KANKER
SERVIKS
Kanker serviks adalah tumor ganas yang tumbuh di
daerah leher rahim (serviks), yaitu suatu daerah pada organ reproduksi wanita
yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim dan liang
senggama (vagina).Tahap awal terjadinya kanker serviks dimulai dengan
terjadinya mutasi sel secara bertahap, tetapi progresif dan akhirnya berkembang
menjadi karsinoma yang dapat menyebar melalui pembuluh darah, pembuluh limfa,
atau langsung ke organ vital lain seperti parametrium, korpus uterus, vagina,
kandung kencing, dan rektum (Mardiana, 2004).
Kanker
serviks adalah suatu penyakit kanker terbanyak kedua di seluruh dunia yang
mencapai 15% dari seluruh kanker pada wanita. Di beberapa Negara menjadi
penyebab kanker terbanyak pada wanita dengan kontribusi 20-30%. Di Negara
berkembang keganasan pada serviks merupakan penyebab kematian nomor dua. Setiap
tahun di seluruh dunia terdapat 600.000 kanker serviks invasif baru dan 300.000
kematian (Sarwono, 2006).
Penyebab
utama kanker serviks adalah infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus).
Berdasarkan data epidemiologik dapat dikatakan kanker serviks merupakan
penyakit menular seksual. Ada beberapa faktor resiko yang diperkirakan
berhubungan dengan kanker serviks, di antaranya ialah berganti-ganti pasangan,
aktivitas seksual usia sangat muda yang kesemuanya merupakan perilaku seksual
yang mempermudah infeksi patogen (Sarwono, 2006).
I.
Host, Agent dan Environment
A.
Host
(pejamu)
Menurut
Bustan (2007) host adalah
organisme, biasanya berupa manusia atau hewan yang menjadi tempat terjadinya
proses alamiah penyakit.
Faktor penentu yang ada pada host:
1.
Faktor-faktor
yangdibawa atau sudah ada sejak lahir usia, jenis kelamin, bangsa, keluarga,
daya tahan natural
2.
faktor-faktor
yang di dapat setelah dilahirkan:
- Status kesehatan umum
- Status fisiologis (keadaan fungsi tubuh seseorang)
- Status gizi
- Pengalaman sakit
- Stress atau tekanan hidup
- Kekebalan dan respons imunologis
Karakteristik Host:
1.
Resistensi:
Kemampuan dari host untuk bertahan terhadap suatu infeksi
2.
Imunitas:
Kesanggupan host untuk mengembangkan suatu respon imunologis,dapat secara
alamiah maupun diperoleh, sehingga kebal terhadap suatu penyakit.
3.
Infectiousness:
Potensi host yang terinfeksi untuk menularkan kuman yangberada alam tubuh
manusia kepada manusia dan sekitarnya.
Host untuk kanker
serviks diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Usia
Saat ini telah
diketahui di beberapa negara bahwa puncak insidensi lesi prakanker serviks
terjadi pada kelompok usia 30-39 tahun, sedangkan kejadian kanker serviks
terjadi pada usia diatas 60tahun. Di Indonesia, telah dilakukan penelitian pada
tahun 2002 mengenai puncak insidensi kanker serviks yaitu pada kelompok usia
45-54 tahun. Penelitian ain di RSCM (1997-1998) menunjukkan insidens kanker
serviks meningkat sejak usia 25-34 tahun dan dan puncaknya pada usia 35-44
tahun (Harahap, 1984).
Menurut Bensol KL, 2%
dari wanita yang berusia 40 tahun akan menderita kanker serviks dalam hidupnya.
Hal ini dimungkinkan karena perjalanan penyakit ini memerlukan waktu 7 sampai
10 tahun untuk terjadinya kanker invasif sehingga sebagian besar terjadinya
atau diketahuinya setelah berusia lanjut (Harahap, 1984).
