Pages - Menu

Sunday, 24 May 2015

Makalah Kanker Serviks

KANKER SERVIKS

Kanker serviks adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah leher rahim (serviks), yaitu suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim dan liang senggama (vagina).Tahap awal terjadinya kanker serviks dimulai dengan terjadinya mutasi sel secara bertahap, tetapi progresif dan akhirnya berkembang menjadi karsinoma yang dapat menyebar melalui pembuluh darah, pembuluh limfa, atau langsung ke organ vital lain seperti parametrium, korpus uterus, vagina, kandung kencing, dan rektum (Mardiana, 2004).
 Kanker serviks adalah suatu penyakit kanker terbanyak kedua di seluruh dunia yang mencapai 15% dari seluruh kanker pada wanita. Di beberapa Negara menjadi penyebab kanker terbanyak pada wanita dengan kontribusi 20-30%. Di Negara berkembang keganasan pada serviks merupakan penyebab kematian nomor dua. Setiap tahun di seluruh dunia terdapat 600.000 kanker serviks invasif baru dan 300.000 kematian (Sarwono, 2006).

 Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus). Berdasarkan data epidemiologik dapat dikatakan kanker serviks merupakan penyakit menular seksual. Ada beberapa faktor resiko yang diperkirakan berhubungan dengan kanker serviks, di antaranya ialah berganti-ganti pasangan, aktivitas seksual usia sangat muda yang kesemuanya merupakan perilaku seksual yang mempermudah infeksi patogen (Sarwono, 2006).

I.            Host, Agent dan Environment
A.    Host (pejamu)
Menurut Bustan (2007) host adalah organisme, biasanya berupa manusia atau hewan yang menjadi tempat terjadinya proses alamiah penyakit.
Faktor penentu yang ada pada host:
1.      Faktor-faktor yangdibawa atau sudah ada sejak lahir usia, jenis kelamin, bangsa, keluarga, daya tahan natural
2.      faktor-faktor yang di dapat setelah dilahirkan:
- Status kesehatan umum
- Status fisiologis (keadaan fungsi tubuh seseorang)
- Status gizi
- Pengalaman sakit
- Stress atau tekanan hidup
- Kekebalan dan respons imunologis
Karakteristik Host:
1.      Resistensi: Kemampuan dari host untuk bertahan terhadap suatu infeksi
2.      Imunitas: Kesanggupan host untuk mengembangkan suatu respon imunologis,dapat secara alamiah maupun diperoleh, sehingga kebal terhadap suatu penyakit.
3.      Infectiousness: Potensi host yang terinfeksi untuk menularkan kuman yangberada alam tubuh manusia kepada manusia dan sekitarnya.
Host untuk kanker serviks diantaranya adalah sebagai berikut.
1.    Usia
Saat ini telah diketahui di beberapa negara bahwa puncak insidensi lesi prakanker serviks terjadi pada kelompok usia 30-39 tahun, sedangkan kejadian kanker serviks terjadi pada usia diatas 60tahun. Di Indonesia, telah dilakukan penelitian pada tahun 2002 mengenai puncak insidensi kanker serviks yaitu pada kelompok usia 45-54 tahun. Penelitian ain di RSCM (1997-1998) menunjukkan insidens kanker serviks meningkat sejak usia 25-34 tahun dan dan puncaknya pada usia 35-44 tahun (Harahap, 1984).
