimbang, pengurangan atau eliminasi
asupan alkohol, berhenti merokok, olahraga teratur, pengurangan berat
badan dan mengatasi stres yang baik.
2. Memberikan perlindungan khusus terhadap sesuatu
penyakit (spesific protection).
Upaya spesifik untuk mencegah terjadinya penularan penyakit tertentu,
misalnya melakukan imunisasi, peningkatan ketrampilan remaja untuk mencegah
ajakan menggunakan narkotik dan untuk menanggulangi stress dan lain-lain (Rivai,
2005).
Perlindungan khusus terhadap penyakit Tuberkulosis dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:
- Masa sakit (patogenesis phase)
3.
Mengenal dan mengetahui penyakit pada tingkat awal
serta mengadakan pengobatan yang tepat dan segera (Early diagnosis & Promt
Treatment).
Menurut Noor (2000),
diagnosis dini dan pengobatan dini (Early Diagnosis and Prompt Treatment)
merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat kedua. Sasaran dari tahap ini yaitu
bagi mereka yang menderita penyakit atau terancam akan menderita suatu
penyakit. Adapun tujuan dari pencegahan tingkat ke dua ini yaitu sebagai
berikut:
- Meluasnya
penyakit atau terjadinya tidak menular.
- Menghentikan
proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi.
- Melakukan
screening (pencarian penderita kanker serviks) melalui penerapan suatu tes
atau uji tertentu pada orang yang belum mempunyai atau menunjukkan gejala
dari suatu penyakit dengan tujuan untuk mendeteksi secara dini adanya
suatu penyakit kanker serviks.
- Melakukan
pengobatan dan perawatan penderita penyakit kanker serviks sehingga
penderita tersebut cepat mengalami pemulihan atau sembuh dari penyakitnya.
4.
Pembatasan kecacatan dan berusaha untuk
menghilangkan gangguan kemampuan bekerja yang diakibatkan sesuatu penyakit
(Disability Limitation).
Menurut Noor (2000),
pembatasan kecacatan (disability limitation) merupakan tahap pencegahan tingkat
ketiga. Adapun tujuan dari tahap ini yaitu untuk mencegah terjadinya kecacatan
dan kematian karena suatu penyebab penyakit.
5.
Rehabilitasi (Rehabilitation).
Rehabilitasi biasanya diarahkan pada individu yang telah positif
menderita kanker serviks. Penderita yang menjadi cacat karena komplikasi
penyakitnya atau karena pengobatan perlu direhabilitasi untuk mengembalikan
bentuk dan/atau fungsi organ yang cacat itu supaya penderita dapat hidup dengan
layak dan wajar di masyarakat. Rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk
penderita kanker serviks yang baru menjalani operasi contohnya seperti
melakukan gerakan-gerakan untuk membantu mengembalikan fungsi gerak dan untuk
mengurangi pembengkakan, bagi penderita yang mengalami alopesia (rambut gugur)
akibat khemoterapi dan radioterapi bisa diatasi dengan memakai wig untuk
sementara karena umumnya rambut akan tumbuh kembali
(Rivai, 2005).
Lima level pencegahan
untuk penyakit malaria adalah sebagai berikut.
Masa
sebelum sakit (pre patogenesis phase)
1) Mempertinggi nilai kesehatan (Health Promotion).
a. Memberikan edukasi tentang
pencegahan malaria kepada setiap pelancong atau petugas yang akan bekerja di
daerah endemis. Materi utama edukasi adalah mengajarkan tentang cara penularan
malaria, risiko terkena malaria, dan yang terpenting pengenalan tentang gejala
dan tanda malaria, pengobatan malaria, pengetahuan tentang upaya menghilangkan
tempat perindukan.
b. Melakukan
kegiatan sistem kewaspadaan dini, dengan memberikan penyuluhan pada masyarakat
tentang cara pencegahan malaria.
c. Proteksi
pribadi, seseorang seharusnya menghindari dari gigtan nyamuk dengan menggunakan
pakaian lengkap, tidur menggunakan kelambu, memakai obat penolak nyamuk, dan
menghindari untuk mengunjungi lokasi yang rawan malaria.
d. Modifikasi
perilaku berupa mengurangi aktivitas di luar rumah mulai senja sampai subuh di
saat nyamuk anopheles umumnya mengigit (Waiman, 2005).
2) Memberikan perlindungan khusus terhadap sesuatu
penyakit (spesific protection).
a. Pengendalian
secara mekanis yaitu dengan cara sarang atau tempat berkembang biak serangga
dimusnahkan, misalnya dengan mengeringkan genangan air yang menjadi sarang
nyamuk. Termasuk dalam pengendalian ini adalah mengurangi kontak nyamuk dengan
manusia, misalnya memberi kawat nyamuk pada jendela dan jalan angin lainnya.
b. Pengendalian
secara biologis yaitu
dilakukan dengan menggunakan makhluk hidup yang bersifat parasitik terhadap
nyamuk atau penggunaan hewan predator atau pemangsa serangga. Dengan
pengendalian secara biologis ini, penurunan populasi nyamuk terjadi secara
alami tanpa menimbulkan gangguan keseimbangan ekologi. Memelihara ikan pemangsa
jentik nyamuk, melakukan radiasi terhadap nyamuk jantan sehingga steril dan
tidak mampu membuahi nyamuk betina. Pada saat ini sudah dapat dibiakkan dan
diproduksi secara komersial berbagai mikroorganisme yang merupakan parasit
nyamuk. Bacillus thuringiensis merupakan salah satu bakteri yang banyak
digunakan, sedangkan Heterorhabditis termasuk golongan cacing nematode yang
mampu memeberantas serangga.
c. Pengendalian
secara kimiawi yaitu pengendalian
serangga mengunakan insektisida. Dengan ditemukannya berbagai jenis bahan kimia yang bersifat sebagai pembunuh
serangga yang dapat diproduksi secara besar-besaran, maka pengendalian serangga
secara kimiawi berkembang pesat (Waiman, 2005).
