Penyakit Menular adalah
penyakit yang disebabkan oleh bibit
penyakit tertentu atau oleh produk toxin yang didapatkan melalui penularan
bibit penyakit atau toxin yang diproduksi oleh bibit penyakit tersebut dari
orang yang terinfeksi, dari binatang atau dari reservoir kepada orang yang
rentan; baik secara langsung maupun tidak langsung melalui tumbuh-tumbuhan atau
binatang pejamu, melalui vector atau melalui lingkungan.
I.
Tuberkulosis
A.
Pengertian
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit granulomatosa kronis menular
yang disebabkan oleh MT. Penyakit ini biasanya mengenai paru, tetapi
dapat menyerang semua organ atau jaringan tubuh, misalnya pada lymph node,
pleura dan area osteoartikular. Biasanya pada bagian tengah
granuloma tuberkel mengalami nekrosis perkijuan (Depkes RI, 2002).
Tuberculosis (TB) adalah penyakit
menular langsung yang disebabkan oleh oleh kuman TB (Mycobacterium
tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga
mengenai organ tubuh lainnya (Depkes RI, 2007).
Tuberkulosis yang menyerang organ selain paru (kelenjar limfe,
kulit, otak, tulang, usus, ginjal) disebut tuberkulosis ekstra paru. Mycobacterium
tuberculosis berbentuk batang, berukuran panjang 1-4 mikron dan tebal
0,3-0,6 mikron, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada
pewarnaan, oleh karena itu disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman tuberkulosis
cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa
jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat dormant
atau tertidur lama dalam beberapa tahun.
B.
Cara Penularan
Penularan
penyakit Tuberkulosis disebabkan oleh kuman Mycobacteriun tuberculosis ditularkan
melalui udara (droplet nuclei) saat seorang pasien Tuberkulosis batuk
dan percikan ludah yang mengandung bakteri terhirup oleh orang lain saat
bernapas. Sumber penularan adalah pasien Tuberkulosis paru BTA positif, bila
penderita batuk, bersin atau berbicara saat berhadapan dengan orang lain, basil
Tuberkulosis tersembur dan terhisap ke dalam paru orang sehat dan bisa menyebar
ke bagian tubuh lain melalui peredaran darah pembuluh limfe atau langsung ke
organ terdekat. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.
Masa inkubasinya selama 3-6 bulan (Widoyono, 2005).
II.
Host,
Agen dan Environtment
Teori
John Gordon mengemukakan bahwa timbulnya
suatu penyakit sangat dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu bibit penyakit
(agent), pejamu (host), dan lingkungan (environment). Untuk
memprediksi penyakit, model ini menekankan perlunya analis dan pemahaman
masing-masing komponen. Penyakit dapat terjadi karena adanya ketidak seimbangan
antar ketiga komponen tersebut. Model ini lebih di kenal dengan model triangle
epidemiologi atau triad epidemilogi dan cocok untuk menerangkan penyebab
penyakit infeksi sebab peran agent (yakni mikroba) mudah di isolasikan dengan
jelas dari lingkungan.
A.
Host
Host atau pejamu
adalah manusia atau hewan hidup, termasuk burung dan arthropoda yang dapat
memberikan tempat tinggal dalam kondisi alam. Manusia merupakan reservoar untuk
penularan kuman Mycobacterium tuberculosis, kuman tuberkulosis menular
melalui droplet nuclei. Seorang penderita tuberkulosis dapat menularkan
pada 10-15 orang (Depkes RI, 2002).
Host untuk kuman
tuberkulosis paru adalah manusia dan hewan, tetapi host yang dimaksud disini
adalah manusia. Beberapa faktor host yang mempengaruhi penularan penyakit
tuberkulosis paru adalah :
1.
Jenis kelamin
Beberapa
penelitian menunjukan bahwa laki-laki sering terkena TB paru dibandingkan
perempuan. Hal ini terjadi karena laki-laki memiliki aktivitas yang lebih
tinggi dibandingkan perempuan sehingga kemungkinan terpapar lebih besar pada
laki-laki (dalam Sitepu, 2009).
2.
Umur
Di Indonesia
diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah kelompok usia produktif yaitu 15-50
tahun (Kementrian Kesehatan RI,2010). Karena Pada usia produktif selalu
dibarengi dengan aktivitas yang meningkat sehingga banyak berinteraksi dengan
kegiatan kegiatan yang banyak pengaruh terhadap resiko tertular penyakit TB
paru.
3.
