BAB
I
PENDAHULUAN
Hipertensi atau tekanan
darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan
tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Peningkatan tekanan darah ini
berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dan dapat menimbulkan komplikasi
pada ginjal, jantung dan otak. Hampir 1 milyar orang di seluruh dunia menderita
penyakit hipertensi. Di Amerika Serikat,
hampir 1 dari 3 orang dewasa (kira-kira dari 73 juta orang) memiliki derajat
tekanan darah yang tinggi. Hipertensi merupakan faktor pendukung dari banyak
masalah penyakit termasuk myocardial
infarction (MI), stroke, gagal jantung, gagal ginjal, dan juga menyebabkan
kematian. Pada tahun 2004, sekitar 55.000 kematian secara langsung mengarah
kepada hipertensi, dan menjadi bahan pertimbangan dari penyebab 300.000
kematian lainnya. Studi dari Amerika Utara menunjukkan bahwa hipertensi adalah
penyebab utama dari 500.000 penyakit stroke (250.000 mati) dan 1000.000 MI (
500.000 mati) per tahun (Martin. 2008).
Survei
Nasional kembali menguak bahwa hipertensi seringkali tidak terdeteksi, dan saat
didiagnosa seringkali ditangani dengan adekuat. Diantara pasien hipertensi,
hanya 25% pasien yang terkontrol dengan baik (Foex dan Sear, 2004). Ada bukti
yang berkembang menyatakan interaksi kompleks antara berbagai faktor genetik
dan lingkungan memainkan peran penting dalam menentukan risiko individu dari
bermacam-macam penyakit termasuk hipertensi (Kunes dan Zicha, 2006). Gibson
(1996) menekankan bahwa interaksi antara gen dengan gen dan interaksi gen
dengan lingkungan ada dimana-mana, memberikan kompleksitas pada interaksi
intermolekular yang dibutuhkan untuk meregulasi tanda gen dan kompleksitas
hierarkial dari ciri-ciri bawaan secara kuantitif (Kunes dan Zicha, 2009).
Ada
spekulasi yang menyatakan bahwa hipertensi berkembang disebabkan karena “error”
pada sistem regulasi tekanan darah yang terkoordinasi dengan baik. Error dalam
aliran molekular, biokimia dan proses genetik, yang meregulasi tekanan darah, berpotensi
untuk menyebabkan penyakit hipertensi. (Kunes dan Zicha, 2009)
BAB II
PERMASALAHAN
. Di Amerika
Serikat, sekitar 77.900.000 (1 dari setiap 3) orang dewasa memiliki tekanan
darah tinggi. Data dari NHANES 2007-2010 menunjukkan bahwa orang-orang dengan
tekanan darah tinggi, 81.5 persen sadar mereka memilikinya, 74,9 persen berada
di bawah pengobatan saat ini, 52,5 persen memilikinya dikendalikan, 47,5 persen tidak memilikinya dikendalikan.
Di antara orang dewasa usia 20 dan lebih tua di Amerika Serikat, berikut ini
memiliki tekanan darah tinggi untuk kulit putih non-Hispanik, 33,4 persen pria
dan 30,7 persen wanita, untuk kulit hitam non-Hispanik, 42,6 persen pria dan
47,0 persen wanita, untuk Meksiko Amerika, 30,1 persen pria dan 28,8 persen
wanita. Proyeksi menunjukkan bahwa pada tahun 2030, prevalensi hipertensi akan
meningkat 7,2% dari 2013. Persentase yang lebih tinggi dari pria daripada
wanita memiliki tekanan darah tinggi sampai usia 45 tahun Dari usia 45-54 dan
55-64, persentase pria dan wanita adalah sama, lebih tinggi tampak dalam
persentase perempuan dibandingkan laki-laki memiliki tekanan darah tinggi.
