Pages - Menu

Sunday, 24 May 2015

makalah imunisasi

I.                   Pengertian Imunisasi dan Perbedaannya dengan Vaksinasi
Kegiatan imunisasi di Indonesia di mulai di Pulau Jawa dengan vaksin cacar pada tahun 1956. Pada tahun 1972, Indonesia telah berhasil membasmi penyakit cacar. Pada tahun 1974, Indonesia resmi dinyatakan bebas cacar oleh WHO, yang selanjutnya dikembangkan vaksinasi lainnya. Pada tahun 1972 juga dilakukan studi pencegahan terhadap Tetanus Neonatorum dengan memberikan suntikan Tetanus Toxoid (TT) pada wanita dewasa di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga pada tahun 1975 vaksinasi TT sudah dapat dilaksanakan di seluruh Indonesia. (Depkes RI, 2005).
Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya (Umar, 2006). Sedangkan pengertian Imunisasi menurut (Depkes RI, 2005) adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan.

Imunitas manusia sendiri terdiri dari dua macam yakni imunitas aktif dan imunitas pasif. Imunitas pasif diperoleh dari pemberian antibodi yang tujuannya mencegah dan menghilangkan efek dari infeksi atau toksin penyebab suatu penyakit. Dan imunisasi pasif hanya bertahan beberapa bulan saja. Sedangkan imunitas aktif dilakukan dengan pemaparan antigen dari pathogen terhadap sistem imunitas sehingga diharapkan terbentuk antibodi seperti misalnya hepatitis dan tetanus (Karina dan Warsito, 2012). Pemberian imunisasi saat balita tidak memberikan jaminan kekebalan seumur hidup dan imunisasi terbukti efektif dan aman meningkatkan kekebalan tubuh secara aktif terhadap penyakit tertentu serta ikut mencegah keluarga dan lingkungan sekitar dari terjangkitnya penyakit dan menekan biaya perawatan penyakit.
Imunisasi berarti menginduksi agar terbentuk imunitas atau kekebalan dengan berbagai cara baik aktif maupun pasif. Sedangkan vaksinasi adalah tindakan pemberian vaksin (Ranuh, 2008). Menurut Kamus Kedokteran Dorland (2012), vaksinasi hanya berarti menyuntikkan "suspensi mikroorganisme dilemahkan atau dibunuh, diberikan untuk pencegahan atau pengobatan penyakit menular."
Jadi dapat dikatakan bahwa vaksinasi belum tentu suatu tindakan imunisasi dan dapat pula sama sekali tidak melibatkan vaksin.  Vaksinasi adalah persiapan biologis untuk meningkatkan kekebalan tubuh (manusia/hewan) terhadap suatu penyakit (Radji, 2009).  Biasanya dilakukan dengan cara menginduksi (menyuntikkan) kuman, virus atau mikroorganisme penyebab penyakit yang sudah dilemahkan atau mati. Agen atau mikroorganisme (virus atau bakteri) yang dimasukkan dalam tubuh melalui vaksinasi akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali benda asing yang masuk, menghancurkan dan “mengingatnya” (Ranuh, 2008).
Vaksin terbagi menjadi dua, yaitu :   
  1. Vaksin mati, berasal dari virus atau bakteri yang dimatikan. Jenis vaksin ini menghasilkan antibodi pada tubuh karena ada antigen didalamnya. Tidak membahayakan janin jika dilakukan pada ibu hamil.
  2. Vaksin hidup, berasal dari virus atau bakteri yang dilemahkan. Virus ini dapat berpotensi menyebabkan penyakit itu sendiri, seperti rubella atau tetanus (Ranuh, 2008).
II.                Jenis-jenis Imunisasi
Berdasarkan proses atau mekanisme pertahanan tubuh, imunisasi dibagi menjadi  dua: imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif merupakan pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan terjadi suatu proses infeksi buatan, sehingga tubuh mengalami reaksi imunologi spesifik yang akan menghasilkan espons seluler dan humoral sertadihasilkannya cell memory. Jika benar-benar terjadi infeksi maka tubuh secara cepat dapat merespons. Dalam imunisais aktif terdapat empat macam kandungan dalam setiap vaksinnya, yang dijelaskan sebagai berikut.