Menurut Bensol KL, 2% dari wanita yang berusia 40 tahun akan menderita kanker serviks dalam hidupnya. Hal ini dimungkinkan karena perjalanan penyakit ini memerlukan waktu 7 sampai 10 tahun untuk terjadinya kanker invasif sehingga sebagian besar terjadinya atau diketahuinya setelah berusia lanjut (Harahap, 1984).
2.    Status Pernikahan
Usia kawin muda menurt Rotkin, Chistoperson dan parker serta Barron dan Ricarht  jelas berpengaruh. Rotkin menghubungkan terjadinya karsinoma serviks dengan usia saat seorang wanita mulai aktif berhubungan seksual, dikatakan pula olehnya karsinoma serviks cendrung timbul bila saat mulai aktif berhungan seksual pada saat usia kurang dari 17 tahun.  Lebih dijelaskan bahwa umur antara 15-20 tahun merupakan periode yang rentan. Pada periode laten antara coitus pertama dan terjadinya kanker serviks kurang lebih dari 30 tahun.  Pada usia 20-40 tahun disebut sebagai masa dewasa dini yang disebut juga usia produktif. Sehingga pada masa ini diharapkan orang telah mampu untuk masalah-masalah yang dihadapi dengan tenang secara emosional, perkembangan fisiknya maupun kemampuanya dalam hal kehamilan baik kelahiran banyinya (Azis, 2006).
3.    Tingkat Pendididikan
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seorang atau kelompok orang dalam dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan.Tingkat pendidikan seseoarang yang rendah menyebabkan seseorang tidak perduli terhadap program kesehatan yang ada, sehingga mereka tidak mengenal bahaya yang mungkin terjadi. Walaupun ada sarana yang baik belum tentu mereka tahu menggunakannya (Azis, 2006).
Perilaku hidup sehat sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan penduduk. Tingkat pendidikan yang masih rendah merupakan salah satu sebab rendahnya pemahaman masyarakat terhadap informasi kesehatan serta pembentukan perilaku sehat. Wanita yang berpendidikan tinggi cendrung akan memperhatikan kesehatn diri dan keluarganya.
4.    Merokok
Wanita perokok memiliki 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian menunjukan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat  lainnya yang ada didalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan serviks disamping merupakan ko-Karsinogen infeksi virus (Harahap, 1984).
5.    Defisiensi zat gizi
Ada beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan resiko terjadinya displasia ringan dan sedang serta mungkin kuga meningkatkan terjadinya kanker serviks pada wanita yag makanannya rendah beta karoen dan retinol (vitamin A) (Harahap, 1984).
6.    Riwayat kanker serviks pada keluarga (keturunan)
Bila seorang wanita mempunyai saudara kandung atau ibu yang mempunyai kanker serviks, maka ia mempunyai kemungkinan 2-3 kali lebih besar untuk juga mempunyai kanker serviks dibandingkan dengan orang normal. Beberapa peneliti menduga hal ini berhubungan dengan berkurangnya kemampuan untuk melawan infeksi HPV (Harahap, 1984).

