Pages - Menu

Sunday, 24 May 2015

Makalah Epidemiologi Penyakit Tidak Menular Hipertensi

BAB I
PENDAHULUAN


Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Peningkatan tekanan darah ini berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dan dapat menimbulkan komplikasi pada ginjal, jantung dan otak. Hampir 1 milyar orang di seluruh dunia menderita  penyakit hipertensi. Di Amerika Serikat, hampir 1 dari 3 orang dewasa (kira-kira dari 73 juta orang) memiliki derajat tekanan darah yang tinggi. Hipertensi merupakan faktor pendukung dari banyak masalah penyakit termasuk myocardial infarction (MI), stroke, gagal jantung, gagal ginjal, dan juga menyebabkan kematian. Pada tahun 2004, sekitar 55.000 kematian secara langsung mengarah kepada hipertensi, dan menjadi bahan pertimbangan dari penyebab 300.000 kematian lainnya. Studi dari Amerika Utara menunjukkan bahwa hipertensi adalah penyebab utama dari 500.000 penyakit stroke (250.000 mati) dan 1000.000 MI ( 500.000 mati) per tahun (Martin. 2008).
Survei Nasional kembali menguak bahwa hipertensi seringkali tidak terdeteksi, dan saat didiagnosa seringkali ditangani dengan adekuat. Diantara pasien hipertensi, hanya 25% pasien yang terkontrol dengan baik (Foex dan Sear, 2004). Ada bukti yang berkembang menyatakan interaksi kompleks antara berbagai faktor genetik dan lingkungan memainkan peran penting dalam menentukan risiko individu dari bermacam-macam penyakit termasuk hipertensi (Kunes dan Zicha, 2006). Gibson (1996) menekankan bahwa interaksi antara gen dengan gen dan interaksi gen dengan lingkungan ada dimana-mana, memberikan kompleksitas pada interaksi intermolekular yang dibutuhkan untuk meregulasi tanda gen dan kompleksitas hierarkial dari ciri-ciri bawaan secara kuantitif (Kunes dan Zicha, 2009).

Ada spekulasi yang menyatakan bahwa hipertensi berkembang disebabkan karena “error” pada sistem regulasi tekanan darah yang terkoordinasi dengan baik. Error dalam aliran molekular, biokimia dan proses genetik, yang meregulasi tekanan darah, berpotensi untuk menyebabkan penyakit hipertensi. (Kunes dan Zicha, 2009)
BAB II
PERMASALAHAN

. Di Amerika Serikat, sekitar 77.900.000 (1 dari setiap 3) orang dewasa memiliki tekanan darah tinggi. Data dari NHANES 2007-2010 menunjukkan bahwa orang-orang dengan tekanan darah tinggi, 81.5 persen sadar mereka memilikinya, 74,9 persen berada di bawah pengobatan saat ini, 52,5 persen memilikinya dikendalikan,  47,5 persen tidak memilikinya dikendalikan. Di antara orang dewasa usia 20 dan lebih tua di Amerika Serikat, berikut ini memiliki tekanan darah tinggi untuk kulit putih non-Hispanik, 33,4 persen pria dan 30,7 persen wanita, untuk kulit hitam non-Hispanik, 42,6 persen pria dan 47,0 persen wanita, untuk Meksiko Amerika, 30,1 persen pria dan 28,8 persen wanita. Proyeksi menunjukkan bahwa pada tahun 2030, prevalensi hipertensi akan meningkat 7,2% dari 2013. Persentase yang lebih tinggi dari pria daripada wanita memiliki tekanan darah tinggi sampai usia 45 tahun Dari usia 45-54 dan 55-64, persentase pria dan wanita adalah sama, lebih tinggi tampak dalam persentase perempuan dibandingkan laki-laki memiliki tekanan darah tinggi. Sekitar 69% dari orang-orang yang mengalami serangan jantung pertama, 77% yang mengalami stroke pertama, dan 74% yang memiliki gagal jantung kongestif memiliki tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mm ​​Hg. Di Amerika darah tinggi merupakan penyebab utama kematian 384,102 dari lebih dari 2,4 juta kematian AS pada tahun 2009.(AHS, 2013)
Berdasarkan laporan pasien yang telah didiagnosis dengan hipertensi, diperkirakan bahwa 3491 tahun potensi kehidupan (PYLL) hilang akibat hipertensi di Virginia pada tahun 2010. Ada total 6.868 kasus rawat inap di rumah sakit Virginia dengan diagnosis utama hipertensi, dengan biaya sebesar $ 216.655.480 dan biaya rata-rata per kasus $ 31.546. Dari kasus ini, jumlah terbesar adalah karena hipertensi penyakit ginjal kronis, diikuti oleh lebih dari 2.000 kasus dengan hipertensi esensial.