2. Status Pernikahan
Usia kawin muda menurt
Rotkin, Chistoperson dan parker serta Barron dan Ricarht jelas berpengaruh. Rotkin menghubungkan
terjadinya karsinoma serviks dengan usia saat seorang wanita mulai aktif
berhubungan seksual, dikatakan pula olehnya karsinoma serviks cendrung timbul
bila saat mulai aktif berhungan seksual pada saat usia kurang dari 17
tahun. Lebih dijelaskan bahwa umur
antara 15-20 tahun merupakan periode yang rentan. Pada periode laten antara
coitus pertama dan terjadinya kanker serviks kurang lebih dari 30 tahun. Pada usia 20-40 tahun disebut sebagai masa
dewasa dini yang disebut juga usia produktif. Sehingga pada masa ini diharapkan
orang telah mampu untuk masalah-masalah yang dihadapi dengan tenang secara emosional,
perkembangan fisiknya maupun kemampuanya dalam hal kehamilan baik kelahiran
banyinya (Azis, 2006).
3. Tingkat Pendididikan
Pendidikan adalah
proses pengubahan sikap dan tatalaku seorang atau kelompok orang dalam dalam
usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan.Tingkat pendidikan
seseoarang yang rendah menyebabkan seseorang tidak perduli terhadap program
kesehatan yang ada, sehingga mereka tidak mengenal bahaya yang mungkin terjadi.
Walaupun ada sarana yang baik belum tentu mereka tahu menggunakannya (Azis,
2006).
Perilaku hidup sehat
sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan penduduk. Tingkat pendidikan yang
masih rendah merupakan salah satu sebab rendahnya pemahaman masyarakat terhadap
informasi kesehatan serta pembentukan perilaku sehat. Wanita yang berpendidikan
tinggi cendrung akan memperhatikan kesehatn diri dan keluarganya.
4. Merokok
Wanita perokok memiliki
2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak
merokok. Penelitian menunjukan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung
nikotin dan zat-zat lainnya yang ada
didalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan serviks disamping
merupakan ko-Karsinogen infeksi virus (Harahap, 1984).
5. Defisiensi zat gizi
Ada beberapa penelitian
yang menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan resiko
terjadinya displasia ringan dan sedang serta mungkin kuga meningkatkan
terjadinya kanker serviks pada wanita yag makanannya rendah beta karoen dan
retinol (vitamin A) (Harahap, 1984).
6. Riwayat kanker serviks pada keluarga
(keturunan)
Bila seorang wanita
mempunyai saudara kandung atau ibu yang mempunyai kanker serviks, maka ia
mempunyai kemungkinan 2-3 kali lebih besar untuk juga mempunyai kanker serviks
dibandingkan dengan orang normal. Beberapa peneliti menduga hal ini berhubungan
dengan berkurangnya kemampuan untuk melawan infeksi HPV (Harahap, 1984).
B. Agent
Agen adalah faktor esensial yang harus ada
agar penyakit dapat terjadi. Agent dapat berupa benda hidup, tidak hidup,
energi, sesuatu yang abstrak, suasana sosial, yang dalam jumlah yang berlebih
atau kurang merupakan penyebab utama/esensial dalam terjadinya penyakit
(Soemirat, 2010).
Karakteristik Agen:
1. Infektifitas: kemampuan agen untuk menyebabkan infeksi
di dalam pejamu (host) yang rentan.
2. Patogenitas: kemampuan agen untuk menimbulkan penyakit
di dalam pejamu.
3. Virulensi: ukuran keganasan atau derajat kerusakan
yang ditimbulkan bibit penyakit.
4. Antigenisiti: kemampuan agen untuk merangsang
mekanisme pertahanan tubuh pejamu (Murti, 2003).
Klasifikasi Agen:
1. Biologis: Virus, Bakteri, Jamur, Ricketsia, Protozoa,
Metazoan.
2. Kimia: Pestisida, Food-addivites, Obat-obatan, Limbah
industry, Insulin.
3. Nutrisi: Karbohidrat, Protein, Lemak, Vitamin,
Mineral, Air.