B.     Agent
Agen adalah faktor esensial yang harus ada agar penyakit dapat terjadi. Agent dapat berupa benda hidup, tidak hidup, energi, sesuatu yang abstrak, suasana sosial, yang dalam jumlah yang berlebih atau kurang merupakan penyebab utama/esensial dalam terjadinya penyakit (Soemirat, 2010).
Karakteristik Agen:
1.      Infektifitas: kemampuan agen untuk menyebabkan infeksi di dalam pejamu (host) yang rentan.
2.      Patogenitas: kemampuan agen untuk menimbulkan penyakit di dalam pejamu.
3.      Virulensi: ukuran keganasan atau derajat kerusakan yang ditimbulkan bibit penyakit.
4.      Antigenisiti: kemampuan agen untuk merangsang mekanisme pertahanan tubuh pejamu (Murti, 2003).
Klasifikasi Agen:
1.      Biologis: Virus, Bakteri, Jamur, Ricketsia, Protozoa, Metazoan.
2.      Kimia: Pestisida, Food-addivites, Obat-obatan, Limbah industry, Insulin.
3.      Nutrisi: Karbohidrat, Protein, Lemak, Vitamin, Mineral, Air.
4.      Mekanik: Kecelakaan jalan raya.
5.      Fisik: Suhu, Radiasi, Trauma mekanis, Tekanan udara, Kelembapan udara, Bising
Kanker serviks disebabkan oleh infeksi yang terus menerus dari human papillomavirus (HPV) tipe onkogenik (yang berpotensi menyebabkan kanker). Telah terbukti bahwa HPV merupakan sebab mutlak terjadinya kanker serviks - angka prevalensi didunia mengenai karsinoma serviks adalah 99,7 %. Human papillomavirus (HPV)  adalah anggota dari papillomavirus keluarga virus yang mampu menginfeksi manusia. Seperti semua papillomaviruses, infeksi HPV membangun produktif hanya dalam keratinosit dari kulit atau selaput lendir . Sementara sebagian dari hampir 200 tipe HPV yang diketahui tidak menyebabkan gejala pada kebanyakan orang, beberapa jenis dapat menyebabkan kutil (verrucae), sementara yang lain dapat - dalam kasus minoritas - menyebabkan kanker serviks (Rasjidi, 2009).
C.    Environment
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di luar dari host (pejamu), baik benda tidak hidup, benda hidup, nyata atau abstrak, seperti suasana yang terbentuk akibat interaksi semua elemen-elemen tersebut, termasuk host yang lain (Soemirat, 2010). Faktor lingkungan ini dapat dibagi menjadi:
1.      Lingkungan Biologis (flora & fauna)
Mikroorganisme penyebab penyakit Reservoar, penyakit infeksi (binatang, tumbuhan). Vektor pembawa penyakit umbuhan & binatang sebagai sumber bahan makanan, obat dan lainnya.
2.      Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik adalah yang berwujud geogarfik dan musiman. Lingkungan fisik ini dapat bersumber dari udara, keadaan tanah, geografis, air sebagai sumber hidup dan sebagai sumber penyakit, Zat kimia atau polusi, radiasi, dll.
3.      Lingkungan Sosial Ekonomi
Yang termasuk dalam faktor lingkungan sosial ekonomi adalah sistem ekonomi yang berlaku yang mengacu pada pekerjaan sesorang dan berdampak pada penghasilan yang akan berpengaruh pada kondisi kesehatannya. Selain itu juga yang menjadi masalah yang cukup besar adalah terjadinya urbanisasi yang berdampak pada masalah keadaan kepadatan penduduk rumah tangga, sistem pelayanan kesehatan setempat, kebiasaan hidup masyarakat, bentuk organisasi masyarakat yang kesemuanya dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan terutama munculnya bebagai penyakit.
Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi adalah sebagai berikut.
1.    Berganti–ganti pasangan seksual
Perilau seksual berupa berganti pasangan seks akan meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan seperti Human Papilloma Virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker serviks. Resiko terkena kanker serviks menjadi 10 kali lipat pada wanita yang mempunyai patner seksual 6orang atau lebih. Di samping itu, virus herpes simpleks tipe 2 dapat menjadi faktor pendamping (Azis, 2006).
2.    Pembalut yang mengandung bahan kimia
Biasanya bahan kimia yang terkandung di dalam pembalut adalah dioksin (bahan beracun kimia) yaitu bahan yang biasa digunakan sebagai pemutih kertas atau sejenisnya. Pembalut yang mengandung dioksin sering menyebabkan bagian intim organ kewanitaan selalu mengalami masalah, seperti keputihan, gatal-gatal, iritasi, juga pemicu terjadinya kanker mulut rahim (Azis, 2006).
D.     Hubungan Host, Agen, dan Environment
Dari keseluruhan unsur di atas, di mana hubungan interaksi antara satu dengan yang lainnya akan menentukan proses dan arah dari proses kejadian penyakit, baik pada perorangan, maupun dalam masyarakat. Dengan demikian maka terjadinya suatu penyakit tidak hanya di tentukan oleh unsur penyebab semata, tetapi yang utama adalah bagaimana rantai penyebab dan hubungan sebab akibat di pengaruhi oleh berbagai faktor maupun unsur lainnya. Oleh karena itu, dalam setiap proses terjadinya penyakit, selalu memikirkan adanya penyebab jamak (multiple causational). Hal ini sangat mempengaruhi dalam menetapkan program pencegahan maupun penanggulangan penyakit tertentu. Usaha tersebut akan memberikan hasil yang di harapkan bila dalam perencanaannya memperhitungkan berbagai unsur di atas (Noor, 2002).

