I.
Pengertian
Imunisasi dan Perbedaannya dengan Vaksinasi
Kegiatan
imunisasi di Indonesia di mulai di Pulau Jawa dengan vaksin cacar pada tahun
1956. Pada tahun 1972, Indonesia telah berhasil membasmi penyakit cacar. Pada
tahun 1974, Indonesia resmi dinyatakan bebas cacar oleh WHO, yang selanjutnya
dikembangkan vaksinasi lainnya. Pada tahun 1972 juga dilakukan studi pencegahan
terhadap Tetanus Neonatorum dengan memberikan suntikan Tetanus Toxoid (TT) pada
wanita dewasa di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga pada tahun 1975 vaksinasi
TT sudah dapat dilaksanakan di seluruh Indonesia. (Depkes RI, 2005).
Imunisasi
adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan
sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah
atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti
kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan
kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari
penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya (Umar, 2006). Sedangkan pengertian Imunisasi
menurut (Depkes RI, 2005) adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan
kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak
ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan.
Imunitas manusia sendiri
terdiri dari dua macam yakni imunitas aktif dan imunitas pasif. Imunitas pasif
diperoleh dari pemberian antibodi yang tujuannya mencegah dan menghilangkan
efek dari infeksi atau toksin penyebab suatu penyakit. Dan imunisasi pasif
hanya bertahan beberapa bulan saja. Sedangkan imunitas aktif dilakukan dengan
pemaparan antigen dari pathogen terhadap sistem imunitas sehingga diharapkan
terbentuk antibodi seperti misalnya hepatitis dan tetanus (Karina dan Warsito,
2012). Pemberian imunisasi saat balita tidak memberikan jaminan kekebalan
seumur hidup dan imunisasi terbukti efektif dan aman meningkatkan kekebalan
tubuh secara aktif terhadap penyakit tertentu serta ikut mencegah keluarga dan
lingkungan sekitar dari terjangkitnya penyakit dan menekan biaya perawatan
penyakit.
Imunisasi berarti
menginduksi agar terbentuk imunitas atau kekebalan dengan berbagai cara baik
aktif maupun pasif. Sedangkan vaksinasi adalah tindakan pemberian vaksin (Ranuh,
2008). Menurut Kamus
Kedokteran Dorland (2012), vaksinasi hanya berarti menyuntikkan "suspensi
mikroorganisme dilemahkan atau dibunuh, diberikan untuk pencegahan atau
pengobatan penyakit menular."
Jadi dapat dikatakan bahwa
vaksinasi belum tentu suatu tindakan imunisasi dan dapat pula sama sekali tidak
melibatkan vaksin. Vaksinasi adalah
persiapan biologis untuk meningkatkan kekebalan tubuh (manusia/hewan) terhadap
suatu penyakit (Radji, 2009). Biasanya
dilakukan dengan cara menginduksi (menyuntikkan) kuman, virus atau
mikroorganisme penyebab penyakit yang sudah dilemahkan atau mati. Agen atau
mikroorganisme (virus atau bakteri) yang dimasukkan dalam tubuh melalui
vaksinasi akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali benda asing
yang masuk, menghancurkan dan “mengingatnya” (Ranuh,
2008).
Vaksin terbagi menjadi dua,
yaitu :
- Vaksin mati, berasal dari virus atau bakteri yang
dimatikan. Jenis vaksin ini menghasilkan antibodi pada tubuh karena ada
antigen didalamnya. Tidak membahayakan janin jika dilakukan pada ibu
hamil.
- Vaksin hidup, berasal dari virus atau bakteri
yang dilemahkan. Virus ini dapat berpotensi menyebabkan penyakit itu
sendiri, seperti rubella atau tetanus (Ranuh,
2008).
II.
Jenis-jenis
Imunisasi
Berdasarkan
proses atau mekanisme pertahanan tubuh, imunisasi dibagi menjadi dua: imunisasi aktif dan imunisasi pasif.
Imunisasi aktif merupakan pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan
terjadi suatu proses infeksi buatan, sehingga tubuh mengalami reaksi imunologi
spesifik yang akan menghasilkan espons seluler dan humoral sertadihasilkannya cell memory. Jika benar-benar terjadi
infeksi maka tubuh secara cepat dapat merespons. Dalam imunisais aktif terdapat
empat macam kandungan dalam setiap vaksinnya, yang dijelaskan sebagai berikut.