4. Mekanik: Kecelakaan jalan raya.
5. Fisik: Suhu, Radiasi, Trauma mekanis, Tekanan udara,
Kelembapan udara, Bising
Kanker serviks
disebabkan oleh infeksi yang terus menerus dari human papillomavirus (HPV) tipe
onkogenik (yang berpotensi menyebabkan kanker). Telah terbukti bahwa HPV
merupakan sebab mutlak terjadinya kanker serviks - angka prevalensi didunia
mengenai karsinoma serviks adalah 99,7 %. Human papillomavirus (HPV) adalah anggota dari papillomavirus keluarga
virus yang mampu menginfeksi manusia. Seperti semua papillomaviruses, infeksi
HPV membangun produktif hanya dalam keratinosit dari kulit atau selaput lendir
. Sementara sebagian dari hampir 200 tipe HPV yang diketahui tidak menyebabkan
gejala pada kebanyakan orang, beberapa jenis dapat menyebabkan kutil
(verrucae), sementara yang lain dapat - dalam kasus minoritas - menyebabkan
kanker serviks (Rasjidi, 2009).
C. Environment
Lingkungan adalah
segala sesuatu yang ada di luar dari host (pejamu), baik benda tidak hidup,
benda hidup, nyata atau abstrak, seperti suasana yang terbentuk akibat
interaksi semua elemen-elemen tersebut, termasuk host yang lain (Soemirat,
2010). Faktor lingkungan ini dapat
dibagi menjadi:
1.
Lingkungan
Biologis (flora & fauna)
Mikroorganisme penyebab penyakit Reservoar, penyakit
infeksi (binatang, tumbuhan). Vektor pembawa penyakit umbuhan & binatang
sebagai sumber bahan makanan, obat dan lainnya.
2.
Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik adalah yang berwujud geogarfik dan
musiman. Lingkungan fisik ini dapat bersumber dari udara, keadaan tanah,
geografis, air sebagai sumber hidup dan sebagai sumber penyakit, Zat kimia atau
polusi, radiasi, dll.
3.
Lingkungan
Sosial Ekonomi
Yang termasuk dalam faktor lingkungan sosial ekonomi
adalah sistem ekonomi yang berlaku yang mengacu pada pekerjaan sesorang dan
berdampak pada penghasilan yang akan berpengaruh pada kondisi kesehatannya.
Selain itu juga yang menjadi masalah yang cukup besar adalah terjadinya
urbanisasi yang berdampak pada masalah keadaan kepadatan penduduk rumah tangga,
sistem pelayanan kesehatan setempat, kebiasaan hidup masyarakat, bentuk organisasi
masyarakat yang kesemuanya dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan
terutama munculnya bebagai penyakit.
Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi adalah
sebagai berikut.
1. Berganti–ganti pasangan seksual
Perilau seksual berupa berganti pasangan seks akan
meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan seperti Human
Papilloma Virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker
serviks. Resiko terkena kanker serviks menjadi 10 kali lipat pada wanita yang
mempunyai patner seksual 6orang atau lebih. Di samping itu, virus herpes
simpleks tipe 2 dapat menjadi faktor pendamping (Azis, 2006).
2. Pembalut yang mengandung bahan kimia
Biasanya bahan kimia yang terkandung di dalam
pembalut adalah dioksin (bahan beracun kimia) yaitu bahan yang biasa digunakan
sebagai pemutih kertas atau sejenisnya. Pembalut yang mengandung dioksin sering
menyebabkan bagian intim organ kewanitaan selalu mengalami masalah, seperti
keputihan, gatal-gatal, iritasi, juga pemicu terjadinya kanker mulut rahim
(Azis, 2006).
D.
Hubungan
Host, Agen, dan Environment
Dari keseluruhan unsur di atas, di mana hubungan
interaksi antara satu dengan yang lainnya akan menentukan proses dan arah dari
proses kejadian penyakit, baik pada perorangan, maupun dalam masyarakat. Dengan
demikian maka terjadinya suatu penyakit tidak hanya di tentukan oleh unsur
penyebab semata, tetapi yang utama adalah bagaimana rantai penyebab dan
hubungan sebab akibat di pengaruhi oleh berbagai faktor maupun unsur lainnya.