Masa sakit (patogenesis phase)
3)
Mengenal dan mengetahui penyakit pada tingkat awal
serta mengadakan pengobatan yang tepat dan segera (Early diagnosis & Promt
Treatment).
a. Pencarian
penderita malaria
Pencarian secara aktif
melalui skrining yaitu dengan penemuan dini penderita malaria dengan dilakukan
pengambilan slide darah dan konfirmasi diagnosis (mikroskopis dan atau RDT
(Rapid Diagnosis Test)) dan secara pasif dengan cara malakukan pencatatan dan
pelaporan kunjungan kasus malaria (Waiman, 2005).
b. Diagnosa
dini
a) Gejala
Klinis
Diagnosis malaria
sering memerlukan anamnesis yang tepat dari penderita tentang keluhan utama (demam,
menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare,
dan nyeri otot atau pegal-pegal), riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu
yang lalu ke daerah endemis malaria, riwayat tinggal di daerah endemis malaria,
riwayat sakit malaria, riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir, riwayat
mendapat transfusi darah. Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan fisik
berupa :
-
Demam (pengukuran dengan thermometer
≥37.5 °C)
-
Anemia
-
Pembesaran limpa (splenomegali) atau
hati (hepatomegali)
b) Pemeriksaan
Laboratorium
-
Pemeriksaan mikroskopis
-
Tes Diagnostik Cepat (RDT, Rapid
Diagnostic Test)
c) Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan ini
bertujuan untuk mengetahui kondisi umum penderita, meliputi pemeriksaan kadar
hemoglobin, hematokrit, jumlah leukosit, eritrosit dan trombosit. Bisa juga
dilakukan pemeriksaan kimia darah, pemeriksaan foto toraks, EKG (Electrokardiograff),
dan pemeriksaan lainnya (Waiman, 2005).
c. Pengobatan
yang tepat dan adekuat
Berbeda dengan
penyakit-penyakit yang lain, malaria tidak dapat disembuhkan meskipun dapat
diobati untuk menghilangkan gejala-gejala penyakit. Malaria menjadi penyakit
yang sangat berbahaya karena parasit dapat tinggal dalam tubuh manusia seumur
hidup (Waiman, 2005).
4)
Pembatasan kecacatan dan berusaha untuk
menghilangkan gangguan kemampuan bekerja yang diakibatkan sesuatu penyakit
(Disability Limitation).
Kematian pada malaria
pada umumnya disebabkan oleh malaria berat karena infeksi P. falciparum.
Manifestasi malaria berat dapat bervariasi dari kelainan kesadaran sampai
gangguan fungsi organ tertentu dan gangguan metabolisme. Prinsip penanganan
malaria berat :
a. Pemberian
obat malaria yang efektif sedini mungkin.
b. Penanganan
kegagalan organ seperti tindakan dialisis terhadap gangguan fungsi ginjal,
pemasangan ventilator pada gagal napas.
c. Tindakan
suportif berupa pemberian cairan serta pemantauan tanda vital untuk mencegah
memburuknya fungsi organ vital (Waiman, 2005).
5)
Rehabilitasi (Rehabilitation).
Pemulihan kondisi
penderita malaria,memberikan dukungan moril kepada penderita dan keluarga di
dalam pemulihan dari penyakit malaria, melaksanakan rujukan pada penderita yang
memerlukan pelayanan tingkat lanjut (Waiman, 2005).
DAFTAR
PUSTAKA
Bustam. 2002. Pengantar epidemiologi.
Jakarta: Rineka cipta.
Harijanto,
N. 2000.Malaria-Epidemiologi,
Patogenesis, Manifestasi Klinis & Penanganan. Jakarta: EGC.
Hiswani,
2004. Gambaran Penyakit dan Vektor Malaria di Indonesia. Sumatra
Utara: USU.
Noor, N. N. 2000. Dasar Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Oswari,
E, 2003. Penyakit dan Penanggulangannya. Cetakan V. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Panggabean,
Wilma. 2010. Karakteristik Penderita Malaria Di Kota Dumai Tahun 2005-2009. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 8-9.
Prabowo,
A., 2004. Malaria, Mencegah dan Mengatasinya. Jakarta: Puspa Swara.
Rajab.,
Wahyudin, 2009, Epidemiologi untuk
Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Rampengan.
2007. Penyakit Infeksi Pada Anak.
Jakarta: Penerbit Buku Kedoktern EGC.
Rivai,
2005, Ilmu Kesehatan Masyarakat dan
Kedokteran Pencegahan, Jurnal Mutiara Kesehatan Indonesia: Sumatera Utara,
Vol. I No. 1
Soegijanto,
S., 2004. Demam Berdarah Dengue. Surabaya: Airlangga University Press.
Soemirat,
Juli, 2010, Epidemiologi Lingkungan, Yogyakarta : Gajah Mada
Uniersity Press.
Waiman,
Sulaiman, 2005. Alternatif Penanggulangan Malaria Falciparum Resisten: Hasil
Penelusuran dan Analisis dari Beberapa Penelitian. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan,
1015-1017.
Widoyono,
2008. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pemberantasannya.
Jakarta: Erlangga Medical Series.
No comments:
Post a Comment