·
Antigen merupakan bagian dari vaksin ang
berfungsi sebagai zat atau mikroba guna terjadinya semacam infeksi buatan
(berupa polisakarida, toksoid, virus yang dilemahkan, atau bakteri yang
dimatikan).
·
Pelarut dapat berupa air steril atau
berupa cairan kultur jaringan.
·
Preservatif, stabiliser, dan antibiotik
yang berguna untuk mencegah tumbuhnya mikroba sekaligus untuk stabiliser
antigen.
·
Adjuvans yang terdiri atas garam
aluminium yang berfungsi untuk meningkatkan imunogenitas antigen (Hidayat,
2008).
Imunisasi
pasif merupakan pemberian zat (imunoglobulin), yaitu suatu zat yang dihasilkan
melalui suatu proses infeksi yang berasal dari plasma manusia atau binatang
yang digunakan untuk mangatasi mikroba yang diduga sudah masuk dalam tubuh yang
terinfeksi (Hidayat, 2008).
Di
Indonesia terdapat jenis yang diwajibkan oleh pemerintah (imunisasi dasar) dan
ada juga yang hanya dianjurkan. Imunisasi wajib di Indonesia sebagaimana telah
diwajibkan oleh WHO ditambah dengan hepatitis B. Sedangkan imunisasi yang hanya
dianjurkan oleh pemerintah dapat digunakan untuk mencegah suatu kejadian yang
luar biasa atau penyakit endemik atau untuk kepentingan tertentu (bepergian)
misalnya jemaah haji yangdisuntikkan imunisasi meningitis (Hidayat, 2008).
Imunisasi
dasar antara lain:
Imunisasi
BCG
Imunisasi
BCG (basillus calmette guerin)
merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC yang
berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau yang ringan dapat terjadi
walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG. TBC yang berat contohnya adalah TBC
pada selaput otak, TBC milier pada seluruh lapangan paru, atau TBC tulang.
Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan.
Vaksin BCG diberikan melalui intradermal. Efek samping pemberian imunisasi BCG
adalah terjadinya ulkus pada daerah suntikan, limfadenitis regionalis, dan
reaksi panas (Hidayat, 2008).
Imunisasi
BCG penting bagi anak balita dalam pencegahan TBC milier, otak, dan tulang
karena masih tingginya kejadian TBC pada anak. Menurut penelitian yang
dilakukan oleh Muchlastriningsih (2005) terhadap sejumlah pasien tuberkulosis
paru BTA (+) rawat jalan selama tahun 2000-2002: pada tahun 2001 ditemukan
sebanyak 520 anak di bawah 1 tahun menderita tuberkulosis BTA (+) dan tahun
2002 turun menjadi 117 anak. Keadaan ini menimbulkan keprihatinan karena pasien
balita akan mengalami hambatan ertumbuhan yang tentu akan memengaruhi
perkembangannya. Balita biasanya tertular dari lingkungan, misalnya keluarga
atau tetangga. Mengingat mobilitas balita belum jauh sehingga dapat diprediksi
ada kasus tuberkulosis di sekitarnya (Hidayat, 2008).
Imunisasi
Hepatitis B
Imunisasi
hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit hepatitis. Kandungan vaksin ini adalah HbsAg dalam bentuk cair.
Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis sebanyak 3 kali dan penguatnya dapat
diberikan pada usia 6 tahun. Imunisais hepatitis ini diberikan melalui
intramuskular. Angka kejadian hepatitis B pada anak balita juga sangat tinggi
salam memengaruhi angka kesakitan dan kematian balita. Hasil penelitian
Muchlastriningsih (2005) menunjukkan bahwa jumlah pasien hepatitis yang dirawat
jalan dan rawat inap paling banyak dari golongan usia 15-44 tahun (50,54%)
(Hidayat, 2008).
Imunisasi
Polio
Imunisasi
polio merupakan imunisasi yang digunakan ntuk mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan
kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan.
Imunisasi polio diberikan melalui oral.