BAB III
TINJAUAN  PUSTAKA

A.    Pengertian Hipertesi
Hipertensi adalah suatu penyakit yang kronis dimana tekanan darah meningkat di atas tekanan darah normal . The seventh report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII) menyatakan bahwa seseorang dikatakan hipertensi jika tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih. Hipertensi adalah faktor risiko keempat dari enam faktor risiko terbesar penyebab penyakit kardiovaskuler (Hahn & Payne, 2003).
B.     Klasifikasi Hipertensi
a.       Hipertensi Primer
·         Sekitar 95% dari orang dewasa dengan tekanan darah tinggi memiliki hipertensi primer (kadang-kadang disebut hipertensi essensial).
·         Penyebab hipertensi primer tidak diketahui, meskipun faktor genetik dan lingkungan yang mempengaruhi regulasi tekanan darah sekarang sedang dipelajari.
·         Faktor lingkungan meliputi kelebihan asupan garam, obesitas, dan gaya hidup mungkin menetap.
·         Beberapa faktor yang berhubungan secara genetis dapat mencakup tidak tepatnya aktivitas yang berlebihan dari sistem renin-angiotensinaldosterone dan sistem saraf simpatis dan kerentanan terhadap efek diet garam pada tekanan darah.
·         Penyebab umum lainnya dari hipertensi adalah aorta yang kaku dengan bertambahnya usia. Hal ini menyebabkan hipertensi ini disebut sebagai hipertensi sistolik dominan yang ditandai dengan tekanan sistolik tinggi ( biasanya tekanan diastolik normal), yang ditemukan terutama pada orang tua.