Oleh karena itu, dalam setiap proses terjadinya penyakit, selalu memikirkan
adanya penyebab jamak (multiple causational). Hal ini sangat mempengaruhi dalam
menetapkan program pencegahan maupun penanggulangan penyakit tertentu. Usaha
tersebut akan memberikan hasil yang di harapkan bila dalam perencanaannya
memperhitungkan berbagai unsur di atas (Noor, 2002).
II.
Riwayat
Alamiah Penyakit
Riwayat alamiah
penyakit merupakan perjalanan penyakit yang alami dan tanpa pengobatan apapun,
yang terjadi mulai dari keadaan sehat hingga timbul penyakit. Meskipun setiap
penyakit mempunyai riwayat alamiah yang berbeda, karena kerangka konsep yang
bersifat umum perlu dibuat untuk menjelaskan riwayat perjalanan penyakit pada
umumnya (Rajab, 2009).
Gambar 1: Bagan
Riwayat Alamiah Penyakit
Berasarkan bagan
diatas, riwayat alamiah penyakit dibagi menjadi lima kategori, yaitu:
a. Tahap
prapatogenesis: Manusia (host) masih dalam keadaan sehat namun pada saat ini
pula manusia telah terpajan dan berisiko terhadap penyakit yang ada di sekelilingnya.
Adapun penyebabnya karena telah terjadi interaksi dengan bibit penyakit
(agent), bibit penyakit belum masuk ke manusia (host), manusia masih dalam
keadaan sehat atau belum ada tanda penyakit, dan belum terdeteksi baik secara
klinis maupun laboratorium.
b. Tahap
inkubasi: tahap ini bibit penyakit telah masuk ke manusia, namun gejala belum
tampak. Jika daya tahan pejamu tidak kuat, akan terjadi gangguan pada bentuk
dan fungsi tubuh.
c. Tahap
penyakit dini: tahap ini mulai timbul gejala penyakit, sifatnya masih ringan,
dan umumnya masih dapat beraktivitas.
d. Tahap
penyakit lanjut: tahap ini penyakit makin bertambah hebat, penderita tidak
dapat beraktivitas sehingga memerlukan perawatan.
e. Tahap
akut penyakit: tahap akhir perjalanan penyakit ini, manusia berada dalam lima
keadaan yaitu sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, karrier, kronis, atau
meninggal dunia (Rajab, 2009).
Namun, ada beberapa
penyakit yang tidak sesuai dengan bagan diatas, sehingga dikenal dengan istilah
atau kejadian seperti dibawah ini:
a. Self
limiting desease: proses penyakit berhenti sendiri dan semua fungsi tubuh
normal kembali.
b. Penyakit
inapparent: penyakit yang berlangsung tanpa gejala klinis, penderita penyakit
tertentu sudah mulai menularkan penyakitnya sebelum masa inkubasi selesai (misal
campak, polio, rubella, cacar air), atau penderita penyakit tertentu menularkan
penyakitnya setelah gejala klinis muncul (misal filariasis, batuk rejan,
malaria).
c. Masa
latent: masa antara masuknya agent sampai penderita dapat menularkan
penyakitnya.
d. Periode
menular: penderita mampu menularkan penyakit ketika keadaan penderita pulih
(konvalesens) dan pulih sesudah penyakit tidak menunjukkan gejala klinis
(penderita menjadi karrier).
e. Periode
akut: penyakit berlangsung dalam waktu singkat (beberapa hari atau minggu
saja). Misalnya, influenza, rabies, cacar, atau campak.
f. Periode
kronis: penyakit ini berlangsung beberapa tahun (misal TBC, leprae, AIDS)
(Rajab, 2009).
Riwayat
Alamiah Penyakit Kanker Serviks
Riwayat alamiah
penyakit kanker serviks adalah sebagai berikut.