Di Indonesia, program eradikasi polio dilaksanakan sesuai kesepakatan
pada WHA ke-41 (1988) yang sebenarnya mengharapkan eradikasi polio di dunia
sebelum tahun 2000. Ada empat strategi untuk pencapaian tujuan tersebut, yaitu
imunisai rutin OPV (oral polio virus)
dengan cakupan tinggi, imunisasi tambahan, surveilans AFP dan investigasi
laboratorium, serta mop-up untuk memutus
rantai penularan terakhir (Hidayat, 2008).
Imunisasi
DPT
Imuniasi
DPT (diphteria, pertussis, tetanus)
merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difter,
pertusis, dan tetanus. Vaksin DPT ini merupakan vaksin yang mengandung racun
kuman difteri yan telah dihilangkan sifat racunnya, namun masih dapat
merangsang pemberian zat anti (toksoid). Pemberian pertama zat anti terbentuk
masih sangat sedikit (tahap pengenalan) terhadap vaksin dan mengaktifkan
organ-organ tubuh membuat zat anti. Pada pemberian kedua dan ketiga terbentuk
zat anti yang cukup. Imunisasi DPT diberikan melalui intramuskular. Pemberian
DPT dapat berefek samping ringan atau berat. Efek samping ringan misalnya
terjadi pembengkakan, nyeri pada tempat penyuntikan, dan demam. Efek berat
misalnya terjadi menangis hebat, kesakitan kurang lebh empat jam, kesadaran
menurun, terjadi kejang, ensefalopati, dan syok. Upaya pencegahan penyakit
difteri, pertusis, dan tetanus perlu dilakukan sejak dini melalui imunisasi
karena penyakit tersebut sangat cepat serta dapat meningkatkan kematian bayi
dan anak balita (Hidayat, 2008).
Imunisasi
Campak
Imunisasi
campak merupakan imunisais yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit
campak pada anak karena termasuk penyakit menular. Kandungan vaksin ini adalah
virus yang dilemahkan. Imunisasi campak diberikan melalui subkutan. Imunisasi
ini memiliki efek samping seperti terjadinya ruam pada tempat suntikan dan
panas. Angka kejadian campak juga sangat tinggi dalam memengaruhi angka
kesakitan dan kematian anak (Hidayat, 2008).
Imunisasi
yan gdianjurkan antara lain:
Imunisasi
MMR
Imunisasi
MMR (measles, mumps, rubella)
merupakan imunisasi yang digunakan dalam memberikan kekebalan terhadap penyakit
campak (measles); gondong, parotisepidemika
(mumps); dan campak Jerman (rubella). Dalam imunisasi MMR, antigen
yang dipakai adalah campak strain edmonson yag dilemahkan, virus rubella strain
RA 27/3, dan virus gondong. Vaksin ini tidak dianjurkan untuk bayi usia di
bawah 1 tahun karena dikhawatirkan terjadi interferensi dengan antibodi
maternal yang masih ada. Khusus pada daerah endemik, sebaiknya diberikan
imunisasi campak yang monovalen dahulu pada usia 4-6 bulan atau 9-11 bulan dan booster (ulangan) dapat dilakukan MMR
pada usia 15-18 bulan (Hidayat, 2008).
Imunisasi
Typhus Abdominalis
Imunisasi
typhus abdominalis merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadiny
apenyakit typhus abdominalis. Dalam persediaan khususnya di Indonesia terdapat
tiga jenis vaksin typhus abdominalis, di antaranya kuman yang dimatikan, kuman
ang dilemahkan (cicotif, berna), dan antigen capsular Vi poliysaccharida (Typhin Vi, Pasteur Meriux). Vaksin
kuman yang dimatikan dapat diberikan untuk bayi 6-12 bulan adalah 0,1 ml; 1-2
tahun 0,1 ml; dan 2-12 tahun adalah 0,5 ml. Pada imunisasi awal dapat diberikan
sebanyak 2 kali dengan interval 4 minggu kemudian penguat setelah 1 tahun
kemudian. Vaksin kuman yang dilemahkan dapat diberikan dalam bentuk capsul enteric coated sebelum makan pada
hari ke-1, 2, dan 5 untuk anak di atas usia 6 tahun. Antigen kapsular diberikn
untuk usia di atas 2 tahun dan dapat diulang setiap 3 tahun (Hidayat, 2008).