·                     Antigen merupakan bagian dari vaksin ang berfungsi sebagai zat atau mikroba guna terjadinya semacam infeksi buatan (berupa polisakarida, toksoid, virus yang dilemahkan, atau bakteri yang dimatikan).
·                     Pelarut dapat berupa air steril atau berupa cairan kultur jaringan.
·                     Preservatif, stabiliser, dan antibiotik yang berguna untuk mencegah tumbuhnya mikroba sekaligus untuk stabiliser antigen.
·                     Adjuvans yang terdiri atas garam aluminium yang berfungsi untuk meningkatkan imunogenitas antigen (Hidayat, 2008).
Imunisasi pasif merupakan pemberian zat (imunoglobulin), yaitu suatu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang berasal dari plasma manusia atau binatang yang digunakan untuk mangatasi mikroba yang diduga sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi (Hidayat, 2008).
Di Indonesia terdapat jenis yang diwajibkan oleh pemerintah (imunisasi dasar) dan ada juga yang hanya dianjurkan. Imunisasi wajib di Indonesia sebagaimana telah diwajibkan oleh WHO ditambah dengan hepatitis B. Sedangkan imunisasi yang hanya dianjurkan oleh pemerintah dapat digunakan untuk mencegah suatu kejadian yang luar biasa atau penyakit endemik atau untuk kepentingan tertentu (bepergian) misalnya jemaah haji yangdisuntikkan imunisasi meningitis (Hidayat, 2008).
Imunisasi dasar antara lain:
Imunisasi BCG
Imunisasi BCG (basillus calmette guerin) merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG. TBC yang berat contohnya adalah TBC pada selaput otak, TBC milier pada seluruh lapangan paru, atau TBC tulang. Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan. Vaksin BCG diberikan melalui intradermal. Efek samping pemberian imunisasi BCG adalah terjadinya ulkus pada daerah suntikan, limfadenitis regionalis, dan reaksi panas (Hidayat, 2008).
Imunisasi BCG penting bagi anak balita dalam pencegahan TBC milier, otak, dan tulang karena masih tingginya kejadian TBC pada anak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Muchlastriningsih (2005) terhadap sejumlah pasien tuberkulosis paru BTA (+) rawat jalan selama tahun 2000-2002: pada tahun 2001 ditemukan sebanyak 520 anak di bawah 1 tahun menderita tuberkulosis BTA (+) dan tahun 2002 turun menjadi 117 anak. Keadaan ini menimbulkan keprihatinan karena pasien balita akan mengalami hambatan ertumbuhan yang tentu akan memengaruhi perkembangannya. Balita biasanya tertular dari lingkungan, misalnya keluarga atau tetangga. Mengingat mobilitas balita belum jauh sehingga dapat diprediksi ada kasus tuberkulosis di sekitarnya (Hidayat, 2008).
Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis. Kandungan vaksin ini adalah HbsAg dalam bentuk cair. Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis sebanyak 3 kali dan penguatnya dapat diberikan pada usia 6 tahun. Imunisais hepatitis ini diberikan melalui intramuskular. Angka kejadian hepatitis B pada anak balita juga sangat tinggi salam memengaruhi angka kesakitan dan kematian balita. Hasil penelitian Muchlastriningsih (2005) menunjukkan bahwa jumlah pasien hepatitis yang dirawat jalan dan rawat inap paling banyak dari golongan usia 15-44 tahun (50,54%) (Hidayat, 2008).
Imunisasi Polio
Imunisasi polio merupakan imunisasi yang digunakan ntuk mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Imunisasi polio diberikan melalui oral.  Di Indonesia, program eradikasi polio dilaksanakan sesuai kesepakatan pada WHA ke-41 (1988) yang sebenarnya mengharapkan eradikasi polio di dunia sebelum tahun 2000. Ada empat strategi untuk pencapaian tujuan tersebut, yaitu imunisai rutin OPV (oral polio virus) dengan cakupan tinggi, imunisasi tambahan, surveilans AFP dan investigasi laboratorium, serta mop-up untuk memutus rantai penularan terakhir (Hidayat, 2008).