Gambar 2.
menyajikan riwayat alamiah infeksi HPV dan potensi menjadi kanker
1. Prepatogenesis
Pada
fase tersebut, individu berada dalam keadaan sehat/normal. Namun, telah terjadi
interaksi antara penjamu dengan bibit penyakit di luar tubuh manusia /
lingkungan.
2. Patogenesis
a. Masa Inkubasi
Pada
masa tersebut, Human Papilloma Virus (HPV) telah masuk ke dalam tubuh hingga
menimbulkan adanya geja-gejala tertentu. Mutagen pada umumnya berasal dari
agen-agen yang ditularkan melalui hubungan seksual seperti Human Papilloma
Virus (HPV) dan Herpes Simpleks Virus Tipe 2 (HSV 2) (Rasjidi, 2009, Vol. III
No. 3). Lebih spesifik, sekitar 70 % adalah HPV tipe 16/18 yang ditularkan
melalui kontak genital. Sebagian besar kanker serviks dimulai dengan infeksi
awal oleh HPV, tetapi sebagian besar infeksi HPV tidak berkembang menjadi
kanker serviks. Infeksi awal HPV dapat berlanjut dan menjadi displasia atau
hilang dengan spontan (Bosch et al., 1994).
Sebagian
besar Ca serviks dimulai dengan infeksi awal oleh HPV, tetapi sebagian besar
infeksi HPV tidak berkembang menjadi Ca serviks. Infeksi awal HPV dapat berlanjut
dan menjadi displasia atau hilang dengan spontan. Sebagian besar wanita yang
terinfeksi HPV akan mengalami displasia tingkat rendah, disebut CIN 1 (cervical
intraepithelial neoplasia 1), dalam beberapa bulan atau tahun terinfeksi.
Sebagian besar (60%) dari CIN 1 mengalami regresi dan menghilang dengan spontan
dalam tempo 2-3 tahun terutama pada wanita usia di bawah 35 tahun. Displasia
tingkat rendah (CIN 1) perlu dimonitor tetapi tidak perlu diobati Sebagian
kecil kasus CIN 1 akan mengalami progresi menjadi displasia tingkat tinggi,
disebut CIN 2/3 (Murti, 2003).
Sekitar
15% infeksi HPV yang persisten akan berkembang menjadi CIN 2/3 dalam tempo 3-4
tahun, baik dengan atau tanpa melalui CIN 1. CIN 2/3 merupakan prekursor Ca
serviks, karena itu harus diobati. Perjalanan Ca serviks memiliki masa laten
sangat panjang, hingga 20 tahun. Risiko perkembangan dari lesi prekanker (CIN
2/3) menjadi kanker invasif adalah sekitar 30-70% (rata-rata 32 persen) dalam
tempo 10 tahun. Ca serviks paling sering terjadi pada wanita setelah usia 40
tahun, lebih-lebih wanita di usia 50 dan 60 tahunan (Parkin et al., 1997).
b. Tahap Dini
Pada
tahap dini, setelah dilakukan diagnosa akan tampak berbagai gejala / tanda
adanya kanker serviks. Seperti, keputihan, pendarahan, dan pengeluaran cairan
encer. Walaupun demikian, penderita masih bisa beraktivitas seperti biasa.
c. Tahap Lanjut
Pada
tahap lanjut, dapat ditemukan perdarahan dari kemaluan setelah melakukan
senggama (perdarahan pasca senggama), jika lebih berat lagi dapat terjadi
perdarahan yang tidak teratur (metrorhagia). Sehingga, penderita membutuhkan
perawatan dan pengobatan secara intensif (Mamik, 2000).
Pada
keadaan yang lebih lanjut dapat terjadi pengeluaran cairan kekuningan
kadang-kadang bercampur darah dan berbau sangat busuk dari liang senggama. Muka penderita tampak pucat karena terjadi
perdarahan dalam waktu yang lama. Anemia sering ditemukan sebagai akibat
perdarahan-perdarahan pervagina dan akibat penyakit, berat badan biasanya baru
menurun pada stadium klinik III (Mamik, 2000).