Imuniasi
Varicella
Imuniasi
varicella merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit
cacar air (varicella). Vaksin varicella merupakan virus hidup varicella zooster strain OKA yang
dilemahkan. Pemberian vaksin varicella dapat diberikan suntikan tunggal pada
usia 12 tahun di daerah tropis dan bila di atas usia 13 tahun dapat diberikan 2
kali suntikan dengan interval 4-8 minggu (Hidayat, 2008).
Imunisasi
Hepatitis A
Imunisasi
hepatitis A merupakan imunisasi yang dgunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit hepatitis A. Pemberian imuniasi ini dapat diberikan untuk usia di atas
2 tahun. Imunisasi awal menggunakan vaksin Havrix (berisi virus hepatitis A
strain HM175 yang dinonaktifkan) dengan 2 suntikan dan interval 4 minggu, booster pada 6 bulan setelahnya. Jika
menggunakan vaksin MSD dapat dilakukan 3 kali suntikan pada usia 6 dan 12 bulan
(Hidayat, 2008).
Imunisasi
HiB
Imunisasi
HiB (haemophilus influenza tipe b)
merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit influenza
tipe b. Vaksin ini adalah bentuk polisakarida murni (PRP; purified capsular polysaccharide) kuman H.influenzae tipe b. Antigen dalam vaksin tersebut dapat
dikonjugasi dengan protein-protein lain, seperti toksoid tetanus (PRP-T),
toksoid difteri (PRP-D atau PRPCR50), atau dengan kuman menongokokus
(PRP-OMPC). Pada pemberian PRP-OMPC dilakukan 2 suntikan dnegan interval 2
bulan, kemudian booster-nya dapat
diberikan pada usia 18 bulan (Hidayat, 2008).
Imunisasi
Rotavirus
Vaksin
rotavirus merupakan vaksin kuman hidup yang diberikan pada usia 2, 4, dan 6
bulan untuk mencegah infeksi ratavirus gastroenteritis. Kontradiksi antara lain
perubahan imunitas, alergi terhadap komponen vaksin, gastroenteritis akut, dan
penyakit demam derajat sedang sampai berat. Vaksin rotavirus tidak boleh
diberikan pada anak-anak dari ibu yang terinfeksi HIV kevuali anak telah teruji
HIV negatif. Vaksin rotavirus telah dihilangkan dari pasaran pada akhir tahun
1999. Sekarang vaksin ini tidak lagi digunakan (Muscari, 2005).
Imunisasi
Influenza
Vaksin
virus influenza memberikan perlindungan terhadap strain influenza. Dianjurkan
pada anak berusia lebih dari 6 bulan, yang memiliki penyakit kronis (seperti,
gangguan pernapasan atau jantung, penyakit ginjal, dan diabetes melitus),
penyakit HIV, dan anak-anak yang menerima terapi aspirin jangka panjang (risiko
terhadap sindrom Reye). Vaksin diberikan pada saat musim gugur dan harus
diulangi setiap tahun; dua dosis diberikan 4 minggu secara terpisah untuk anak
yan gberusia dibawah 12 tahun; satu
dosis untuk semua anak yan gberusia di atas 12 tahun. Dikontradiksikan pada
anak-anak yang alergi terhadap telur. Vaksin dapat diberikan bersamaan dengan
imunisasi anak lainnya (Muscari, 2005).
Imunisasi
Pneumokokus
Vaksin
pneumokokus memberikan perlindungan terhadap beberapa strain Streptococcus pneumoniae. Vaksin dianjurkan
untuk anak-anak usia 12 tahun atau lebih yang menderita amnesia sel sabit,
asplenia, HIV, dan limfoma Hodgkin. Caksin dapat diberikan melalui jalur
subkutan (SQ) atau intramuskular (IM); vaksinasi ulang tidak dianjurkan. Vaksin
harus ditunda pada kehamilan (Muscari, 2005).
Imunisasi
HPV (Human
Papilloma Virus)
Vaksin
adalah obat yang berisi protein HPV (cangkang HPV) yang dapat merangsang
pembentukan antibodi dan dapat mematikan kuman/virus penyebab penyakit yang
tidak mengandung DNA-HPV. Vaksin HPV akan mencegah terjadinya infeksi HPV tipe
16 dan 18 sehingga tidak terjadi kanker serviks karena infeksi HPV 16 dan 18.