Imunisasi DPT
Imuniasi DPT (diphteria, pertussis, tetanus) merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difter, pertusis, dan tetanus. Vaksin DPT ini merupakan vaksin yang mengandung racun kuman difteri yan telah dihilangkan sifat racunnya, namun masih dapat merangsang pemberian zat anti (toksoid). Pemberian pertama zat anti terbentuk masih sangat sedikit (tahap pengenalan) terhadap vaksin dan mengaktifkan organ-organ tubuh membuat zat anti. Pada pemberian kedua dan ketiga terbentuk zat anti yang cukup. Imunisasi DPT diberikan melalui intramuskular. Pemberian DPT dapat berefek samping ringan atau berat. Efek samping ringan misalnya terjadi pembengkakan, nyeri pada tempat penyuntikan, dan demam. Efek berat misalnya terjadi menangis hebat, kesakitan kurang lebh empat jam, kesadaran menurun, terjadi kejang, ensefalopati, dan syok. Upaya pencegahan penyakit difteri, pertusis, dan tetanus perlu dilakukan sejak dini melalui imunisasi karena penyakit tersebut sangat cepat serta dapat meningkatkan kematian bayi dan anak balita (Hidayat, 2008).
Imunisasi Campak
Imunisasi campak merupakan imunisais yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak pada anak karena termasuk penyakit menular. Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Imunisasi campak diberikan melalui subkutan. Imunisasi ini memiliki efek samping seperti terjadinya ruam pada tempat suntikan dan panas. Angka kejadian campak juga sangat tinggi dalam memengaruhi angka kesakitan dan kematian anak (Hidayat, 2008).
Imunisasi yan gdianjurkan antara lain:
Imunisasi MMR
Imunisasi MMR (measles, mumps, rubella) merupakan imunisasi yang digunakan dalam memberikan kekebalan terhadap penyakit campak (measles); gondong, parotisepidemika (mumps); dan campak Jerman (rubella). Dalam imunisasi MMR, antigen yang dipakai adalah campak strain edmonson yag dilemahkan, virus rubella strain RA 27/3, dan virus gondong. Vaksin ini tidak dianjurkan untuk bayi usia di bawah 1 tahun karena dikhawatirkan terjadi interferensi dengan antibodi maternal yang masih ada. Khusus pada daerah endemik, sebaiknya diberikan imunisasi campak yang monovalen dahulu pada usia 4-6 bulan atau 9-11 bulan dan booster (ulangan) dapat dilakukan MMR pada usia 15-18 bulan (Hidayat, 2008).
Imunisasi Typhus Abdominalis
Imunisasi typhus abdominalis merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadiny apenyakit typhus abdominalis. Dalam persediaan khususnya di Indonesia terdapat tiga jenis vaksin typhus abdominalis, di antaranya kuman yang dimatikan, kuman ang dilemahkan (cicotif, berna), dan antigen capsular Vi poliysaccharida (Typhin Vi, Pasteur Meriux). Vaksin kuman yang dimatikan dapat diberikan untuk bayi 6-12 bulan adalah 0,1 ml; 1-2 tahun 0,1 ml; dan 2-12 tahun adalah 0,5 ml. Pada imunisasi awal dapat diberikan sebanyak 2 kali dengan interval 4 minggu kemudian penguat setelah 1 tahun kemudian. Vaksin kuman yang dilemahkan dapat diberikan dalam bentuk capsul enteric coated sebelum makan pada hari ke-1, 2, dan 5 untuk anak di atas usia 6 tahun. Antigen kapsular diberikn untuk usia di atas 2 tahun dan dapat diulang setiap 3 tahun (Hidayat, 2008).