b.      Hipertensi sekunder
·         Kejadian hipertensi ini jumlah kasus yang relatif kecil, sekitar 5% dari semua hipertensi, di mana penyebab tekanan darah tinggi dapat diidentifikasi dan kadang-kadang  diobati.
·         Jenis utama dari hipertensi sekunder adalah penyakit ginjal kronis, stenosis arteri ginjal, berlebihan sekresi aldosteron, pheochromocytoma, dan sleep apnea.
·         Pendekatan skrining sederhana untuk identifikasi hipertensi sekunder dilakukan kemudian.
(Weber et all, 2013)
C.     Keluhan dan Gejala
Penderita hipertensi sering tidak menampakkan gejala. Institut Nasional Jantung, Paru, dan Darah memperkirakan separuh orang yang menderita hipertensi tidak sadar akan kondisinya (Bare &Smeltzer, 2003). Orang yang sudah menyadari hipertensi pada dirinya hanya melakukan sedikit tindakan untuk mengontrolnya, dimana hanya 27% pasien hipertensi yang mengontrol tekanan darahnya secara adekuat (Hahn & Payne, 2003). Pasien baru menyadari kondisinya jika hipertensi sudah menimbulkan komplikasi pada jantung, penyumbatan pembuluh darah, hingga pecahnya pembuluh darah di otak yang berakibat kematian. Hal inilah yang membuat hipertensi dikenal sebagai the silent killer yang berdampak pada tingginya angka kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.
Hipertensi jarang menunjukkan gejala, dan pengenalannya biasanya melalui skrining, atau saat mencari penanganan medis untuk masalah kesehatan yang tidak berkaitan. Beberapa orang dengan tekanan darah tinggi melaporkan sakit kepala (terutama di bagian belakang kepala dan pada pagi hari), serta pusingvertigotinitus (dengung atau desis di dalam telinga), gangguan penglihatan atau pingsan (Fisher ND, 2005).
Gejala-gejala penyakit yang biasa terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal hipertensi yaitu sakit kepala, pusing, gelisah, jantung berdebar, perdarahan hidung, sukar tidur, sesak nafas, cepat marah, telinga berdenging, tekuk terasa berat, berdebar dan sering kencing di malam hari. Gejala akibat komplikasi hipertensi yang pernah dijumpai meliputi gangguan; penglihatan, saraf, jantung, fungsi ginjal dan gangguan serebral (otak) yang mengakibatkan kejang dan perdarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan, ganguan kesadaran hingga koma (Sherwood, L. 2004).
D.    Pemeriksaan penunjang diagnostik
Sebelum dibuat diagnosis hipertensi diperlukan pengukuran berulang paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda selama empat sampai enam minggu. Pengukuran dirumah dapat menggunakan sfigmomanometer yang tepat sehingga menambah jumlah pengukuran untuk analisis (Gray,2005).
Diagnostik hipertensi diperoleh melalui anamnesis mengenai keluhan pasien, riwayat penyakit dahulu dan penyakit keluarga, pemeriksaan fisik meliputi pengukuran tekanan darah, pemeriksaan funduskopi, pengukuran indeks massa tubuh (IMT), pemeriksaan lengkap jantung dan paru-paru, pemeriksaan abdomen untuk melihat pembesaran ginjal, massa intra abdominal, dan pulsasi aorta yang abnormal, palpasi ekstremitas bawah untuk melihat adanya edema dan denyut nadi, serta penilaian neurologis (Kumar et all, 2005).
Selain pemeriksaan fisik diperlukan juga tes laboratorium dan prosedur diagnostik lainnya.Tes laboratorium meliputi urinalis rutin, Blood Ureum Nitrogen (BUN) dan kreatinin serum untuk memeriksa keadaan ginjal, pengukuran kadar alektrolit terutama kalium untuk mendeteksi aldoteronisme, pemeriksaan kadar glukosa drah untuk melihat adanya diabetes mellitus, pemeriksaan kadar kolesterol dan trigliserida untuk melihat adanya resiko aterogenesis, serta pemeriksaan kadar asam urat berkaitan dengan terapi yang memerlukan diuretik.Sedangkan prosedur diagnostik lain seperti rontgen bagian dada (elektrokardiografi) juga diperlukan untuk melihat keadaan jantung dan pembuluh aorta serta memberikan informasi tentang status kerja jantung (Lewis dan Collier, 1983).
  1. Faktor-Faktor Resiko Hipertensi
Faktor yang bertanggung jawab terhadap mekanisme terjadinya Hipertensi bukanlah faktor tunggal melainkan multifaktor yaitu faktor genetik maupun faktor lingkungan dan gaya hidup (faktor makanan dan faktor stres).Faktor makanan yang merupakan penentu tingginya tekanan darah meliputi intake lemak jenuh yang tinggi yang menyebabkan kelebihan lemak tubuh atau obesitas, intake garam yang tinggi, intake kalium yang rendah. Sedangkan gaya hidup yang berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi adalah kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan kurangnya olah raga.Risiko relatif hipertensi tergantung pada jumlah dan keparahan dari faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor-faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara lain faktor genetik, umur, jenis kelamin, dan etnis. Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi meliputi stres, obesitas dan nutrisi (Black dan hawks, 2005).
Hipertensi primer mempunyai kecenderungan genetik yang kuat dan didukung dengan faktor risiko seperti obesitas, konsumsi garam dan lemak jenuh berlebih, dan kebiasaan merokok
a.       Faktor genetik
Salah satu faktor tidak dapat dimodifikasi yang mempengaruhi tingkat kejadian hipertensi adalah riwayat keluarga dengan hipertensi. Hipertensi adalah penyakit poligenik dan multifaktorial (Black & Hawks, 2005). Seseorang dengan riwayat keluarga hipertensi, beberapa gennya akan berinteraksi satu sama lain dengan lingkungan, yang akan meningkatkan tekanan darah. Seseorang yang orang tuanya menderita hipertensi akan mempunyai risiko lebih besar mengalami hipertensi pada usia muda. Selain itu, Predisposisi genetik berhubungan dengan tingginya kadar sodium di intraseluler dan rendahnya kadar potassium dibandingkan kadar sodium. Hal ini banyak terjadi pada ras kulit hitam.
b.      Umur
Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan umur. Pasien yangberumur di atas 60 tahun, 50 – 60 % mempunyai tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg. Hal ini merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya (Black dan hawks, 2005).
c.       Jenis kelamin