Kondisi sosial ekonomi
WHO 2003
menyebutkan 90% penderita tuberkulosis paru di dunia menyerang kelompok dengan
sosial ekonomi lemah atau miskin (dalam Fatimah,2008). Penurunan pendapatan
dapat menyebabkan kurangnya kemampuan daya beli dalam memenuhi konsumsi makanan
sehingga akan berpengaruh terhadap status gizi. Apabila status gizi buruk maka
akan menyebabkan kekebalan tubuh yang menurun sehingga memudahkan terkena
infeksi TB Paru.
4.
Kekebalan
Kekebalan dibagi
menjadi dua macam, yaitu : kekebalan alamiah dan buatan. Kekebalan alamiah
didapatkan apabila seseorang pernah menderita tuberkulosis paru dan secara
alamiah tubuh membentuk antibodi, sedangkan kekebalan buatan diperoleh sewaktu
seseorang diberi vaksin BCG (Bacillis Calmette Guerin). Tetapi bila kekebalan
tubuh lemah maka kuman tuberkulosis paru akan mudah menyebabkan penyakit
tuberkulosis paru (Fatimah, 2008).
5.
Status gizi
Apabila kualitas
dan kuantitas gizi yang masuk dalam tubuh cukup akan berpengaruh pada daya
tahan tubuh sehingga tubuh akan tahan terhadap infeksi kuman tuberkulosis paru.
Namun apabila keadaan gizi buruk maka akan mengurangi daya tahan tubuh terhadap
penyakit ini, karena kekurangan kalori dan protein serta kekurangan zat besi,
dapat meningkatkan risiko tuberkulosis paru (dalam Sitepu, 2009).
6.
Penyakit infeksi HIV
Infeksi HIV mengakibatkan
kerusakan luas sitem daya tahan tubuh seluler (cellular immunity) sehingga jika
terjadi infeksi oportunistik seperti
tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan
mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah
penderita tuberkulosis paru akan meningkat, dengan demikian penularan
tuberkulosis paru di masyarakat akan meningkat pula.
B.
Agen
Agen adalah faktor esensial yang harus ada agar penyakit
dapat terjadi. Agent dapat berupa benda hidup, tidak hidup, energi, sesuatu
yang abstrak, suasana sosial, yang dalam jumlah yang berlebih atau kurang
merupakan penyebab utama/esensial dalam terjadinya penyakit (Soemirat, 2010).
Agent yang mempengaruhi penularan penyakit tuberkulosis
adalah kuman Mycobacterium tuberculosis. Agent ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya pathogenitas, infektifitas dan virulensi.
1. Pathogenitas
adalah daya suatu mikroorganisme untuk menimbulkan penyakit pada host.
Pathogenitas kuman tuberkulosis paru termasuk pada tingkat rendah.
2. Infektifitas
adalah kemampuan mikroba untuk masuk ke dalam tubuh host dan berkembangbiak di
dalamnya. Berdasarkan sumber yang sama infektifitas kuman tuberkulosis paru
termasuk pada tingkat menengah.
3. Virulensi
adalah keganasan suatu mikroba bagi host. Berdasarkan sumber yang sama
virulensi kuman tuberkulosis termasuk tingkat tinggi.
C.
Environment
Lingkungan
adalah segala sesuatu yang ada di luar dari host (pejamu),
baik benda tidak hidup, benda hidup, nyata atau abstrak, seperti suasana yang
terbentuk akibat interaksi semua elemen-elemen tersebut, termasuk host yang
lain (Soemirat, 2010). Faktor lingkungan memegang
peranan penting dalam penularan, terutama lingkungan rumah yang tidak memenuhi
syarat. Lingkungan rumah merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh
besar terhadap status kesehatan penghuninya (Notoatmodjo, 2003). Adapun
syarat-syarat yang dipenuhi oleh rumah sehat secara fisiologis yang berpengaruh
terhadap kejadian tuberkulosis paru antara lain :
1. Lingkungan
yang tidak sehat (kumuh) sebagai salah satu reservoir atau tempat baik dalam
menularkan penyakit menular seperti penyakit tuberkulosis. Peranan faktor
lingkungan sebagai predisposing artinya berperan dalam menunjang
terjadinya penyakit pada manusia, misalnya sebuah keluarga yang berdiam dalam
suatu rumah yang berhawa lembab di daerah endemis penyakit tuberkulosis.
Umumnya penularan terjadi dalam ruangan tempat percikan dahak berada dalam
waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar
matahari langsung dapat membunuh kuman (Keman, 2005) .