Imuniasi Varicella
Imuniasi varicella merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit cacar air (varicella). Vaksin varicella merupakan virus hidup varicella zooster strain OKA yang dilemahkan. Pemberian vaksin varicella dapat diberikan suntikan tunggal pada usia 12 tahun di daerah tropis dan bila di atas usia 13 tahun dapat diberikan 2 kali suntikan dengan interval 4-8 minggu (Hidayat, 2008).
Imunisasi Hepatitis A
Imunisasi hepatitis A merupakan imunisasi yang dgunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis A. Pemberian imuniasi ini dapat diberikan untuk usia di atas 2 tahun. Imunisasi awal menggunakan vaksin Havrix (berisi virus hepatitis A strain HM175 yang dinonaktifkan) dengan 2 suntikan dan interval 4 minggu, booster pada 6 bulan setelahnya. Jika menggunakan vaksin MSD dapat dilakukan 3 kali suntikan pada usia 6 dan 12 bulan (Hidayat, 2008).
Imunisasi HiB
Imunisasi HiB (haemophilus influenza tipe b) merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit influenza tipe b. Vaksin ini adalah bentuk polisakarida murni (PRP; purified capsular polysaccharide) kuman H.influenzae tipe b. Antigen dalam vaksin tersebut dapat dikonjugasi dengan protein-protein lain, seperti toksoid tetanus (PRP-T), toksoid difteri (PRP-D atau PRPCR50), atau dengan kuman menongokokus (PRP-OMPC). Pada pemberian PRP-OMPC dilakukan 2 suntikan dnegan interval 2 bulan, kemudian booster-nya dapat diberikan pada usia 18 bulan (Hidayat, 2008).
Imunisasi Rotavirus
Vaksin rotavirus merupakan vaksin kuman hidup yang diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan untuk mencegah infeksi ratavirus gastroenteritis. Kontradiksi antara lain perubahan imunitas, alergi terhadap komponen vaksin, gastroenteritis akut, dan penyakit demam derajat sedang sampai berat. Vaksin rotavirus tidak boleh diberikan pada anak-anak dari ibu yang terinfeksi HIV kevuali anak telah teruji HIV negatif. Vaksin rotavirus telah dihilangkan dari pasaran pada akhir tahun 1999. Sekarang vaksin ini tidak lagi digunakan (Muscari, 2005).
Imunisasi Influenza
Vaksin virus influenza memberikan perlindungan terhadap strain influenza. Dianjurkan pada anak berusia lebih dari 6 bulan, yang memiliki penyakit kronis (seperti, gangguan pernapasan atau jantung, penyakit ginjal, dan diabetes melitus), penyakit HIV, dan anak-anak yang menerima terapi aspirin jangka panjang (risiko terhadap sindrom Reye). Vaksin diberikan pada saat musim gugur dan harus diulangi setiap tahun; dua dosis diberikan 4 minggu secara terpisah untuk anak yan gberusia dibawah  12 tahun; satu dosis untuk semua anak yan gberusia di atas 12 tahun. Dikontradiksikan pada anak-anak yang alergi terhadap telur. Vaksin dapat diberikan bersamaan dengan imunisasi anak lainnya (Muscari, 2005).
Imunisasi Pneumokokus
Vaksin pneumokokus memberikan perlindungan terhadap beberapa strain Streptococcus pneumoniae. Vaksin dianjurkan untuk anak-anak usia 12 tahun atau lebih yang menderita amnesia sel sabit, asplenia, HIV, dan limfoma Hodgkin. Caksin dapat diberikan melalui jalur subkutan (SQ) atau intramuskular (IM); vaksinasi ulang tidak dianjurkan. Vaksin harus ditunda pada kehamilan (Muscari, 2005).