Rasa
nyeri di daerah pinggul atau di ulu hati dapat disebabkan oleh tumor yang
terinfeksi atau radang panggul. Rasa nyeri di daerah pinggang dan punggung
dapat terjadi karena terbendungnya saluran kemih sehingga ginjal menjadi membengkak
(hidronefrosis) atau karena penyebaran tumor kelenjer getah bening di sepanjang
tulang belakang (para aorta). Juga pada stadium lanjut dapat timbul rasa nyeri
di daerah panggul, disebabkan penyebaran tumor ke kelenjer getah bening dinding
panggul. Timbulnya perdarahan dari saluran kemih dan perdarahan dari dubur
dapat disebabkan oleh penyebaran tumor ke kandung kemih dan ke rektum (Mamik,
2000).
3. Pasca Patogenesis / Tahap Akhir
Semakin
lanjut dan bertambah parahnya penyakit, penderita kanker serviks akan menjadi
kurus, anemia, malaise, nafsu makan hilang (anoreksia), gejala uremia, syok dan
dapat sampai meninggal dunia.. Tiga puluh persen dari kanker serviks ditemukan
pada waktu Tes Pap tanpa keluhan. Kanker serviks adalah salah satu penyakit yang
tidak bisa disembuhkan. Sehingga, pada tahap ini penderita sangat membutuhkan
rehabilitasi yang maksimal (Mamik, 2000).
III.
Lima
tahap Pencegahan Penyakit (Five Level of Prevention)
Upaya
pencegahan yang dapat dilakukan akan sesuai dengan perkembangan patologis
penyakit itu dari waktu ke waktu, sehingga upaya pencegahan itu dibagi atas
berbagai tingkat sesuai dengan perjalanan penyakit.

A.
Masa sebelum sakit (pre patogenesis phase)
1. Mempertinggi nilai
kesehatan (Health Promotion).
Promosi
kesehatan (Health Promotion) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat
pertama. Sasaran dari tahapan ini yaitu pada orang sehat dengan usaha
peningkatan derajat kesehatan. Hal ini juga disebut sebagai pencegahan umum
yakni meningkatkan peranan kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal,
mengurangi peranan penyebab serta derajat risiko serta meningkatkan secara
optimal lingkungan yang sehat. (Noor, 2000).
Menurut
Noor (2000), promosi kesehatan (health promotion) dalam upaya mencegah
terjadinya penyakit hipertensi dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti:
a. Memberikan
penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya melakukan atau menerapkan PHBS
(perilaku hidup bersih dan sehat) sejak dini, guna mencegah terjadinya atau
masuknya agen-agen penyakit.
b. Melakukan
seminar-seminar kesehatan bagi masyarakat tentang upaya-upaya yang dapat
dilakukan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang optimal,
seperti pola makan yang seimbang, pengurangan atau eliminasi asupan alkohol,
berhenti merokok, olahraga teratur, pengurangan berat badan dan mengatasi stres
yang baik.
2. Memberikan perlindungan khusus terhadap sesuatu
penyakit (spesific protection).
Upaya spesifik untuk mencegah terjadinya penularan penyakit tertentu,
misalnya melakukan imunisasi, peningkatan ketrampilan remaja untuk mencegah
ajakan menggunakan narkotik dan untuk menanggulangi stress dan lain-lain (Rivai, 2005).
Perlindungan khusus terhadap penyakit Tuberkulosis dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:
B.
Masa
sakit (patogenesis phase)
3.
Mengenal dan mengetahui penyakit pada tingkat awal
serta mengadakan pengobatan yang tepat dan segera (Early diagnosis & Promt
Treatment).