Tidak semua jenis infeksi HPV dapat dicegah dengan vaksin. Vaksinasi saat ini
dengan vaksin tipe 16 dan tipe 18. Tetapi dalam penelitian ternyata vaksin 16 dan 18 dapat mencegah pula
infeksi HPV tipe 31 dan 45 (tipe onkogenik) jadi ada efek silang. Vaksin
diberikan dengan suntikan, suntka 3 kali yaitu disuntik sekarang, bulan depan
dan bulan keenam. Suntikan vaksin dilakukan di lengan, di paha. Vaksin Gardasil
dan Cervarix mempunyai efek samping yang sering terjadi seperti nyeri dan
bengkak di lengan tempat bekas suntikan. Kadang-kadang ditemukan efek samping
dengan keluhan sakit kepala, mual dan demam setelah diberi vaksin. Efek sampin
gyan gpaling serius dan sangat jarang terjadi adalah kematian, cacat permanen
berupa kelumpuhan dan penyakit yan gmengancam jiwa. Sejak September 2009 telah
dilaporkan ada 44 kematian di Amerika akibat vaksin. Ada juga laporan bahwa
vaksin kanker serviks ini membentuk pembekuan darah di jantung, paru-paru dan
kaki. Dengan demikian mereka mendapat stroke akibat kombinasi suntikan vaksin
kanker serviks dan mengonsumsi pil KB (Nurwijaya, 2010).
Salah
satu program imunisasi nasional:
Pekan
Imunisasi Nasional (PIN)
Pekan
Imunisasi Nasional (PIN) adalah pekan dimana setiap balita termasuk bayi baru
lahir yang bertempat tinggal di Indonesia diimunisasi dengan vaksin polio tanpa
memandang status imunisasi sebelumnya. Pemberian imunisasi akan dilakukan 2
kali masingmasing 2 tetes peroral (OPV) dengan selang waktu 1 bulan secara
masal dan serentak. Pelaksanaan PIN bertujuan untuk memutus rantai penularan
virus polio liar dan meningkatkan kekebalan anak balita terhadap virus polio
liar. Pemberian imunisasi polio secara serentak terhadap semua sasaran akan
mempercepat pemutusan siklus kehidupan virus polio. Pelaksanaan Pekan Imunisasi
Nasional di Indonesia tahun 2005 telah sukses dilaksanakan di pos PIN seluruh
tanah air pada setiap putaran (dalam kurun waktu tertentu). Pada PIN 1 keberhasilan
balita yang diimunisasi sebesar 95 %, PIN 2 sebesar 97,4 % dan PIN 3 sebesar
98,1 %. Hal ini tidak lepas dari bantuan dan kerjasama semua pihak, baik
langsung maupun tidak langsung. Selain itu dukungan dari media cetak dan
elektronik sangat berperan untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat.
Dimasa mendatang diharapkan posyandu di setiap daerah aktif mendukung
pelaksanaan PIN dan terus bergerak meluaskan jangkauan imunisasi rutin untuk memastikan
peningkatan kesehatan anak di pedesaan dan perkotaan, demi masa depan anak yang
lebih baik (Utami, 2007).
III.
Cara
Mengatahui Keberhasilan Imunisasi
Imunisasi Hepatitis B
Tidak ada tanda klinis
yang dapat dijadikan patokan. Namun dapat dilakukan pengukuran keberhasilan
melalui pemeriksaan darah dengan mengecek kadar hepatitis B-nya setelah anak
berusia setahun. Bila kadarnya di atas 1000, berarti daya tahannya 8 tahun; di
atas 500, tahan 5 tahun; di atas 200, tahan 3 tahun. Namun jika angkanya hanya
100, maka dalam setahun akan hilang. Sementara bila angkanya nol berarti si
bayi harus disuntik ulang 3 kali lagi.