II.            Riwayat Alamiah Penyakit
Riwayat alamiah penyakit merupakan perjalanan penyakit yang alami dan tanpa pengobatan apapun, yang terjadi mulai dari keadaan sehat hingga timbul penyakit. Meskipun setiap penyakit mempunyai riwayat alamiah yang berbeda, karena kerangka konsep yang bersifat umum perlu dibuat untuk menjelaskan riwayat perjalanan penyakit pada umumnya (Rajab, 2009).
Gambar 1: Bagan Riwayat Alamiah Penyakit
Berasarkan bagan diatas, riwayat alamiah penyakit dibagi menjadi lima kategori, yaitu:
a.    Tahap prapatogenesis: Manusia (host) masih dalam keadaan sehat namun pada saat ini pula manusia telah terpajan dan berisiko terhadap penyakit yang ada di sekelilingnya. Adapun penyebabnya karena telah terjadi interaksi dengan bibit penyakit (agent), bibit penyakit belum masuk ke manusia (host), manusia masih dalam keadaan sehat atau belum ada tanda penyakit, dan belum terdeteksi baik secara klinis maupun laboratorium.
b.   Tahap inkubasi: tahap ini bibit penyakit telah masuk ke manusia, namun gejala belum tampak. Jika daya tahan pejamu tidak kuat, akan terjadi gangguan pada bentuk dan fungsi tubuh.
c.    Tahap penyakit dini: tahap ini mulai timbul gejala penyakit, sifatnya masih ringan, dan umumnya masih dapat beraktivitas.
d.   Tahap penyakit lanjut: tahap ini penyakit makin bertambah hebat, penderita tidak dapat beraktivitas sehingga memerlukan perawatan.
e.    Tahap akut penyakit: tahap akhir perjalanan penyakit ini, manusia berada dalam lima keadaan yaitu sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, karrier, kronis, atau meninggal dunia (Rajab, 2009).
Namun, ada beberapa penyakit yang tidak sesuai dengan bagan diatas, sehingga dikenal dengan istilah atau kejadian seperti dibawah ini:
a.    Self limiting desease: proses penyakit berhenti sendiri dan semua fungsi tubuh normal kembali.
b.   Penyakit inapparent: penyakit yang berlangsung tanpa gejala klinis, penderita penyakit tertentu sudah mulai menularkan penyakitnya sebelum masa inkubasi selesai (misal campak, polio, rubella, cacar air), atau penderita penyakit tertentu menularkan penyakitnya setelah gejala klinis muncul (misal filariasis, batuk rejan, malaria).
c.    Masa latent: masa antara masuknya agent sampai penderita dapat menularkan penyakitnya.
d.   Periode menular: penderita mampu menularkan penyakit ketika keadaan penderita pulih (konvalesens) dan pulih sesudah penyakit tidak menunjukkan gejala klinis (penderita menjadi karrier).
e.    Periode akut: penyakit berlangsung dalam waktu singkat (beberapa hari atau minggu saja). Misalnya, influenza, rabies, cacar, atau campak.
f.    Periode kronis: penyakit ini berlangsung beberapa tahun (misal TBC, leprae, AIDS) (Rajab, 2009).
Riwayat Alamiah Penyakit Kanker Serviks
Riwayat alamiah penyakit kanker serviks adalah sebagai berikut.