2. Kepadatan Penghuni Rumah
Ukuran luas ruangan
suatu rumah erat kaitannya dengan kejadian tuberkulosis paru. Disamping itu
Asosiasi Pencegahan Tuberkulosis Paru Bradbury mendapat kesimpulan secara
statistik bahwa kejadian tuberkulosis paru paling besar diakibatkan oleh
keadaan rumah yang tidak memenuhi syarat pada luas ruangannya. Semakin padat
penghuni rumah akan semakin cepat pula udara di dalam rumah tersebut mengalami
pencemaran. Karena jumlah penghuni yang semakin banyak akan berpengaruh
terhadap kadar oksigen dalam ruangan tersebut, begitu juga kadar uap air dan
suhu udaranya. Dengan meningkatnya kadar CO2 di udara dalam rumah, maka akan
memberi kesempatan tumbuh dan berkembang biak lebih bagi Mycobacterium
tuberculosis. Dengan demikian akan semakin banyak kuman yang terhisap oleh
penghuni rumah melalui saluran pernafasan. Menurut Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, kepadatan penghuni diketahui dengan membandingkan luas
lantai rumah dengan jumlah penghuni, dengan ketentuan untuk daerah perkotaan 6
m² per orang daerah pedesaan 10 m² per orang.
3. Kelembaban Rumah
Kelembaban udara dalam rumah
minimal 40% – 70 % dan suhu ruangan yang ideal antara 18°C – 30°C. Bila
kondisi suhu ruangan tidak optimal, misalnya terlalu panas akan berdampak pada
cepat lelahnya saat bekerja dan tidak cocoknya untuk istirahat. Sebaliknya,
bila kondisinya terlalu dingin akan tidak menyenangkan dan pada orang-orang
tertentu dapat menimbulkan alergi.
Hal ini perlu diperhatikan
karena kelembaban dalam rumah akan mempermudah berkembangbiaknya mikroorganisme
antara lain bakteri spiroket, ricketsia dan virus. Mikroorganisme tersebut
dapat masuk ke dalam tubuh melalui udara ,selain itu kelembaban yang tinggi
dapat menyebabkan membran mukosa hidung menjadi kering seingga kurang efektif
dalam menghadang mikroorganisme. Kelembaban udara yang meningkat merupakan
media yang baik untuk bakteri-baktri termasuk bakteri tuberkulosis
(Keman, 2005).
Kelembaban di dalam rumah dapat
disebabkan oleh tiga faktor, yaitu :
a.
Kelembaban yang naik dari
tanah ( rising damp )
b.
Merembes melalui dinding ( percolating
damp )
c.
Bocor melalui atap ( roof
leaks )
Untuk mengatasi kelembaban, maka perhatikan kondisi drainase atau
saluran air di sekeliling rumah, lantai harus kedap air, sambungan pondasi
dengan dinding harus kedap air, atap tidak bocor dan tersedia ventilasi yang
cukup.
4. Ventilasi
Jendela dan lubang ventilasi
selain sebagai tempat keluar masuknya udara juga sebagai lubang pencahayaan
dari luar, menjaga aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Menurut
indikator pengawasan rumah , luas ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan
adalah = 10% luas lantai rumah dan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat
kesehatan adalah < 10%luas lantai rumah. Luas ventilasi rumah yang < 10%
dari luas lantai (tidak memenuhi syarat kesehatan) akan mengakibatkan
berkurangnya konsentrasi oksien dan bertambahnya konsentrasi karbondioksida
yang bersifat racun bagi penghuninya. Disamping itu, tidak cukupnya ventilasi
akan menyebabkan peningkatan kelembaban ruangan karena terjadinya proses
penguapan cairan dai kulit dan penyerapan. Kelembaban ruangan yan tinggi akam
menjadi media yang baik untuk tumbuh dan berkembangbiaknya bakteri-bakteri
patogen termasuk kuman tuberkulosis. Tidak adanya ventilasi yang baik pada
suatu ruangan semakin membahayakan kesehatan atau kehidupan, jika dalam ruangan
tersebut terjadi pencemaran oleh bakteri seperti oleh penderita tuberkulosis
atau berbagai zat kimia organik atau anorganik.
Ventilasi berfungsi juga
untuk membebaskan uadar ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen
seperti tuberkulosis, karenadi ventilasi selalu terjadi aliran udara yang terus
menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Selain itu, luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat
kesehatan akan mengakibatkan terhalangnya proses pertukaran udara dan sinar
matahari yang masuk ke dalam rumah, akibatnya kuman tuberkulosis yang ada di
dalam rumah tidak dapat keluar dan ikut terhisap bersama udara pernafasan
(Keman, 2005).