Imunisasi HPV (Human Papilloma Virus)
Vaksin adalah obat yang berisi protein HPV (cangkang HPV) yang dapat merangsang pembentukan antibodi dan dapat mematikan kuman/virus penyebab penyakit yang tidak mengandung DNA-HPV. Vaksin HPV akan mencegah terjadinya infeksi HPV tipe 16 dan 18 sehingga tidak terjadi kanker serviks karena infeksi HPV 16 dan 18. Tidak semua jenis infeksi HPV dapat dicegah dengan vaksin. Vaksinasi saat ini dengan vaksin tipe 16 dan tipe 18. Tetapi dalam penelitian  ternyata vaksin 16 dan 18 dapat mencegah pula infeksi HPV tipe 31 dan 45 (tipe onkogenik) jadi ada efek silang. Vaksin diberikan dengan suntikan, suntka 3 kali yaitu disuntik sekarang, bulan depan dan bulan keenam. Suntikan vaksin dilakukan di lengan, di paha. Vaksin Gardasil dan Cervarix mempunyai efek samping yang sering terjadi seperti nyeri dan bengkak di lengan tempat bekas suntikan. Kadang-kadang ditemukan efek samping dengan keluhan sakit kepala, mual dan demam setelah diberi vaksin. Efek sampin gyan gpaling serius dan sangat jarang terjadi adalah kematian, cacat permanen berupa kelumpuhan dan penyakit yan gmengancam jiwa. Sejak September 2009 telah dilaporkan ada 44 kematian di Amerika akibat vaksin. Ada juga laporan bahwa vaksin kanker serviks ini membentuk pembekuan darah di jantung, paru-paru dan kaki. Dengan demikian mereka mendapat stroke akibat kombinasi suntikan vaksin kanker serviks dan mengonsumsi pil KB (Nurwijaya, 2010).
Salah satu program imunisasi nasional:
Pekan Imunisasi Nasional (PIN)
Pekan Imunisasi Nasional (PIN) adalah pekan dimana setiap balita termasuk bayi baru lahir yang bertempat tinggal di Indonesia diimunisasi dengan vaksin polio tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Pemberian imunisasi akan dilakukan 2 kali masingmasing 2 tetes peroral (OPV) dengan selang waktu 1 bulan secara masal dan serentak. Pelaksanaan PIN bertujuan untuk memutus rantai penularan virus polio liar dan meningkatkan kekebalan anak balita terhadap virus polio liar. Pemberian imunisasi polio secara serentak terhadap semua sasaran akan mempercepat pemutusan siklus kehidupan virus polio. Pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional di Indonesia tahun 2005 telah sukses dilaksanakan di pos PIN seluruh tanah air pada setiap putaran (dalam kurun waktu tertentu). Pada PIN 1 keberhasilan balita yang diimunisasi sebesar 95 %, PIN 2 sebesar 97,4 % dan PIN 3 sebesar 98,1 %. Hal ini tidak lepas dari bantuan dan kerjasama semua pihak, baik langsung maupun tidak langsung. Selain itu dukungan dari media cetak dan elektronik sangat berperan untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat. Dimasa mendatang diharapkan posyandu di setiap daerah aktif mendukung pelaksanaan PIN dan terus bergerak meluaskan jangkauan imunisasi rutin untuk memastikan peningkatan kesehatan anak di pedesaan dan perkotaan, demi masa depan anak yang lebih baik (Utami, 2007).
III.             Cara Mengatahui Keberhasilan Imunisasi
Imunisasi Hepatitis B
Tidak ada tanda klinis yang dapat dijadikan patokan. Namun dapat dilakukan pengukuran keberhasilan melalui pemeriksaan darah dengan mengecek kadar hepatitis B-nya setelah anak berusia setahun. Bila kadarnya di atas 1000, berarti daya tahannya 8 tahun; di atas 500, tahan 5 tahun; di atas 200, tahan 3 tahun. Namun jika angkanya hanya 100, maka dalam setahun akan hilang. Sementara bila angkanya nol berarti si bayi harus disuntik ulang 3 kali lagi.
Imunisasi BCG
Tanda keberhasilan imunisasi BCG berupa bisul kecil dan bernanah pada daerah bekas suntikan yang muncul setelah 4-6 minggu. Benjolan atau bisul ini memiliki ciri yang sangat khas dan berbeda dari bisul pada umumnya. Bisul tersebut tidak menimbulkan rasa nyeri, bahkan bila disentuh pun tidak terasa sakit. Tak hanya itu, munculnya bisul juga tak diiringi panas. Selanjutnya, bisul tersebut akan mengempis dan membentuk luka parut (Hadinegoro, 2000).