Imunisasi BCG
Tanda keberhasilan imunisasi
BCG berupa bisul kecil dan bernanah pada daerah bekas suntikan yang muncul
setelah 4-6 minggu. Benjolan atau bisul ini memiliki ciri yang sangat khas dan
berbeda dari bisul pada umumnya. Bisul tersebut tidak menimbulkan rasa nyeri,
bahkan bila disentuh pun tidak terasa sakit. Tak hanya itu, munculnya bisul
juga tak diiringi panas. Selanjutnya, bisul tersebut akan mengempis dan
membentuk luka parut (Hadinegoro, 2000).
Imunisasi Polio
Imunisasi
polio dianggap berhsail jika dapat mencapai keberhasilan 90% dari keseluruhan
jumlah yang diimunisasi.
IV.
Faktor
yang Mempengaruhi Keberhasilan Imunisasi
a. Status
imun pejamu
Kekebalan
vaksinasi memerlukan maturasi imunologik. Pada bayi neonatus fungsi makrofag
masih kurang, fungsi sel T (T Supresor) relative lebih menonjol dibandingkan
dengan bayi atau anak karena fungsi imun masa intra uterin lebih di tekankan
pada toleransi dan hal ini dapat terlihat pada saat bayi baru lahir.
Pembentukan antibody spesifik terhadap antigen tertentu masih kurang di
bandingkan anak. Maka bila imunitas diberikan sebelum bayi berumur 2 bulan
jangan lupa memberikan imunisasai ulangan. Status imun mempengaruhi pula hasil
imunisasi. Individu yang mendapat obat imunosupresan, menderita defisiensi imun
sekunder seperti penyakit keganasan. Demikian pula individu yang menderita
penyakit siang stemik seperti campak, tuberculosis akan mempengaruhi
keberhasilan imunitas. Keadaan gizi buruk akan menurunkan fungsi sel system
imun seperti makrofag dan limfosit. Imunitas seluler menurun dan imunitas
humoral spesifitasnya rendah. Meskipun kadar globulin normal atau tinggi,
immunoglobulin yang terbentuk tidak dapat mengikat antigen dengan baik karena
terdapat kekurangan asam amino yang dibutuhkan untuk sintesis antibody. Kadar
komplemen juga berjurang dan mobilisasi makrofag berkurang, akibatnya respon
terhadap vaksin atau toksoid berkurang.
Terjadinya antibodi spesifik pejamu terhadap vaksin
yang diberikan akan mempengaruhi keberhasilan imunisasi. Pada bayi semasa fetus
mendapat antibodi maternal spesifik terhadap virus campak. Apabila vaksinasi
campak diberikan pada saat kadar antibodi spesifik campak masih tinggi, maka
akan memberikan efek yang kurang memuaskan. Demikian pula ASI yang mengandung
IgA sekretori (sIgA) terhadap virus polio dapat mempengaruhi keberhasilan
vaksinasi polio yang diberikan secara oral (Hidayat, 2008).
Kadar
sIGA polio sudah tidak
ditemukan lagi pada ASI setelah bayi berumur 5 tahun. Kadar sIGA yang tinggi
terdapat pada kolostrum. Oleh karena itu bila vaksinasi polio oral diberikan
pada masa pemberian kolostrum (usia 0-3 hari), hendaknya asi jangan diberikan
dahulu 2 jam sebelum dan sesudah vaksinasi. Keberhasilan vaksinasi memerlukan
maturitas imunologik. Fungsi makrofag pada neonatus Masih kurang terutama
fungsi mempresentasikan antigen. Pembentukan antibodi spesifik terhadap antigen
tertentu masih kurang , sehingga imunisasi yang diberikan sebelum bayi berumur
2 tahun jangan lupa memberikan imunisasi ulangan. Keadaan gizi buruk menurunkan
fungsi sel sistem imun seperti makrofag dan limfosit. Imunitas selulas menurun
dan imunitas humoral spesifisitasnya rendah. Kadar umunoglobulin yang terbentuk
tidak dapat mengikat antigen dengan baik karena kekurangan asam amino untuk
mensintesis antibodi. Kadar komplemen juga berkurang dan mobilisasi makrofag
berkurang, sehingga respon terhadap vaksin atau toksoid berkurang (Hidayat,
2008).
b. Genetik
pejamu
Interaksi
sel imun di pengaruhi oleh variabilitas genetic. Secara genetic respon imun
manusia dapat dibagi atas respon baik, cukup dan rendah terhadap antigen
tertentu, maka tidak heran bila kita menemukan keberhasilan vaksin yang tidak
100%.
c. Kualitas
dan Kuantitas vaksin
Vaksin
adalah mikroorganisme atau toksoid yang diubah sedemikian rupa sehingga
patogenitas atau toksisitasnya hilang tetapi masih tetap mengandung sifat antigenitas.