5. Pencahayaan Sinar Matahari
Cahaya matahari selain
berguna untuk menerangi ruang juga mempunyai daya untuk membunuh bakteri. Sinar
matahari dapat dimanfaatkan untuk pencegahan penyakit tuberkulosis paru, dengan
mengusahakan masuknya sinar matahari pagi ke dalam rumah. Cahaya matahari masuk
ke dalam rumah melalui jendela atau genteng kaca. Diutamakan sinar matahari
pagi mengandung sinar ultraviolet yang dapat mematikan kuman.
Kuman tuberkulosis dapat
bertahan hidup bertahun-tahun lamanya, dan mati bila terkena sinar matahari ,
sabun, lisol, karbol dan panas api. Rumah yang tidak dapat di masuki sinar
matahari maka penguninya mempunyai resiko menderita tuberkulosis 3-7 kali
dibandingkan dengan rumah yang dapat dimasuki sinar matahari.
6. Lantai rumah
Komponen yang harus dipenuhi
rumah sehat memiliki lantai kedap air dan tidak lembab. Jenis lantai tanah
memiliki peran terhadap proses kejadian Tuberkulosis paru, melalui kelembaban
dalam ruangan. Lantai tanah cenderung menimbulkan kelembaban, pada musim panas
lantai menjadi kering sehingga dapat menimbulkan debu yang berbahaya bagi
penghuninya.
7. Dinding
Dinding berfungsi sebagai
pelindung, baik dari gangguan hujan maupun angin serta melindungi dari pengaruh
panas dan debu dari luar serta menjaga kerahasiaan (privacy) penghuninya.
Beberapa bahan pembuat dinding adalah dari kayu, bambu, pasangan batu bata atau
batu dan sebagainya. Tetapi dari beberapa bahan tersebut yang paling baik
adalah pasangan batu bata atau tembok (permanen) yang tidak mudah terbakar dan
kedap air sehingga mudah dibersihkan (Keman, 2005).
D.
Hubungan
Host, Agen, dan Environment
Dari keseluruhan
unsur di atas, di mana hubungan interaksi antara satu dengan yang lainnya akan
menentukan proses dan arah dari proses kejadian penyakit, baik pada perorangan,
maupun dalam masyarakat. Dengan demikian maka terjadinya suatu penyakit tidak
hanya di tentukan oleh unsur penyebab semata, tetapi yang utama adalah
bagaimana rantai penyebab dan hubungan sebab akibat di pengaruhi oleh berbagai
faktor maupun unsur lainnya. Oleh karena itu, dalam setiap proses terjadinya
penyakit, selalu memikirkan adanya penyebab jamak (multiple causational). Hal
ini sangat mempengaruhi dalam menetapkan program pencegahan maupun
penanggulangan penyakit tertentu. Usaha tersebut akan memberikan hasil yang di
harapkan bila dalam perencanaannya memperhitungkan berbagai unsur di atas (Noor,
2008).
Keterangan : A = Agen/penyebab penyakit,
H = Host/penjamu/populasi beresiko tinggi, dan
E = Environment/Lingkungan.
Keadaan pertama merupakan kondisi Sehat, keadaan
seimbang H, A & E. Interaksi antara ketiga unsur tersebut harus
dipertahankan keadaan keseimbangannya. Apabila terjadi gangguan keseimbangan
antara ketiganya, akan menyebabkan timbulnya penyakit tertentu. Pada keadaan
normal, kondisi keseimbangan proses interaksi tersebut dapat dipertahankan.
Dalam interaksinya, terdapat empat keadaan yang
memungkinkan terjadinya keadaan sakit, yaitu:
1. Keadaan
ke-2
Sakit, karena adanya peningkatan A infeksius (contoh :
peningkatan infeksius bakteri Mycobacterium tuberculosis). Kasus pada
keadaan pertama merupakan adanya pemberatan agen terhadap keseimbangan segitiga
epidemiologi sehingga diartikan sebagai agen/penyebab penyakit mendapat
kemudahan menimbulkan penyakit pada host. Mycobacterium
Tuberkulosis dapat tahan hidup diudara kering maupun dalam keadaan dingin, atau
dapat hidup bertahun-tahun dalam lemari es. Ini dapat terjadi apabila kuman
berada dalam sifat dormant (tidur). Pada sifat dormant ini kuman tuberkulosis
suatu saat dimana keadaan memungkinkan untuk dia berkembang, kuman ini dapat
bangkit kembali. Infektifitas bakteri Mycobacterium tuberculosis meningkat dan tingkat virulensi yang
tinggi menyebabkan cepatnya perkembangbiakan bakteri, sehingga apabila
terinfeksi maka kemungkinan besar sebagian besar masyarakat dapat tertular dan akan
sakit, atau keseimbangan akan terganggu.
2.