Gambar 2. menyajikan riwayat alamiah infeksi HPV dan potensi menjadi kanker

1.     Prepatogenesis
Pada fase tersebut, individu berada dalam keadaan sehat/normal. Namun, telah terjadi interaksi antara penjamu dengan bibit penyakit di luar tubuh manusia / lingkungan. 
2.    Patogenesis
a.    Masa Inkubasi
Pada masa tersebut, Human Papilloma Virus (HPV) telah masuk ke dalam tubuh hingga menimbulkan adanya geja-gejala tertentu. Mutagen pada umumnya berasal dari agen-agen yang ditularkan melalui hubungan seksual seperti Human Papilloma Virus (HPV) dan Herpes Simpleks Virus Tipe 2 (HSV 2) (Rasjidi, 2009, Vol. III No. 3). Lebih spesifik, sekitar 70 % adalah HPV tipe 16/18 yang ditularkan melalui kontak genital. Sebagian besar kanker serviks dimulai dengan infeksi awal oleh HPV, tetapi sebagian besar infeksi HPV tidak berkembang menjadi kanker serviks. Infeksi awal HPV dapat berlanjut dan menjadi displasia atau hilang dengan spontan (Bosch et al., 1994).
Sebagian besar Ca serviks dimulai dengan infeksi awal oleh HPV, tetapi sebagian besar infeksi HPV tidak berkembang menjadi Ca serviks. Infeksi awal HPV dapat berlanjut dan menjadi displasia atau hilang dengan spontan. Sebagian besar wanita yang terinfeksi HPV akan mengalami displasia tingkat rendah, disebut CIN 1 (cervical intraepithelial neoplasia 1), dalam beberapa bulan atau tahun terinfeksi. Sebagian besar (60%) dari CIN 1 mengalami regresi dan menghilang dengan spontan dalam tempo 2-3 tahun terutama pada wanita usia di bawah 35 tahun. Displasia tingkat rendah (CIN 1) perlu dimonitor tetapi tidak perlu diobati Sebagian kecil kasus CIN 1 akan mengalami progresi menjadi displasia tingkat tinggi, disebut CIN 2/3 (Murti, 2003).
Sekitar 15% infeksi HPV yang persisten akan berkembang menjadi CIN 2/3 dalam tempo 3-4 tahun, baik dengan atau tanpa melalui CIN 1. CIN 2/3 merupakan prekursor Ca serviks, karena itu harus diobati. Perjalanan Ca serviks memiliki masa laten sangat panjang, hingga 20 tahun. Risiko perkembangan dari lesi prekanker (CIN 2/3) menjadi kanker invasif adalah sekitar 30-70% (rata-rata 32 persen) dalam tempo 10 tahun. Ca serviks paling sering terjadi pada wanita setelah usia 40 tahun, lebih-lebih wanita di usia 50 dan 60 tahunan (Parkin et al., 1997).
b.    Tahap Dini
Pada tahap dini, setelah dilakukan diagnosa akan tampak berbagai gejala / tanda adanya kanker serviks. Seperti, keputihan, pendarahan, dan pengeluaran cairan encer. Walaupun demikian, penderita masih bisa beraktivitas seperti biasa.
c.    Tahap Lanjut
Pada tahap lanjut, dapat ditemukan perdarahan dari kemaluan setelah melakukan senggama (perdarahan pasca senggama), jika lebih berat lagi dapat terjadi perdarahan yang tidak teratur (metrorhagia). Sehingga, penderita membutuhkan perawatan dan pengobatan secara intensif (Mamik, 2000).
Pada keadaan yang lebih lanjut dapat terjadi pengeluaran cairan kekuningan kadang-kadang bercampur darah dan berbau sangat busuk dari liang senggama.  Muka penderita tampak pucat karena terjadi perdarahan dalam waktu yang lama. Anemia sering ditemukan sebagai akibat perdarahan-perdarahan pervagina dan akibat penyakit, berat badan biasanya baru menurun pada stadium klinik III (Mamik, 2000).
Rasa nyeri di daerah pinggul atau di ulu hati dapat disebabkan oleh tumor yang terinfeksi atau radang panggul. Rasa nyeri di daerah pinggang dan punggung dapat terjadi karena terbendungnya saluran kemih sehingga ginjal menjadi membengkak (hidronefrosis) atau karena penyebaran tumor kelenjer getah bening di sepanjang tulang belakang (para aorta). Juga pada stadium lanjut dapat timbul rasa nyeri di daerah panggul, disebabkan penyebaran tumor ke kelenjer getah bening dinding panggul. Timbulnya perdarahan dari saluran kemih dan perdarahan dari dubur dapat disebabkan oleh penyebaran tumor ke kandung kemih dan ke rektum (Mamik, 2000).
3.    Pasca Patogenesis / Tahap Akhir
Semakin lanjut dan bertambah parahnya penyakit, penderita kanker serviks akan menjadi kurus, anemia, malaise, nafsu makan hilang (anoreksia), gejala uremia, syok dan dapat sampai meninggal dunia.. Tiga puluh persen dari kanker serviks ditemukan pada waktu Tes Pap tanpa keluhan. Kanker serviks adalah salah satu penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Sehingga, pada tahap ini penderita sangat membutuhkan rehabilitasi yang maksimal (Mamik, 2000).

III.            Lima tahap Pencegahan Penyakit (Five Level of Prevention)

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan akan sesuai dengan perkembangan patologis penyakit itu dari waktu ke waktu, sehingga upaya pencegahan itu dibagi atas berbagai tingkat sesuai dengan perjalanan penyakit.