Faktor gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi, dimana pria lebih banyak dibandingkan wanita. Pria diduga memiliki gaya hidup yang cenderung dapat meningkatkan tekanan darah dibanding wanita. Namun setelah memasuki menepouse, prevalensi hipertensi pada wanita meningkat. Hal tersebut dikarenakan adanya  hormon estrogen yang dapat melindungi wanita dari penyakit kardiovaskuler. Kadar hormon ini akan menurun setelah menepouse (Gray, 2005).
d.      Etnis
Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam dari pada yang berkulit putih. Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti penyebabnya. Namun pada orang kulit hitam ditemukan kadar renin yang lebih rendah dan sensitifitas terhadap vasopresin lebih besar (Gray, 2005).
e.       Obesitas
Black & Hawks menyatakan bahwa dari 60% pasien yang menderita hipertensi, 20% di antaranya mempunyai berat badan berlebih. Penurunan berat badan sebesar 5% dapat menurunkan tekanan darah. Penurunan berat badan 9,2 kg dapat menurunkan tekanan darah baik sistole dan diastole sebesar 6,3 dan 3,1 mmHg (Black & Hawks, 2005).
f.       Konsumsi Rokok
Rokok menyebabkan peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan juga menyebabkan pengapuran sehingga volume plasma darah berkurang karena tercemar nikotin, akibatnya viskositas darah meningkat sehingga timbul Hipertensi (kumar et all, 2005).
g.      Stress
Stress akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan keluaran jantung. Selain itu, stress dapat menstimulasi sistem saraf simpatik. Dalam kondisi tertekan adrenalin dan kortisol dilepaskan ke aliran darah sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah agar tubuh siap beraksi. Stress yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai penyakit yang salah satunya adalah hipertensi (Hahn & Payne, 2003).
F.      Cara Pencegahan
Cukup banyak orang yang mengalami hipertensi tetapi tidak menyadarinya.Diperlukan tindakan yang mencakup seluruh populasi untuk mengurangi akibat tekanan darah tinggi dan meminimalkan kebutuhan terapi dengan obat antihipertensi. Dianjurkan perubahan gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah, sebelum memulai terapi obat. Untuk pencegahan utama bagi hipertensi sebagai berikut:
·         Menjaga berat badan normal (misalnya, indeks massa tubuh 20–25 kg/m2).
·         Mengurangi asupan diet yang mengandung natrium sampai <100 mmol/ hari (<6 g natrium klorida atau <2,4 g natrium per hari). Banyak yang tidak menyadari bahwa makanan ringan dan juga mie instan banyak mengandung garam
·         Melakukan aktivitas fisik aerobik secara teratur, misalnya jalan cepat (≥30 menit per hari, pada hampir setiap hari dalam seminggu).
·         Batasi konsumsi alkohol tidak lebih dari 3 unit/hari pada laki-laki dan tidak lebih dari 2 unit/hari pada perempuan.
·         Mengonsumsi makanan yang kaya buah dan sayuran (misalnya, sedikitnya lima porsi per hari). (William, 2004).
G.    Cara Pengobatan
Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah:
- Target tekanan darah yatiu <140/90 mmHg dan untuk individu berisiko tinggi seperti diabetes melitus, gagal ginjal target tekanan darah adalah <130/80 mmHg.
- Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler.
- Menghambat laju penyakit ginjal.
a.  Non Farmakologis
Terapi non farmakologis terdiri dari menghentikan kebiasaan merokok, menurunkan berat badan berlebih, konsumsi alkohol berlebih, asupan garam dan asupan lemak, latihan fisik serta meningkatkan konsumsi buah dan sayur.
- Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih Peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap tekanan darahnya. Oleh karena itu, manajemen berat badan sangat penting dalam prevensi dan kontrol hipertensi.
- Meningkatkan aktifitas fisik Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30-50% daripada yang aktif. Oleh karena itu, aktivitas fisik antara 30-45 menit sebanyak >3x/hari penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi.
- Mengurangi asupan natrium Apabila diet tidak membantu dalam 6 bulan, maka perlu pemberian obat anti hipertensi oleh dokter.
- Menurunkan konsumsi kafein dan alkohol Kafein dapat memacu jantung bekerja lebih cepat, sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya. Sementara konsumsi alkohol lebih dari 2-3 gelas/hari dapat meningkatkan risiko hipertensi.
b. Farmakologis
Terapi farmakologis yaitu obat antihipertensi yang dianjurkan oleh JNC VII yaitu diuretika, terutama jenis thiazide (Thiaz) atau aldosteron antagonis, beta blocker, calcium chanel blocker atau calcium antagonist, Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI), Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor antagonist/ blocker (ARB).(Weber et all, 2013)
H.    Rehabilitasi
Rehabilitasi merupakan upaya perbaikan dampak negatif dari hipertensi yang tidak bisa diobati. Upaya yang dapat dilakukan oleh penderita hipertensi antara lain dengan perubahan pola makan dan gaya hidup sehat yang harus dilakukan secara kontinum seperti menurunkan berat badan hingga mencapai berat badan ideal, berolahraga, dan pola makan seimbang seperti mengurangi asupan garam karena didalam garam terdapat kandungan sodium yang dapat meningkatkan tekanan darah bagi orang yang memiliki sensitifitas garam . Untuk rehabilitasi hipertensi kronis yang sudah sangat sulit untuk disembuhkan adalah berusaha semaksimal mungkin agar tekanan darahnya selalu berada dalam keadaan yang stabil dengan melakukan hal-hal yang telah dijelaskan diatas karena apabila tekanan darah melonjak dengan drastis dan tiba-tiba ( krisis hipertensi) maka disanalah hal yang buruk akan terjadi pada dirinya.
I.       Prognosis
Prognosis bagi penderita hipertensi adalah baik bila terdeteksi secara dini dan segera mendapat pengobatan, begitu pula sebaliknya, jika hipertensi tidak disadari dan tidak dilakukan pengobatan dengan segara serta tidak pula dikendalikan maka prognosis akan menjadi buruk dan akan menimbulkan kematian. Penyakit hipertensi tidak bisa disembuhkan secara sempurna, hanya dapat dikendalikan agar tekanan darah penderita stabil.
BAB IV
PENUTUP