Sekitar 69% dari orang-orang yang mengalami serangan jantung pertama, 77% yang
mengalami stroke pertama, dan 74% yang memiliki gagal jantung kongestif
memiliki tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mm Hg. Di Amerika darah
tinggi merupakan penyebab utama kematian 384,102 dari lebih dari 2,4 juta
kematian AS pada tahun 2009.(AHS, 2013)
Berdasarkan laporan pasien yang
telah didiagnosis dengan hipertensi, diperkirakan bahwa 3491 tahun potensi
kehidupan (PYLL) hilang akibat hipertensi di Virginia pada tahun 2010. Ada
total 6.868 kasus rawat inap di rumah sakit Virginia dengan diagnosis utama
hipertensi, dengan biaya sebesar $ 216.655.480 dan biaya rata-rata per kasus $
31.546. Dari kasus ini, jumlah terbesar adalah karena hipertensi penyakit
ginjal kronis, diikuti oleh lebih dari 2.000 kasus dengan hipertensi esensial.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Hipertesi
Hipertensi adalah suatu penyakit yang
kronis dimana tekanan darah meningkat di atas tekanan darah normal . The
seventh report of the Joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII)
menyatakan bahwa seseorang dikatakan hipertensi jika tekanan darah sistolik 140
mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih. Hipertensi
adalah faktor risiko keempat dari enam faktor risiko terbesar penyebab penyakit
kardiovaskuler (Hahn & Payne, 2003).
B. Klasifikasi Hipertensi
a.
Hipertensi Primer
·
Sekitar 95% dari orang dewasa dengan tekanan darah tinggi memiliki
hipertensi primer (kadang-kadang disebut hipertensi essensial).
·
Penyebab hipertensi primer tidak diketahui, meskipun faktor
genetik dan lingkungan yang mempengaruhi regulasi tekanan darah sekarang sedang
dipelajari.
·
Faktor lingkungan meliputi kelebihan asupan garam, obesitas, dan
gaya hidup mungkin menetap.
·
Beberapa faktor yang berhubungan secara genetis dapat mencakup
tidak tepatnya aktivitas yang berlebihan dari sistem
renin-angiotensinaldosterone dan sistem saraf simpatis dan kerentanan terhadap
efek diet garam pada tekanan darah.
·
Penyebab umum lainnya dari hipertensi adalah aorta yang kaku
dengan bertambahnya usia. Hal ini menyebabkan hipertensi ini disebut sebagai
hipertensi sistolik dominan yang ditandai dengan tekanan sistolik tinggi (
biasanya tekanan diastolik normal), yang ditemukan terutama pada orang tua.
b.
Hipertensi sekunder
·
Kejadian hipertensi ini jumlah kasus yang relatif kecil, sekitar
5% dari semua hipertensi, di mana penyebab tekanan darah tinggi dapat
diidentifikasi dan kadang-kadang
diobati.
·
Jenis utama dari hipertensi sekunder adalah penyakit ginjal
kronis, stenosis arteri ginjal, berlebihan sekresi aldosteron, pheochromocytoma, dan sleep apnea.
·
Pendekatan skrining sederhana untuk identifikasi hipertensi
sekunder dilakukan kemudian.
(Weber et all, 2013)
C.
Keluhan dan Gejala
Penderita hipertensi
sering tidak menampakkan gejala. Institut Nasional Jantung, Paru, dan Darah
memperkirakan separuh orang yang menderita hipertensi tidak sadar akan
kondisinya (Bare &Smeltzer, 2003). Orang yang sudah menyadari hipertensi
pada dirinya hanya melakukan sedikit tindakan untuk mengontrolnya, dimana hanya
27% pasien hipertensi yang mengontrol tekanan darahnya secara adekuat (Hahn
& Payne, 2003). Pasien baru menyadari kondisinya jika hipertensi sudah
menimbulkan komplikasi pada jantung, penyumbatan pembuluh darah, hingga
pecahnya pembuluh darah di otak yang berakibat kematian. Hal inilah yang membuat
hipertensi dikenal sebagai the silent killer yang berdampak pada tingginya
angka kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.
Hipertensi jarang
menunjukkan gejala, dan pengenalannya biasanya melalui skrining,
atau saat mencari penanganan medis untuk masalah kesehatan yang tidak
berkaitan. Beberapa orang dengan tekanan darah tinggi melaporkan sakit
kepala (terutama di bagian belakang kepala dan pada
pagi hari), serta pusing, vertigo, tinitus (dengung
atau desis di dalam telinga), gangguan penglihatan atau pingsan
(Fisher ND, 2005).
Gejala-gejala penyakit
yang biasa terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan
tekanan darah yang normal hipertensi yaitu sakit kepala, pusing, gelisah,
jantung berdebar, perdarahan hidung, sukar tidur, sesak nafas, cepat marah,
telinga berdenging, tekuk terasa berat, berdebar dan sering kencing di malam
hari. Gejala akibat komplikasi hipertensi yang pernah dijumpai meliputi
gangguan; penglihatan, saraf, jantung, fungsi ginjal dan gangguan serebral
(otak) yang mengakibatkan kejang dan perdarahan pembuluh darah otak yang
mengakibatkan kelumpuhan, ganguan kesadaran hingga koma (Sherwood, L. 2004).