Cara pemberian vaksin akan mempengaruhi respon imun misalnya vaksin polio oral
akan menimbulkan imunitas lokal dan sistemik, sedangkan vaksin polio paranteral
hanya memberikan imunitas sistemik saja. Dosis vaksin yang tidak tepat juga
mempengaruhi respon imun. Dosis terlalu tinggi akan menghambat respon imun yang
diharapkan, sedangkan dosis terlalu rendah tidak dapat merangsang sel-sel
imunokompeten. Dosis yang tepat dapat diketahui dari hasil uji klinis, karena
itu dosis vaksin harus sesuai dengan dosis yang direkomendasikan. Frekuensi dan
jarak pemberian juga mempengaruhi respon imun. Bila pemberian vaksin berikutnya
diberikan pada saat kadar antibodi spesifik masih tinggi, maka antigen yang
masuk akan segera dinetralkan, sehingga tidak sempat merangsang sel
imunokompeten, bahkan dapat terjadi reaksi arthus. Pemberian vaksin ulang
(booster) sebaiknya mengikuti anjuran sesuai hasil uji klinis (Hidayat, 2008).
Faktor kualitas
dan kuantitas vaksin seperti pemberian, dosis, frekuensi pemberian dan jenis
vaksin:
a. Cara
pemberian vaksin Akan mempengaruhi respon yang timbul. Misalnya vaksin polio
oral akan menimbulkan imunitas lokal disamping sistemik, sedangkan vaksin polio
parenteral akan memberikan imunitas sistemik saja.
b. Dosis
vaksin Terlalu tinggi atau terlalu rendah juga mempengaruhi respon imun yang
terjadi. Dosis terlalu tinggi akan menghambat respon imun yang diharapkan,
sedang dosis yang terlalu rendah tidak merangsang sel-sel imunokompeten.
c. Frekuensi
pemberian Juga mempengaruhi respon imun yang terjadi. Sebagimana telah kita
ketahui, respon imun sekunder menimbulksn sel efektor aktif lebih cepat, lebih
tinggi produksinya, dan afinitasnya lebih tinggi. Disamping frekuensi, jarak
pemberianpun akan mempengaruhi respon imun yang terjadi. Bila pemberian vaksin
berikutnya diberikan pada saat kadar antibody spesifik yang masih tingggi, maka
antigen yang masuk segera dinetralkan oleh antibody spesifik yangi masih tinggi
sehingga tidak sempat merangsang sel imunokompeten. Bahkan dapat terjadi apa
yang dinamakan reaksi Arthus, yaitu bengkak kemerahan di daerah suntikan
antigen akibat pembentukan kompleks antigen-antibodi lokal sehingga terjadi
peradangan lokal. Karena itu pemberian ulang (booster) sebaiknya mengikuti apa
yang dianjurkan sesuai dengan hasil uji klinis.
d. Jenis
vaksin Vaksin hidup akan menimbulkan respon imun lebih baik dibandingkan vaksin
mati atau yang inaktivasi (killer atau anactivatid) atau bagian (komponen) dari
mikroorganisme. Rangsangan sel Tc memori membutuhkan suatu sel yang terinfeksi,
karena itu di butuhkan vaksin hidup.
V.
Kejadian
ikutan pasca imunisasi
Setiap
tindakan medis apapun bisa menimbulkan risiko bagi pasien si penerima layanan
baik dalam skala ringan maupun berat. Demikian halnya dengan pemberian
vaksinasi. Reaksi yang timbul setelah pemberian vaksinasi disebut sebagai
kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) atau adverse
events following immunization (AEFI). Dengan semakin canggihnya teknologi
pembuatan vaksin dan meningkatnya teknik pemberian vaksinasi, maka reaksi KIPI
dapat diminimalisasi. Meskipun risikonya sangat kecil, reaksi KIPI berat dapat
saja terjad. Oleh karena itu, petugas imunisasi atau dokter mempunyai kewajiban
untuk menjelaskan kemungkinan reaksi KIPI apa saja yang dapat terjadi. Dan bagi
orang yang hendak menerima vaksinasi mempunyai hak untuk bertanya dan
mengetahui apa saja reaksi KIPI yang terjadi (Suharjo, 2010).