Menurut
Noor (2000), diagnosis dini dan pengobatan dini (Early Diagnosis and Prompt
Treatment) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat kedua. Sasaran dari
tahap ini yaitu bagi mereka yang menderita penyakit atau terancam akan
menderita suatu penyakit. Adapun tujuan dari pencegahan tingkat ke dua ini
yaitu sebagai berikut:
a. Meluasnya
penyakit atau terjadinya tidak menular.
b. Menghentikan
proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi.
c. Melakukan
screening (pencarian penderita kanker serviks) melalui penerapan suatu tes atau
uji tertentu pada orang yang belum mempunyai atau menunjukkan gejala dari suatu
penyakit dengan tujuan untuk mendeteksi secara dini adanya suatu penyakit
kanker serviks.
d. Melakukan
pengobatan dan perawatan penderita penyakit kanker serviks sehingga penderita
tersebut cepat mengalami pemulihan atau sembuh dari penyakitnya.
4.
Pembatasan kecacatan dan berusaha untuk
menghilangkan gangguan kemampuan bekerja yang diakibatkan sesuatu penyakit
(Disability Limitation).
Menurut
Noor (2000), pembatasan kecacatan (disability limitation) merupakan tahap
pencegahan tingkat ketiga. Adapun tujuan dari tahap ini yaitu untuk mencegah
terjadinya kecacatan dan kematian karena suatu penyebab penyakit.
5.
Rehabilitasi (Rehabilitation).
Rehabilitasi biasanya diarahkan pada individu yang telah positif
menderita kanker serviks. Penderita yang menjadi cacat karena komplikasi
penyakitnya atau karena pengobatan perlu direhabilitasi untuk mengembalikan
bentuk dan/atau fungsi organ yang cacat itu supaya penderita dapat hidup dengan
layak dan wajar di masyarakat. Rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk
penderita kanker serviks yang baru menjalani operasi contohnya seperti
melakukan gerakan-gerakan untuk membantu mengembalikan fungsi gerak dan untuk
mengurangi pembengkakan, bagi penderita yang mengalami alopesia (rambut gugur)
akibat khemoterapi dan radioterapi bisa diatasi dengan memakai wig untuk
sementara karena umumnya rambut akan tumbuh kembali
(Rivai, 2005).
Tabel 1. Riwayat alamiah Penyakit & 5 Tingkat Pencegahan
dalam Epidemiologi Penyakit Kanker Serviks
|
RAP (Natural of Occupational Disease)
|
5 Level of Prevention
|
Sasaran
|
Rencana Tindakan
|
|
Patogenesis (Masa sebelum sakit)
|
Promosi Kesehatan (Health Promotion)
|
Host
|
a.
Promosi
kesehatan pentingnya menjaga dan meningkatkan kesehatan, khususnya masalah
kesehatan reproduksi.
b.
Promosi
tentang pentingnya penggunaan alat pengaman (kondom) pada saat berhubungan
seks (suami-istri). Serta pentingnya pemilihan dan penggunaan alat
kontrasepsi (misalnya IUD).
c.
Promosi
kesehatan tentang pentingnya pendidikan seks bagi remaja.
d.
Mengonsumsi
makanan yang bergizi.
e.
Tidak merokok.
|
|
Agent
|
a.
Tidak
menggunakan pembalut dan pembersih alat reproduksi yang menggunakan bahan
kimia berbahaya.
b.
Menghindari
penggunaan talk pada alat reproduksi.
|
||
|
Environment
|
Menjaga kebersihan sanitasi air.
|
||
|
Patogenesis
|
|||
|
(Masa Inkubasi) / Early pathogenesis
|
Spesific Protection
|
Host
|
a.
Pemberian
vaksin HPV yang terdiri dari 2 jenis yaitu tipe 16 dan 18.
b.
Tidak berganti-ganti
pasangan.
|
|
Agent
|
Menggunakan alat pengaman (kondom) pada saat
berhubungan seks (suami-istri).
|
||
|
Environment
|
Menjaga sanitasi lingkungan.
|
||
|
Tahap dini / demonstrable but early disease
|
Early Diagnosis & Prompt Treatment
|
Host
|
a.
Screening
penderita kanker serviks (see and treat) seperti tes pa, tes IVA –
inspeksi visual dengan aplikasi asam asetat, tes HPV.
b.