D.
Pemeriksaan penunjang diagnostik
Sebelum dibuat
diagnosis hipertensi diperlukan pengukuran berulang paling tidak pada tiga
kesempatan yang berbeda selama empat sampai enam minggu. Pengukuran dirumah
dapat menggunakan sfigmomanometer yang tepat sehingga menambah jumlah
pengukuran untuk analisis (Gray,2005).
Diagnostik hipertensi
diperoleh melalui anamnesis mengenai keluhan pasien, riwayat penyakit dahulu
dan penyakit keluarga, pemeriksaan fisik meliputi pengukuran tekanan darah,
pemeriksaan funduskopi, pengukuran indeks massa tubuh (IMT), pemeriksaan lengkap
jantung dan paru-paru, pemeriksaan abdomen untuk melihat pembesaran ginjal,
massa intra abdominal, dan pulsasi aorta yang abnormal, palpasi ekstremitas
bawah untuk melihat adanya edema dan denyut nadi, serta penilaian neurologis
(Kumar et all, 2005).
Selain pemeriksaan
fisik diperlukan juga tes laboratorium dan prosedur diagnostik lainnya.Tes
laboratorium meliputi urinalis rutin, Blood Ureum Nitrogen (BUN) dan kreatinin
serum untuk memeriksa keadaan ginjal, pengukuran kadar alektrolit terutama
kalium untuk mendeteksi aldoteronisme, pemeriksaan kadar glukosa drah untuk
melihat adanya diabetes mellitus, pemeriksaan kadar kolesterol dan trigliserida
untuk melihat adanya resiko aterogenesis, serta pemeriksaan kadar asam urat
berkaitan dengan terapi yang memerlukan diuretik.Sedangkan prosedur diagnostik
lain seperti rontgen bagian dada (elektrokardiografi) juga diperlukan untuk
melihat keadaan jantung dan pembuluh aorta serta memberikan informasi tentang
status kerja jantung (Lewis dan Collier, 1983).
- Faktor-Faktor
Resiko Hipertensi
Faktor yang bertanggung
jawab terhadap mekanisme terjadinya Hipertensi bukanlah faktor tunggal
melainkan multifaktor yaitu faktor genetik maupun faktor lingkungan dan gaya
hidup (faktor makanan dan faktor stres).Faktor makanan yang merupakan penentu
tingginya tekanan darah meliputi intake lemak jenuh yang tinggi yang
menyebabkan kelebihan lemak tubuh atau obesitas, intake garam yang tinggi,
intake kalium yang rendah. Sedangkan gaya hidup yang berpengaruh terhadap
terjadinya hipertensi adalah kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan kurangnya
olah raga.Risiko relatif hipertensi tergantung pada jumlah dan keparahan dari
faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi.
Faktor-faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara lain faktor genetik, umur,
jenis kelamin, dan etnis. Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi meliputi
stres, obesitas dan nutrisi (Black dan hawks, 2005).
Hipertensi primer mempunyai
kecenderungan genetik yang kuat dan didukung dengan faktor risiko seperti
obesitas, konsumsi garam dan lemak jenuh berlebih, dan kebiasaan merokok
a.
Faktor genetik
Salah
satu faktor tidak dapat dimodifikasi yang mempengaruhi tingkat kejadian
hipertensi adalah riwayat keluarga dengan hipertensi. Hipertensi adalah penyakit
poligenik dan multifaktorial (Black & Hawks, 2005). Seseorang dengan
riwayat keluarga hipertensi, beberapa gennya akan berinteraksi satu sama lain
dengan lingkungan, yang akan meningkatkan tekanan darah. Seseorang yang orang
tuanya menderita hipertensi akan mempunyai risiko lebih besar mengalami
hipertensi pada usia muda. Selain itu, Predisposisi genetik berhubungan dengan
tingginya kadar sodium di intraseluler dan rendahnya kadar potassium
dibandingkan kadar sodium. Hal ini banyak terjadi pada ras kulit hitam.
b.
Umur
Insidensi
hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan umur. Pasien yangberumur di
atas 60 tahun, 50 – 60 % mempunyai tekanan darah lebih besar atau sama dengan
140/90 mmHg. Hal ini merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang
bertambah usianya (Black dan hawks, 2005).
c.