Keadaan ke-3
Sakit, karena peningkatan susceptibility pada populasi
(contoh : peningkatan jumlah anak rentan TB karena tidak di
imunisasi BCG). Pada
kasus ini, host menjadi pemberat dalam keseimbangan segitiga epidemiologi.
Keadaan seperti ini menyebabkan host menjadi lebih peka terhadap suatu
penyakit. Misalnya apabila jumlah penduduk menjadi muda atau atau proporsi
jumlah penduduk balita bertambah besar, maka sebagian besar populasi menjadi
lebih peka terhadap penyakit TB, namun apabila host tidak mendapat imunisasi
BCG saat balita maka akan mudah terserang penyakit TB anak maupun dewasa, dan
mengakibatkan sakit atau keseimbangan terganggu.
3.
Keadaan ke-4
Sakit,
karena perubahan E yang menguntungkan A (contoh : bencana tsunami). Pada kasus
ini terjadi pergeseran kualitas lingkungan sedemikian rupa sehingga memudahkan
agen memasuki tubuh host dan menimbulkan penyakit. Contohnya ketika terjadi
banjir di suatu wilayah yang menyebabkan air kotor yang mengandung kuman
penyakit (agen) berkontak dengan masyarakat, sehingga agen lebih mudah memasuki
mereka yang kebanjiran. Banjir tersebut menyebabkan lingkungan menjadi tidak
sehat dan kumuh sehingga menjadi tempat baik dalam menularkan penyakit menular
seperti penyakit tuberkulosis dan masuk dalam tubuh host kemudian menyebabkan
sakit atau keseimbangan terganggu.
4.
Keadaan ke-5
Sakit, karena perubahan E yang
menyebabkan turunnya daya tahan tubuh A (contoh : polusi udara). Sama
dengan keadaan ke-4, ketidak seimbangan terjadi karena pergerseran kualitas
lingkungan, hanya sekarang mengakibatkan host menjadi lebih peka terhadap agen.
Contohnya ketika terjadi pencemaran udara yang menyebabkan saluran udara
paru-paru populasi menyempit, namun akibatnya ialah paru-paru kekurangan
oksigen, dan menjadi lemah, dan ditambah dengan terpapar bakteri tuberkulosis
sehingga menyebabkan terjadinya sakit TB dan komplikasi-komplikasi lainnya.
III.
Riwayat
Alamiah Penyakit
Riwayat alamiah
penyakit (natural history of disease) adalah deskripsi tentang perjalanan waktu
dan perkembangan penyakit pada individu, dimulai sejak terjadinya paparan
dengan agen kausal hingga terjadinya akibat penyakit, seperti kesembuhan atau
kematian, tanpa terinterupsi oleh suatu intervensi preventif maupun terapetik.
Tahapan riwayat alamiah penyakit Tuberkulosis adalah sebagai berikut.
A.
Tahap
Peka/ Rentan/ Pre pathogenesis
Pada tahap ini telah terjadi interaksi antara pejamu dengan
bibit penyakit. Tetapi interaksi ini masih diluar tubuh manusia, dalam arti
bibit penyakit berada di luar tubuh manusia dan belum masuk kedalam tubuh
pejamu. Pada keadaan ini belum ditemukan adanya tanda – tanda penyakit dan daya
tahan tubuh pejamu masih kuat dan dapat menolak penyakit. Keadaan ini disebut
sehat.
Risiko
terinfeksi tuberkulosis sebagian besar adalah faktor risiko eksternal, terutama
adalah faktor lingkungan seperti rumah tak sehat, pemukiman padat dan kumuh.
Sedangkan risiko menjadi sakit tuberkulosis, sebagian besar adalah faktor
internal dalam tubuh penderita sendiri yang disebabkan oleh terganggunya sistem
kekebalan dalam tubuh penderita seperti kurang gizi, infeksi HIV/AIDS, dan
pengobatan dengan immunosupresan.
B.
Tahap
Pra gejala/Masa Inkubasi/ Sub-Klinis
Pada tahap ini telah terjadi infeksi,
tetapi belum menunjukkan gejala dan masih belum terjadi gangguan fungsi organ. Pada penyakit Tuberkulosis paru sumber infeksi adalah
manusia yang mengeluarkan basil tuberkel dari saluran pernapasan, kontak yang
rapat (misalnya dalam keluarga) pasien TB dapat mengeluarkan kuman TB dalam
bentuk droplet yang infeksius ke udara pada waktu pasien TB tersebut batuk
(sekitar 3.000 droplet) dan bersin (sekitar 1 juta droplet). Droplet tersebut
dengan cepat menjadi kering dan menjadi partikel yang sangat halus di udara.