Imunisasi Polio
Imunisasi polio dianggap berhsail jika dapat mencapai keberhasilan 90% dari keseluruhan jumlah yang diimunisasi.
IV.             Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Imunisasi
a.       Status imun pejamu
Kekebalan vaksinasi memerlukan maturasi imunologik. Pada bayi neonatus fungsi makrofag masih kurang, fungsi sel T (T Supresor) relative lebih menonjol dibandingkan dengan bayi atau anak karena fungsi imun masa intra uterin lebih di tekankan pada toleransi dan hal ini dapat terlihat pada saat bayi baru lahir. Pembentukan antibody spesifik terhadap antigen tertentu masih kurang di bandingkan anak. Maka bila imunitas diberikan sebelum bayi berumur 2 bulan jangan lupa memberikan imunisasai ulangan. Status imun mempengaruhi pula hasil imunisasi. Individu yang mendapat obat imunosupresan, menderita defisiensi imun sekunder seperti penyakit keganasan. Demikian pula individu yang menderita penyakit siang stemik seperti campak, tuberculosis akan mempengaruhi keberhasilan imunitas. Keadaan gizi buruk akan menurunkan fungsi sel system imun seperti makrofag dan limfosit. Imunitas seluler menurun dan imunitas humoral spesifitasnya rendah. Meskipun kadar globulin normal atau tinggi, immunoglobulin yang terbentuk tidak dapat mengikat antigen dengan baik karena terdapat kekurangan asam amino yang dibutuhkan untuk sintesis antibody. Kadar komplemen juga berjurang dan mobilisasi makrofag berkurang, akibatnya respon terhadap vaksin atau toksoid berkurang.
Terjadinya antibodi spesifik pejamu terhadap vaksin yang diberikan akan mempengaruhi keberhasilan imunisasi. Pada bayi semasa fetus mendapat antibodi maternal spesifik terhadap virus campak. Apabila vaksinasi campak diberikan pada saat kadar antibodi spesifik campak masih tinggi, maka akan memberikan efek yang kurang memuaskan. Demikian pula ASI yang mengandung IgA sekretori (sIgA) terhadap virus polio dapat mempengaruhi keberhasilan vaksinasi polio yang diberikan secara oral (Hidayat, 2008).
Kadar sIGA polio sudah tidak ditemukan lagi pada ASI setelah bayi berumur 5 tahun. Kadar sIGA yang tinggi terdapat pada kolostrum. Oleh karena itu bila vaksinasi polio oral diberikan pada masa pemberian kolostrum (usia 0-3 hari), hendaknya asi jangan diberikan dahulu 2 jam sebelum dan sesudah vaksinasi. Keberhasilan vaksinasi memerlukan maturitas imunologik. Fungsi makrofag pada neonatus Masih kurang terutama fungsi mempresentasikan antigen. Pembentukan antibodi spesifik terhadap antigen tertentu masih kurang , sehingga imunisasi yang diberikan sebelum bayi berumur 2 tahun jangan lupa memberikan imunisasi ulangan. Keadaan gizi buruk menurunkan fungsi sel sistem imun seperti makrofag dan limfosit. Imunitas selulas menurun dan imunitas humoral spesifisitasnya rendah. Kadar umunoglobulin yang terbentuk tidak dapat mengikat antigen dengan baik karena kekurangan asam amino untuk mensintesis antibodi. Kadar komplemen juga berkurang dan mobilisasi makrofag berkurang, sehingga respon terhadap vaksin atau toksoid berkurang (Hidayat, 2008).
b.      Genetik pejamu
Interaksi sel imun di pengaruhi oleh variabilitas genetic. Secara genetic respon imun manusia dapat dibagi atas respon baik, cukup dan rendah terhadap antigen tertentu, maka tidak heran bila kita menemukan keberhasilan vaksin yang tidak 100%.