A.    Masa sebelum sakit (pre patogenesis phase)
1.      Mempertinggi nilai kesehatan (Health Promotion).
Promosi kesehatan (Health Promotion) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat pertama. Sasaran dari tahapan ini yaitu pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan. Hal ini juga disebut sebagai pencegahan umum yakni meningkatkan peranan kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal, mengurangi peranan penyebab serta derajat risiko serta meningkatkan secara optimal lingkungan yang sehat. (Noor, 2000).
Menurut Noor (2000), promosi kesehatan (health promotion) dalam upaya mencegah terjadinya penyakit hipertensi dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti:
a.       Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya melakukan atau menerapkan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) sejak dini, guna mencegah terjadinya atau masuknya agen-agen penyakit.
b.      Melakukan seminar-seminar kesehatan bagi masyarakat tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, seperti pola makan yang seimbang, pengurangan atau eliminasi asupan alkohol, berhenti merokok, olahraga teratur, pengurangan berat badan dan mengatasi stres yang baik.
2.      Memberikan perlindungan khusus terhadap sesuatu penyakit (spesific protection).
Upaya spesifik untuk mencegah terjadinya penularan penyakit tertentu, misalnya melakukan imunisasi, peningkatan ketrampilan remaja untuk mencegah ajakan menggunakan narkotik dan untuk menanggulangi stress dan lain-lain (Rivai, 2005).
Perlindungan khusus terhadap penyakit Tuberkulosis dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:
B.     Masa sakit (patogenesis phase)
3.      Mengenal dan mengetahui penyakit pada tingkat awal serta mengadakan pengobatan yang tepat dan segera (Early diagnosis & Promt Treatment).
Menurut Noor (2000), diagnosis dini dan pengobatan dini (Early Diagnosis and Prompt Treatment) merupakan upaya pencegahan penyakit tingkat kedua. Sasaran dari tahap ini yaitu bagi mereka yang menderita penyakit atau terancam akan menderita suatu penyakit. Adapun tujuan dari pencegahan tingkat ke dua ini yaitu sebagai berikut:
a.       Meluasnya penyakit atau terjadinya tidak menular.
b.      Menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi.
c.       Melakukan screening (pencarian penderita kanker serviks) melalui penerapan suatu tes atau uji tertentu pada orang yang belum mempunyai atau menunjukkan gejala dari suatu penyakit dengan tujuan untuk mendeteksi secara dini adanya suatu penyakit kanker serviks.
d.      Melakukan pengobatan dan perawatan penderita penyakit kanker serviks sehingga penderita tersebut cepat mengalami pemulihan atau sembuh dari penyakitnya.
4.      Pembatasan kecacatan dan berusaha untuk menghilangkan gangguan kemampuan bekerja yang diakibatkan sesuatu penyakit (Disability Limitation).
Menurut Noor (2000), pembatasan kecacatan (disability limitation) merupakan tahap pencegahan tingkat ketiga. Adapun tujuan dari tahap ini yaitu untuk mencegah terjadinya kecacatan dan kematian karena suatu penyebab penyakit.
5.      Rehabilitasi (Rehabilitation).
Rehabilitasi biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita kanker serviks. Penderita yang menjadi cacat karena komplikasi penyakitnya atau karena pengobatan perlu direhabilitasi untuk mengembalikan bentuk dan/atau fungsi organ yang cacat itu supaya penderita dapat hidup dengan layak dan wajar di masyarakat. Rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk penderita kanker serviks yang baru menjalani operasi contohnya seperti melakukan gerakan-gerakan untuk membantu mengembalikan fungsi gerak dan untuk mengurangi pembengkakan, bagi penderita yang mengalami alopesia (rambut gugur) akibat khemoterapi dan radioterapi bisa diatasi dengan memakai  wig untuk sementara karena umumnya rambut akan tumbuh kembali (Rivai, 2005).