Jenis kelamin
Faktor
gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi, dimana pria lebih banyak
dibandingkan wanita. Pria diduga memiliki gaya hidup yang cenderung dapat
meningkatkan tekanan darah dibanding wanita. Namun setelah memasuki menepouse,
prevalensi hipertensi pada wanita meningkat. Hal tersebut dikarenakan
adanya hormon estrogen yang dapat
melindungi wanita dari penyakit kardiovaskuler. Kadar hormon ini akan menurun
setelah menepouse (Gray, 2005).
d.
Etnis
Hipertensi
lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam dari pada yang berkulit putih.
Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti penyebabnya. Namun pada orang
kulit hitam ditemukan kadar renin yang lebih rendah dan sensitifitas terhadap
vasopresin lebih besar (Gray, 2005).
e.
Obesitas
Black
& Hawks menyatakan bahwa dari 60% pasien yang menderita hipertensi, 20% di
antaranya mempunyai berat badan berlebih. Penurunan berat badan sebesar 5%
dapat menurunkan tekanan darah. Penurunan berat badan 9,2 kg dapat menurunkan
tekanan darah baik sistole dan diastole sebesar 6,3 dan 3,1 mmHg (Black &
Hawks, 2005).
f.
Konsumsi
Rokok
Rokok
menyebabkan peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan juga menyebabkan
pengapuran sehingga volume plasma darah berkurang karena tercemar nikotin,
akibatnya viskositas darah meningkat sehingga timbul Hipertensi (kumar et all, 2005).
g.
Stress
Stress
akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan keluaran jantung.
Selain itu, stress dapat menstimulasi sistem saraf simpatik. Dalam kondisi
tertekan adrenalin dan kortisol dilepaskan ke aliran darah sehingga menyebabkan
peningkatan tekanan darah agar tubuh siap beraksi. Stress yang tidak dikelola
dengan baik dapat menimbulkan berbagai penyakit yang salah satunya adalah
hipertensi (Hahn & Payne, 2003).
F.
Cara Pencegahan
Cukup banyak orang yang
mengalami hipertensi tetapi tidak menyadarinya.Diperlukan tindakan yang
mencakup seluruh populasi untuk mengurangi akibat tekanan darah tinggi dan
meminimalkan kebutuhan terapi dengan obat antihipertensi. Dianjurkan perubahan
gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah, sebelum memulai terapi obat. Untuk
pencegahan utama bagi hipertensi sebagai berikut:
·
Menjaga berat badan normal (misalnya,
indeks massa tubuh 20–25 kg/m2).
·
Mengurangi asupan diet yang mengandung
natrium sampai <100 mmol/ hari (<6 g natrium klorida atau <2,4 g
natrium per hari). Banyak yang tidak menyadari bahwa makanan ringan dan juga
mie instan banyak mengandung garam
·
Melakukan aktivitas fisik aerobik secara
teratur, misalnya jalan cepat (≥30 menit per hari, pada hampir setiap hari
dalam seminggu).
·
Batasi konsumsi alkohol tidak lebih dari
3 unit/hari pada laki-laki dan tidak lebih dari 2 unit/hari pada perempuan.
·
Mengonsumsi makanan yang kaya buah dan
sayuran (misalnya, sedikitnya lima porsi per hari). (William, 2004).
G.
Cara Pengobatan
Tujuan
pengobatan pasien hipertensi adalah:
-
Target tekanan darah yatiu <140/90 mmHg dan untuk individu berisiko tinggi seperti
diabetes melitus, gagal ginjal target tekanan darah adalah <130/80 mmHg.
- Penurunan morbiditas
dan mortalitas kardiovaskuler.
- Menghambat laju
penyakit ginjal.
a. Non
Farmakologis
Terapi non farmakologis
terdiri dari menghentikan kebiasaan merokok, menurunkan berat badan berlebih,
konsumsi alkohol berlebih, asupan garam dan asupan lemak, latihan fisik serta
meningkatkan konsumsi buah dan sayur.
- Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih
Peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap tekanan
darahnya. Oleh karena itu, manajemen berat badan sangat penting dalam prevensi
dan kontrol hipertensi.
- Meningkatkan aktifitas fisik Orang yang
aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30-50% daripada yang aktif.
Oleh karena itu, aktivitas fisik antara 30-45 menit sebanyak >3x/hari
penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi.
- Mengurangi asupan natrium Apabila diet tidak
membantu dalam 6 bulan, maka perlu pemberian obat anti hipertensi oleh dokter.