c.       Kualitas dan Kuantitas vaksin
Vaksin adalah mikroorganisme atau toksoid yang diubah sedemikian rupa sehingga patogenitas atau toksisitasnya hilang tetapi masih tetap mengandung sifat antigenitas. Cara pemberian vaksin akan mempengaruhi respon imun misalnya vaksin polio oral akan menimbulkan imunitas lokal dan sistemik, sedangkan vaksin polio paranteral hanya memberikan imunitas sistemik saja. Dosis vaksin yang tidak tepat juga mempengaruhi respon imun. Dosis terlalu tinggi akan menghambat respon imun yang diharapkan, sedangkan dosis terlalu rendah tidak dapat merangsang sel-sel imunokompeten. Dosis yang tepat dapat diketahui dari hasil uji klinis, karena itu dosis vaksin harus sesuai dengan dosis yang direkomendasikan. Frekuensi dan jarak pemberian juga mempengaruhi respon imun. Bila pemberian vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar antibodi spesifik masih tinggi, maka antigen yang masuk akan segera dinetralkan, sehingga tidak sempat merangsang sel imunokompeten, bahkan dapat terjadi reaksi arthus. Pemberian vaksin ulang (booster) sebaiknya mengikuti anjuran sesuai hasil uji klinis (Hidayat, 2008).
Faktor kualitas dan kuantitas vaksin seperti pemberian, dosis, frekuensi pemberian dan jenis vaksin:
a.       Cara pemberian vaksin Akan mempengaruhi respon yang timbul. Misalnya vaksin polio oral akan menimbulkan imunitas lokal disamping sistemik, sedangkan vaksin polio parenteral akan memberikan imunitas sistemik saja.
b.      Dosis vaksin Terlalu tinggi atau terlalu rendah juga mempengaruhi respon imun yang terjadi. Dosis terlalu tinggi akan menghambat respon imun yang diharapkan, sedang dosis yang terlalu rendah tidak merangsang sel-sel imunokompeten.
c.       Frekuensi pemberian Juga mempengaruhi respon imun yang terjadi. Sebagimana telah kita ketahui, respon imun sekunder menimbulksn sel efektor aktif lebih cepat, lebih tinggi produksinya, dan afinitasnya lebih tinggi. Disamping frekuensi, jarak pemberianpun akan mempengaruhi respon imun yang terjadi. Bila pemberian vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar antibody spesifik yang masih tingggi, maka antigen yang masuk segera dinetralkan oleh antibody spesifik yangi masih tinggi sehingga tidak sempat merangsang sel imunokompeten. Bahkan dapat terjadi apa yang dinamakan reaksi Arthus, yaitu bengkak kemerahan di daerah suntikan antigen akibat pembentukan kompleks antigen-antibodi lokal sehingga terjadi peradangan lokal. Karena itu pemberian ulang (booster) sebaiknya mengikuti apa yang dianjurkan sesuai dengan hasil uji klinis.
d.      Jenis vaksin Vaksin hidup akan menimbulkan respon imun lebih baik dibandingkan vaksin mati atau yang inaktivasi (killer atau anactivatid) atau bagian (komponen) dari mikroorganisme. Rangsangan sel Tc memori membutuhkan suatu sel yang terinfeksi, karena itu di butuhkan vaksin hidup.

V.                Kejadian ikutan pasca imunisasi
Setiap tindakan medis apapun bisa menimbulkan risiko bagi pasien si penerima layanan baik dalam skala ringan maupun berat. Demikian halnya dengan pemberian vaksinasi. Reaksi yang timbul setelah pemberian vaksinasi disebut sebagai kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) atau adverse events following immunization (AEFI). Dengan semakin canggihnya teknologi pembuatan vaksin dan meningkatnya teknik pemberian vaksinasi, maka reaksi KIPI dapat diminimalisasi. Meskipun risikonya sangat kecil, reaksi KIPI berat dapat saja terjad. Oleh karena itu, petugas imunisasi atau dokter mempunyai kewajiban untuk menjelaskan kemungkinan reaksi KIPI apa saja yang dapat terjadi. Dan bagi orang yang hendak menerima vaksinasi mempunyai hak untuk bertanya dan mengetahui apa saja reaksi KIPI yang terjadi (Suharjo, 2010).