Ukuran diameter droplet yang infeksius tersebut hanya sekitar 1 – 5 mikron.
Pada umumnya droplet yang infeksius ini dapat bertahan dalam beberapa jam
sampai beberapa hari. Pada keadaan gelap dan lembab kuman TB dalam droplet
tersebut dapat hidup lebih lama sedangkan jika kena sinar matahari langsung
(sinar ultra-violet) maka kuman TB tersebut akan cepat mati. Pasien TB yang
tidak diobati maka setelah 5 tahun akan: 50% meninggal, 30% akan sembuh sendiri
dengan daya tahan tubuh yang tinggi, dan 20% menjadi kasus kronik yang tetap
menular (Nadia dan Donaldo, 2003).
Infeksi
primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman tuberkulosis,
droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya sehingga dapat melewati sistem
pertahanan mukosillier bronkus,dan terus berjalan sehingga sampai di alveolus
dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman tuberkulosis paru berhasil
berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan
peradangan didalam paru, saluran limfe di sekitar hilus paru, dan ini disebut
sebagai komplek primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan
komplek primer adalah 4-6 minggu.
Infeksi
TB dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberculin dari
negatif menjadi positif. Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman
yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan
perkembangan kuman tuberkulosis. Meskipun demikian ada beberapa kuman akan
menetap sebagai kuman persistent atau dormant (tidur),
kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan perkembangan kuman,
akibatnya dalam beberapa bulan yang bersangkutan akan menjadi penderita
tuberkulosis paru. Masa inkubasinya yaitu waktu yang diperlukan mulai
terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan selama 6 bulan.
Paru merupakan
port d’entrée lebih dari 98% kasus infeksi TB. Karena ukurannya yang sangat
kecil, kuman TB dalam percik renik (droplet nuclei) yang terhirup, dapat
mencapai alveolus. Masuknya kuman TB ini akan segera diatasi oleh mekanisme
imunologis non spesifik. Makrofag alveolus akan menfagosit kuman TB dan
biasanya sanggup menghancurkan sebagian besar kuman TB. Akan tetapi, pada
sebagian kecil kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan kuman TB dan kuman
akan bereplikasi dalam makrofag. Kuman TB dalam makrofag yang terus berkembang
biak, akhirnya akan membentuk koloni di tempat tersebut. Lokasi pertama koloni
kuman TB di jaringan paru disebut Fokus Primer GOHN.
Dari focus
primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju kelenjar limfe regional,
yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke lokasi focus primer.
Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran limfe (limfangitis)
dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena. Jika focus primer terletak
di lobus paru bawah atau tengah, kelenjar limfe yang akan terlibat adalah
kelenjar limfe parahilus, sedangkan jika focus primer terletak di apeks paru,
yang akan terlibat adalah kelenjar paratrakeal. Kompleks primer merupakan
gabungan antara focus primer, kelenjar limfe regional yang membesar
(limfadenitis) dan saluran limfe yang meradang (limfangitis).
Waktu yang
diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya kompleks primer secara
lengkap disebut sebagai masa inkubasi TB. Hal ini berbeda dengan pengertian
masa inkubasi pada proses infeksi lain, yaitu waktu yang diperlukan sejak
masuknya kuman hingga timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi TB biasanya
berlangsung dalam waktu 4-8 minggu dengan rentang waktu antara 2-12 minggu.
Dalam masa inkubasi tersebut, kuman tumbuh hingga mencapai jumlah 103-104,
yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang respons imunitas seluler.
C.
Tahap
Klinis (stage of clinical disease)
Tahap klinis
merupakan kondisi ketika telah terjadi perubahan fungsi organ yang terkena dan
menimbulksn gejala. Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan
gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara
klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk
menegakkan diagnosa secara klinik.
1. Gejala sistemik/umum:
a. Batuk-batuk
selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah)
b. Demam
tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari
disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan
bersifat hilang timbul
c. Penurunan
nafsu makan dan berat badan
d. Perasaan
tidak enak (malaise), lemah
2. Gejala khusus:
a.
Tergantung dari organ tubuh mana yang
terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke
paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan
menimbulkan suara “mengi”, suara nafas melemah yang disertai sesak.
b.
Kalau ada cairan dirongga pleura
(pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
c.
Bila mengenai tulang, maka akan terjadi
gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan
bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
d.
Pada anak-anak dapat mengenai otak
(lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak),
gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
Pada pasien anak yang
tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak
dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita
TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan
– 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA
positif, dilaporkan 30% terinfeksi
berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.