Pemeriksaan
secara rutin.
|
|
Agent
|
a.
Mendeteksi
penyebab penyakit.
b.
Tidak menggunakan alat kontrasepsi yang
tidak cocok.
c.
Tidak
menggunakan pembalut yang berbahaya.
|
||
|
Environment
|
a.
Mendeteksi kebersihan
lingkungan (misalnya sumber air bersih).
b.
Mendeteksi
adanya PMS yang diderita oleh pasangan (suami).
|
||
|
Tahap lanjut / advance or manifest disease
|
Host
|
a.
Perawatan
penderita sesuai tingkatan penyakit yang dideritanya.
b.
Tidak berhubungan seks (suami-istri).
|
|
|
Agent
|
Tidak menggunakan antiseptic yang berbahaya.
|
||
|
Environment
|
Tidak berhubungan seks (suami-istri).
|
||
|
Tahap akhir / convalcense
|
Limitation Disability
|
Host
|
a.
Operasi
(bedah)
b.
Radioterapi
c.
Khemoterapi
|
|
Agent
|
Tidak menggunakan antiseptic yang berbahaya.
|
||
|
Environment
|
Tidak berhubungan seks (suami-istri).
|
||
|
Pasca pathogenesis / convalcense :
Karier
Cacat
Kronis
Meninggal / Rest in Peace (RIP)
|
Rehabilitation
|
Host
|
a.
Melakukan
gerakan-gerakan untuk membantu mengembalikan fungsi gerak dan untuk
mengurangi pembengkakan.
b.
Pemeliharaan kesehatan secara maksimal.
c.
Bagi penderita yang mengalami alopesia
(rambut gugur) akibat khemoterapi dan radioterapi bisa diatasi dengan memakai
wig untuk sementara karena umumnya rambut akan tumbuh kembali.
|
|
Agent
|
Tidak menggunakan antiseptic yang berbahaya.
|
||
|
Environment
|
a.
Menggunakan
sumber air bersih.
b.
Mengonsumsi
makanan yang bergizi.
|
DAFTAR PUSTAKA
Azis,
F, dkk., 2006. Kanker Serviks Uterus. Cermin Dunia Kedokteran No.36, Jakarta
Bosch., et al, 1994, Screening Tropical Maize Population to
Obtain Semiexsotic,
Forage
Hybirds, Crops Science
Bustan, M.N,
2007. Epidemiologi Penyakit Tidak
Menular. Jakarta: Rineka Cipta.
Dalimartha, Setiawan., 2004, Deteksi Dini Kanker dan Simplisia Antikanker.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Harahap,
R.E., 1984, Neoplasia Intraepitel Pada
Kanker Serviks (NIS), Pendekatan Ilmiah : Pencegahan Kanker Rahim. Jakarta:
UI-Press.
Murti.,
Bhisma, 2003, Prinsip dan Metode Riset
Epidemiologi, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Mamik, Wibowo Arief. 2000, Kelangsungan
Hidup Kanker Leher Rahim. Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga.
Noor, N. N. 2000. Dasar Epidemiologi.
Jakarta: Rineka Cipta.
Parkin DM., et al, 1997, Cancer Incidence In Five Continets Vol. 7,
IARC
Scientific
Publication No.143, LYON, France
Rajab., Wahyudin, 2009, Epidemiologi untuk Mahasiswa Kebidanan,
Jakarta: Penerbit
Buku
Kedokteran EGC.
Rasjidi., Imam, 2009, Epidemiologi Kanker Serviks, Indonesian
Jornal of Cancer:
Tangerang, Vol III No. 3.
Rivai, 2005, Ilmu
Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan, Jurnal Mutiara Kesehatan
Indonesia: Sumatera Utara, Vol. I No. 1.
Sarwono, 2010. Psikologi Remaja. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Soemirat, Juli, 2010. Epidemiologi Lingkungan,
Yogyakarta : Gajah Mada
Uniersity Press.
No comments:
Post a Comment