Hipertensi adalah suatu penyakit yang kronis dimana tekanan darah meningkat di atas tekanan darah normal. Hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu hipertensi primer dan sekunder ,Keluhan dan gejala penyakit hipertensi adalah biasanya tidak dirasakan oleh penderita,gejala hipertensi bisa dilihat dengan melakukan skrining. Sedangkan Faktor resiko dari Hipertensi itu sendiri bisa dari faktor genetik,umur, jenis kelamin,etnis,stres,obesitas,dan konsumsi rokok. Untuk pencegahannya dianjurkan melakukan perubahan gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah, sebelum memulai terapi obat. Dan Untuk pengobatannya dapat dilakukan terapi secara Non farmakologis dan Farmakologis. Rehabilitasi dari penyakit hipertensi itu sendiri dilakukan dengan Upaya merubah pola makan dan gaya hidup sehat yang harus dilakukan secara kontinum













TUGAS TERSTRUKTUR
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR
“HIPERTENSI”




Description: C:\Users\User\Documents\take.gif



Disusun oleh :

                          Annisa Naelusyfani                              G1B011057
Irwan Nur Rizky                                 G1B012028
  Hidayat Pulungan                                G1B012060
  Hani Eka Noviani                                G1B012066

                                   




KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU- ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2014
BAB V
DAFTAR PUSTAKA

American heart association. 2013.statistical fact sheet high blood pressure.

AH Wade, DN Weir1, AP Cameron and SE Tett. 2003. Using a problem detection       study (PDS) to identify and compare health care providerand consumer views of antihypertensive therapy. Journal of Human Hypertension Journal of Human Hypertension (2003) 17, 397–405

Michael A. Weber et all .2012. Clinical Practice Guidelines for the Management   of  Hypertensionin the Community A Statement by the American Society of Hypertension and the International Society of Hypertension. Official Journal of the American Society of Hypertension, Inc.

B Williams et all. 2004. Guidelines for management of hypertension: report of the fourth working party of the British Hypertension Society, 2004—BHS IV. Journal of Human Hypertension (2004) 18, 139–185



.

No comments:

Post a Comment