Secara
khusus KIPI dapat didefinisikan sebagai kejadian medik yang berhubugan dengan
imunisasi, baik oleh karena efek vaksin maupun efek samping, toksisitas, reaksi
sensivitas, efek farmakologis, kesalahan program, reaksi suntikan, atau
penyebab lain yang tidak dapat ditentukan. Secara umum, reaksi KIPI dapat
dikategorikan sebagai akibat kesalahan program, reaksi suntikan, dan reaksi
vaksin (Suharjo, 2010).
Sebagian
besar kasus KIPI berhubungan dengan kesalahan teknik pelaksanaan vaksinasi,
misalnya kelebihan dosis, kesalahan memilih lokasi dan cara menyuntik,
sterilitas, dan penyimpanan vaksin. Dengan semakin membaiknya pengelolaan
vaksin, pengetahuan, dan keterampilan petugas pemberi vaksinasi, maka kesalahan
tersebut dapat diminimalisasi (Suharjo, 2010).
Reaksi
suntikan tidak berhubungan dengan kandungan vaksin, tetapi lebih karena trauma
akibat tusukan jarum, misalnya bengkak, nyeri, dan kemerahan di temoat
suntikan. Selain itu, reaksi suntikan dapat terjadi bukan akibat dari trauma
suntikan melainkan karena kecemasan, pusing, atau pingsan karena takut terhadap
jarum suntik. Reaksi suntikan dapat dihindari dengan melakukan teknik teknik
penyuntikan vaksinasi bagi orang dewasa (Suharjo, 2010).
Gejala
yang muncul pada reaksi vaksin sudah bisa diprediksi terlebih dahulu, karena
umumnya perusahaan vaksin telah mencantumkan reaksi efek samping yang terjadi
setelah pemberian vaksinasi. Keluhan yan muncul umumnya bersifat ringan (demam,
bercak merah, nyeri sendi, pusing, nyeri otot). Meskipun hal ini jarang teradi,
namun reaksi vaksin dapat bersifat berat, misalnya reaksi serius (anafilaksi)
dan kejang. Untunglah bahwa reaksi alergi serius relatif jarang terjadi,
misalnya reaksi alergi serius akibat campak kemungkinan kejadiannya hanya
1/1.000.000 dosis (Suharjo ,2010).
VI.
Skema
pemberian imunisasi

DAFTAR
PUSTAKA
Dorland,
2012. Kamus saku kedokteran Dorland, ed.
28 (alih bahasa: Albertus Agung Mahode). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Hadinegoro,
Sri Rezeki S. 2000. Kejadian Ikutan Pasca
Imunisasi. FKUI. Volume 2, Nomor 1.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak Untuk
Pendidikan Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
Muscari, Mary E. 2005. Panduan Belajar: Keperawatan Pediatrik.
Jakarta: EGC
Nurwijaya, Hartanti; Andrijono dan
Suheini. 2010. Cegah Dan Deteksi Kanker
Serviks. Jakarta: Elex Media Komputindo
Umar, 2006. Imunisasi Mengapa Perlu ?.Jakarta : PT. Kompas Media Nusantara
Radji, Maksum. 2009. Vaksin Kanker. Jurnal Mikrobiologi dan Bioteknologi,
109-118.
Ranuh. 2008. Imunisasi Di Indonesia, Edisi 1. Jakarta: Satgas Imunisasi Ikatan
Dokter Anak Indonesia.
Suharjo, J.B. 2010. Vaksinasi, cara
ampuh cegah penyakit infeksi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Utami, Sri. 2007. Pengembangan Sistem Pekan Imunisasi Nasional (PIN)
Berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) Guna Mendukung Evaluasi Program PIN
Di Kota Semarang. Sistem
Informasi Manajemen Kesehatan, 5-6.
Warsito, Bambang Edi, & Karina, Adinda
Nola. 2012. Jurnal Nursing Studies,
30-35.
No comments:
Post a Comment