- Menurunkan konsumsi kafein dan alkohol Kafein
dapat memacu jantung bekerja lebih cepat, sehingga mengalirkan lebih banyak
cairan pada setiap detiknya. Sementara konsumsi alkohol lebih dari 2-3
gelas/hari dapat meningkatkan risiko hipertensi.
b. Farmakologis
Terapi farmakologis
yaitu obat antihipertensi yang dianjurkan oleh JNC VII yaitu diuretika, terutama
jenis thiazide (Thiaz) atau aldosteron antagonis, beta blocker,
calcium chanel blocker atau calcium antagonist, Angiotensin Converting
Enzyme Inhibitor (ACEI), Angiotensin II Receptor Blocker atau
AT1 receptor antagonist/ blocker (ARB).(Weber et all, 2013)
H.
Rehabilitasi
Rehabilitasi merupakan
upaya perbaikan dampak negatif dari hipertensi yang tidak bisa diobati. Upaya
yang dapat dilakukan oleh penderita hipertensi antara lain dengan perubahan
pola makan dan gaya hidup sehat yang harus dilakukan secara kontinum seperti
menurunkan berat badan hingga mencapai berat badan ideal, berolahraga, dan pola
makan seimbang seperti mengurangi asupan garam karena didalam garam terdapat
kandungan sodium yang dapat meningkatkan tekanan darah bagi orang yang memiliki
sensitifitas garam . Untuk rehabilitasi hipertensi kronis yang sudah sangat
sulit untuk disembuhkan adalah berusaha semaksimal mungkin agar tekanan
darahnya selalu berada dalam keadaan yang stabil dengan melakukan hal-hal yang
telah dijelaskan diatas karena apabila tekanan darah melonjak dengan drastis
dan tiba-tiba ( krisis hipertensi) maka disanalah hal yang buruk akan terjadi
pada dirinya.
I.
Prognosis
Prognosis bagi
penderita hipertensi adalah baik bila terdeteksi secara dini dan segera
mendapat pengobatan, begitu pula sebaliknya, jika hipertensi tidak disadari dan
tidak dilakukan pengobatan dengan segara serta tidak pula dikendalikan maka
prognosis akan menjadi buruk dan akan menimbulkan kematian. Penyakit hipertensi
tidak bisa disembuhkan secara sempurna, hanya dapat dikendalikan agar tekanan
darah penderita stabil.
BAB IV
PENUTUP
Hipertensi adalah suatu penyakit
yang kronis dimana tekanan darah meningkat di atas tekanan darah normal. Hipertensi dapat
diklasifikasikan menjadi 2 yaitu hipertensi primer dan sekunder ,Keluhan dan
gejala penyakit hipertensi adalah biasanya tidak dirasakan oleh
penderita,gejala hipertensi bisa dilihat dengan melakukan skrining. Sedangkan
Faktor resiko dari Hipertensi itu sendiri bisa dari faktor genetik,umur, jenis
kelamin,etnis,stres,obesitas,dan konsumsi rokok. Untuk pencegahannya dianjurkan
melakukan perubahan gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah, sebelum memulai
terapi obat. Dan Untuk pengobatannya dapat dilakukan terapi secara Non
farmakologis dan Farmakologis. Rehabilitasi dari penyakit hipertensi itu
sendiri dilakukan dengan Upaya merubah pola makan dan gaya hidup sehat yang
harus dilakukan secara kontinum
TUGAS TERSTRUKTUR
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR
“HIPERTENSI”

Disusun
oleh :
Annisa Naelusyfani G1B011057
Irwan
Nur Rizky
G1B012028
Hidayat Pulungan G1B012060
Hani Eka Noviani G1B012066
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU- ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2014
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
American heart
association. 2013.statistical fact sheet high blood pressure.
AH
Wade, DN Weir1, AP Cameron and SE Tett. 2003. Using a problem detection
study (PDS) to identify and compare health care providerand consumer
views of antihypertensive therapy. Journal
of Human Hypertension Journal of Human Hypertension (2003) 17, 397–405
Michael A. Weber et all
.2012. Clinical
Practice Guidelines for the Management
of Hypertensionin the Community A
Statement by the American Society of Hypertension and the International Society
of Hypertension. Official Journal of the American
Society of Hypertension, Inc.
B Williams et all.
2004. Guidelines for management of hypertension: report of the fourth working
party of the British Hypertension Society, 2004—BHS IV. Journal of Human
Hypertension (2004) 18, 139–185
.
No comments:
Post a Comment