Gejala klinis pada penyakit Tuberculosis
dibagi menjadi dua yaitu:
1. Gejala klinik
Gejala klinis tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala lokal dan gejala sistemik, bila
organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala respiratori
(gejala lokal sesuai organ yang terlibat), dimana gejala tersebut adalah batuk
lebih dari 3 minggu, batuk berdarah, sesak nafas dan nyeri pada bagian dada. Gejala
ini sangat bervariasi: tegantung dari berat atau tidaknya luas lesi yang
ditimbulkan oleh kuman tersebut. Gejala
Sistemik, dapat berupa demam, keringat malam, anoreksia, dan berat badan
menurun.
2. Gejala tuberkulosis ekstra paru, misalnya pada lifadenitis tuberkulosis akan terjadi pembesaran
pada organ limfa, pada meningitis tuberkulosis akan terlihat gejala meningitis,
sesuai dengan organ yang terserang (Herlina, 2007).
D.
Tahap
Penyakit Lanjut/ Ketidakmampuan.
Tahap Penyakit Lanjut/
Ketidakmampuan merupakan tahap
saat akibat dari penyakit mulai terlihat. Pasien
yang menderita penyakit
Tuberkulosis semakin bertambah parah dan penderita tidak dapat melakukan pekerjaan
sehingga memerlukan
perawatan (bad rest).
E.
Tahap
Terminal (Akhir Penyakit)
Perjalanan penyakit pada suatu saat
akan berakhir. Berakhirnya perjalanan penyakit tersebut dapat berada dalam lima
keadaan, yaitu : sembuh sempurna, sembuh dengan cacad
(fisik, fungsional, dan social), karier, penyakit berlangsung kronik, berakhir
dengan kematian. Menurut Depkes RI (2008), Riwayat
alamiah penyakit Tuberkulosis, apabila tidak mendapatkan pengobatan sama
sekali, dalam kurun waktu lima tahun adalah sebagai berikut:
a.
Pasien 50 % meninggal
b.
25% akan sembuh dengan daya
tahan tubuh yang tinggi
c.
25 % menjadi kasus kronik
yang tetap menular (Herlina, 2007).
IV.
Pencegahan
Penyakit
Upaya pencegahan
adalah upaya kesehatan yang dimaksudkan agar setiap orang terhindar dari
terjangkitnya suatu penyakit dan dapat mencegah terjadinya penyebaran penyakit.
Tujuannya adalah untuk mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya
penyakit yaitu penyebab penyakit (agent), manusia atau tuan rumah (host)
dan faktor lingkungan (environment) (Notoatmodjo, 2007).
Dalam epidemiologi, pencegahan dibagi menjadi 3
tingkatan sesuai dengan perjalanan penyakit meliputi, pencegahan primer,
pencegahan sekunder dan pencegahan tersier. Pencegahan tingkat pertama atau
pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar
tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Upaya pencegahan
primer yaitu pencegahan umum (mengadakan pencegahan pada masyarakat umum
contohnya pendidikan kesehatan masyarakat dan kebersihan lingkungan) dan
pencegahan khusus (ditujukan pada orang-orang yang mempunyai resiko terkena
penyakit). Pencegahan tingkat kedua atau pencegahan sekunder merupakan upaya
manusia untuk mencegah orang yang telah sakit agar sembuh, menghambat
progresifitas penyakit, menghindarkan komplikasi dan mengurangi ketidakmampuan.
Pencegahan sekunder ini dapat dilakukan dengan cara mendeteksi penyakit secara
dini dan mengadakan pengobatan yang cepat dan tepat. Pencegahan tingkat ketiga
atau pencegahan tersier dimaksudkan untuk mengurangi ketidakmampuan dan
mengadakan rehabilitasi. Upaya pencegahan tersier ini dapat dilakukan dengan
cara memaksimalkan fungsi organ yan cacat, membuat protesa ekstremitas akibat
amputasi dan mendirikan pusat-pusat rehabilitasi medik (Budiarto, 2002).
Menurut Leavell & Clark dalam bukunya “Preventive Medicine for The Doctor in his Community” membagi usaha pencegahan penyakit
yang dapat dilakukan pada masa sebelum sakit dan pada masa sakit. Usaha-usaha tersebut adalah sebagai berikut:
A. Masa sebelum sakit (pre patogenesis phase)
1.
Mempertinggi nilai kesehatan (Health
Promotion).