Secara khusus KIPI dapat didefinisikan sebagai kejadian medik yang berhubugan dengan imunisasi, baik oleh karena efek vaksin maupun efek samping, toksisitas, reaksi sensivitas, efek farmakologis, kesalahan program, reaksi suntikan, atau penyebab lain yang tidak dapat ditentukan. Secara umum, reaksi KIPI dapat dikategorikan sebagai akibat kesalahan program, reaksi suntikan, dan reaksi vaksin (Suharjo, 2010).
Sebagian besar kasus KIPI berhubungan dengan kesalahan teknik pelaksanaan vaksinasi, misalnya kelebihan dosis, kesalahan memilih lokasi dan cara menyuntik, sterilitas, dan penyimpanan vaksin. Dengan semakin membaiknya pengelolaan vaksin, pengetahuan, dan keterampilan petugas pemberi vaksinasi, maka kesalahan tersebut dapat diminimalisasi (Suharjo, 2010).
Reaksi suntikan tidak berhubungan dengan kandungan vaksin, tetapi lebih karena trauma akibat tusukan jarum, misalnya bengkak, nyeri, dan kemerahan di temoat suntikan. Selain itu, reaksi suntikan dapat terjadi bukan akibat dari trauma suntikan melainkan karena kecemasan, pusing, atau pingsan karena takut terhadap jarum suntik. Reaksi suntikan dapat dihindari dengan melakukan teknik teknik penyuntikan vaksinasi bagi orang dewasa (Suharjo, 2010).
Gejala yang muncul pada reaksi vaksin sudah bisa diprediksi terlebih dahulu, karena umumnya perusahaan vaksin telah mencantumkan reaksi efek samping yang terjadi setelah pemberian vaksinasi. Keluhan yan muncul umumnya bersifat ringan (demam, bercak merah, nyeri sendi, pusing, nyeri otot). Meskipun hal ini jarang teradi, namun reaksi vaksin dapat bersifat berat, misalnya reaksi serius (anafilaksi) dan kejang. Untunglah bahwa reaksi alergi serius relatif jarang terjadi, misalnya reaksi alergi serius akibat campak kemungkinan kejadiannya hanya 1/1.000.000 dosis (Suharjo ,2010).
VI.             Skema pemberian imunisasi
Description: C:\Users\USER\Documents\Gambar-tugas-SE.jpg



DAFTAR PUSTAKA
Dorland, 2012. Kamus saku kedokteran Dorland, ed. 28 (alih bahasa: Albertus Agung Mahode). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Hadinegoro, Sri Rezeki S. 2000. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. FKUI. Volume 2, Nomor 1.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
Muscari, Mary E. 2005. Panduan Belajar: Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC
Nurwijaya, Hartanti; Andrijono dan Suheini. 2010. Cegah Dan Deteksi Kanker Serviks. Jakarta: Elex Media Komputindo
Umar, 2006. Imunisasi Mengapa Perlu ?.Jakarta : PT. Kompas Media Nusantara
Radji, Maksum. 2009. Vaksin Kanker. Jurnal Mikrobiologi dan Bioteknologi, 109-118.
Ranuh. 2008. Imunisasi Di Indonesia, Edisi 1. Jakarta: Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Suharjo, J.B. 2010. Vaksinasi, cara ampuh cegah penyakit infeksi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Utami, Sri. 2007. Pengembangan Sistem Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) Guna Mendukung Evaluasi Program PIN Di Kota Semarang. Sistem Informasi Manajemen Kesehatan, 5-6.
Warsito, Bambang Edi, & Karina, Adinda Nola. 2012. Jurnal Nursing Studies, 30-35.


No comments:

Post a Comment