Tabel 1. Riwayat alamiah Penyakit & 5 Tingkat Pencegahan dalam Epidemiologi Penyakit Kanker Serviks
RAP (Natural of Occupational Disease)
5 Level of Prevention
Sasaran
Rencana Tindakan
Patogenesis (Masa sebelum sakit)
Promosi Kesehatan (Health Promotion)
Host
a.       Promosi kesehatan pentingnya menjaga dan meningkatkan kesehatan, khususnya masalah kesehatan reproduksi.
b.      Promosi tentang pentingnya penggunaan alat pengaman (kondom) pada saat berhubungan seks (suami-istri). Serta pentingnya pemilihan dan penggunaan alat kontrasepsi (misalnya IUD).
c.       Promosi kesehatan tentang pentingnya pendidikan seks bagi remaja.
d.      Mengonsumsi makanan yang bergizi.
e.       Tidak merokok.
Agent
a.       Tidak menggunakan pembalut dan pembersih alat reproduksi yang menggunakan bahan kimia berbahaya.
b.      Menghindari penggunaan talk pada alat reproduksi.
Environment
Menjaga kebersihan sanitasi air.
Patogenesis
(Masa Inkubasi) / Early pathogenesis
Spesific Protection
Host
a.       Pemberian vaksin HPV yang terdiri dari 2 jenis yaitu tipe 16 dan 18.
b.      Tidak berganti-ganti pasangan.
Agent
Menggunakan alat pengaman (kondom) pada saat berhubungan seks (suami-istri).
Environment
Menjaga sanitasi lingkungan.
Tahap dini / demonstrable but early disease
Early Diagnosis & Prompt Treatment
Host
a.       Screening penderita kanker serviks (see and treat) seperti tes pa, tes IVA – inspeksi visual dengan aplikasi asam asetat, tes HPV.
b.      Pemeriksaan secara rutin.
Agent
a.       Mendeteksi penyebab penyakit.
b.       Tidak menggunakan alat kontrasepsi yang tidak cocok.
c.       Tidak menggunakan pembalut yang berbahaya.
Environment
a.       Mendeteksi kebersihan lingkungan (misalnya sumber air bersih).
b.      Mendeteksi adanya PMS yang diderita oleh pasangan (suami).
Tahap lanjut / advance or manifest disease
Host
a.       Perawatan penderita sesuai tingkatan penyakit yang dideritanya.
b.       Tidak berhubungan seks (suami-istri).
Agent
Tidak menggunakan antiseptic yang berbahaya.
Environment
Tidak berhubungan seks (suami-istri).
Tahap akhir / convalcense
Limitation Disability
Host
a.       Operasi (bedah)
b.      Radioterapi
c.       Khemoterapi
Agent
Tidak menggunakan antiseptic yang berbahaya.
Environment
Tidak berhubungan seks (suami-istri).
Pasca pathogenesis / convalcense :
Karier
Cacat
Kronis
Meninggal / Rest in Peace (RIP)
Rehabilitation
Host
a.       Melakukan gerakan-gerakan untuk membantu mengembalikan fungsi gerak dan untuk mengurangi pembengkakan.
b.       Pemeliharaan kesehatan secara maksimal.
c.        Bagi penderita yang mengalami alopesia (rambut gugur) akibat khemoterapi dan radioterapi bisa diatasi dengan memakai wig untuk sementara karena umumnya rambut akan tumbuh kembali.
Agent
Tidak menggunakan antiseptic yang berbahaya.
Environment
a.       Menggunakan sumber air bersih.
b.      Mengonsumsi makanan yang bergizi.

















DAFTAR PUSTAKA

Azis, F, dkk., 2006. Kanker Serviks Uterus. Cermin Dunia Kedokteran No.36, Jakarta
Bosch., et al, 1994, Screening Tropical Maize Population to Obtain Semiexsotic,
Forage Hybirds, Crops Science
Bustan, M.N, 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta.
Dalimartha, Setiawan., 2004, Deteksi Dini Kanker dan Simplisia Antikanker.
           Jakarta: Penebar Swadaya.
Harahap, R.E., 1984, Neoplasia Intraepitel Pada Kanker Serviks (NIS), Pendekatan Ilmiah : Pencegahan Kanker Rahim. Jakarta: UI-Press.
Murti., Bhisma, 2003, Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Mamik, Wibowo Arief. 2000, Kelangsungan Hidup Kanker Leher Rahim. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Noor, N. N. 2000. Dasar Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Parkin DM., et al, 1997, Cancer Incidence In Five Continets Vol. 7, IARC
Scientific Publication No.143, LYON, France
Rajab., Wahyudin, 2009, Epidemiologi untuk Mahasiswa Kebidanan, Jakarta: Penerbit
                        Buku Kedokteran EGC.
Rasjidi., Imam, 2009, Epidemiologi Kanker Serviks, Indonesian Jornal of Cancer:
Tangerang, Vol III No. 3.
Rivai, 2005, Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan, Jurnal Mutiara Kesehatan Indonesia: Sumatera Utara, Vol. I No. 1.
Sarwono, 2010. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Soemirat, Juli, 2010. Epidemiologi Lingkungan, Yogyakarta : Gajah Mada
            Uniersity Press.




No comments:

Post a Comment