Merupakan suatu
usaha pencegahan penyakit melalui usaha mengatasi atau mengontrol faktor-faktor
risiko (risk factors) dengan sasaran
utamanya orang sehat melalui usaha peningkatan derajat kesehatan secara umum
(promosi kesehatan). Usaha peningkatan derajat kesehatan (health promotion) atau pencegahan umum yakni meningkatkan derajat
kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal, mengurangi peranan,
penyebab dan derajat risiko serta meningkatkan lingkungan yang sehat secara
optimal (Noor, 2008).
2.
Memberikan perlindungan khusus terhadap sesuatu penyakit (spesific
protection).
Adapun sasaran
pencegahan tingkat pertama ini dapat pula ditujukan pada faktor penjamu seperti
perbaikan gizi, pemberian imunisasi, peningkatan kehidupan sosial dan
psikologis individu dan masyarakat serta peningkatan ketahanan fisik individu. Usaha ini
merupakan tindakan terhadap pencegahan penyakit-penyakit tertentu seperti pemberian
imunisasi dasar, pemberian vitamin A, tablet penambah zat besi, Isolasi
penderita penyakit menular (misalnya isolasi penderita Tuberkulosis), Perlindungan
kerja terhadap bahan berbahaya (hazard
protection)
Perlindungan khusus terhadap penyakit Tuberkulosis dilakukan dengan beberapa
cara sebagai berikut:
a.
Status sosial ekonomi rendah yang merupakan faktor
menjadi sakit, seperti kepadatan hunian, dengan meningkatkan pendidikan kesehatan.
b.
Tersedia sarana-sarana kedokteran, pemeriksaan
penderita, kontak atau suspect gambas, sering dilaporkan, pemeriksaan dan pengobatan
dini bagi penderita, kontak, suspect, perawatan.
c.
Pengobatan preventif, diartikan sebagai tindakan
keperawatan terhadap penyakit inaktif dengan pemberian pengobatan INH sebagai
pencegahan.
d.
Imunisasi BCG, vaksinasi, diberikan pertama-tama
kepada bayi dengan perlindungan bagi ibunya dan keluarhanya. Diulang 5 tahun
kemudian pada 12 tahun ditingkat tersebut berupa tempat pencegahan.
e.
Memberantas penyakti TB pada pemerah air susu dan
tukang potong sapi, dan pasteurisasi air susu sapi.
f.
Tindakan mencegah bahaya penyakit paru kronis karean
menghirup udara yang tercemar debu para pekerja tambang, pekerja semen dan
sebagainya.
g.
Pemeriksaan bakteriologis dahak pada orang dengan
gejala TB paru.
h.
Pemeriksaan screening dengan tubercullin test pada
kelompok beresiko tinggi, seperti para emigrant, orang-orang kontak dengan
penderita, petugas dirumah sakit, petugas/guru disekolah, petugas foto rontgen.
i.
Pemeriksaan foto rontgen pada orang-orang yang positif
dari hasil pemeriksaan Tuberculin test.
Bila
sasaran ditujukan pada unsur penyebab maka usaha diutamakan dalam mengurangi
atau menghilangkan sumber penyebab penularan penyakit Tuberkulosis dan
menghindari atau mengurangi setiap faktor, terutama faktor perilaku yang dapat
memperbesar tingkat risiko penularan penyakit Tuberkulosis. Untuk penyakit
menular dengan sasaran khusus ditujukan pada penyebab kausal seperti
desinfeksi, sterilisasi, pasteurisasi, karantina, dan lain-lain. Sedangkan
untuk penyakit tidak menular (bukan infeksi) dengan jalan menghilangkan sumber
alergen, sumber keracunan, dan sumber pencemaran kimiawi maupun radiasi (Noor,
2008).
Bila
sasaran ditujukan pada lingkungan maka sasarannya dapat ditujukan pada
lingkungan fisik seperti rumah sehat dan lingkungan bersih. Juga sasaran dapat
dilakukan terhadap lingkungan biologis seperti pemberantasan kuman atau
bakteri. Atau ditujukan pada lingkungan sosial melalui perbaikan dan
peningkatan derajat kesehatan masyarakat (Noor, 2008).
B. Masa sakit (patogenesis
phase)
3.
Mengenal dan mengetahui penyakit pada tingkat
awal serta mengadakan pengobatan yang tepat dan segera (Early diagnosis &
Promt Treatment).
Diagnosis Awal dan Pengobatan tepat (Early
Diagnosis and Prompt Treatment) memiliki tujuan utama yaitu :
a.
Pengobatan yang setepat-tepatnya dan
secepat-cepatnya dari setiap jenis penyakit sehingga terjadi penyembuhan yang sempurna dan segera
b.
Pencegahan penularan kepada orang lain bila
penyakitnya menular
c.
Mencegah terjadinya kecacatan yang diakibatkan
suatu penyakit.
Beberapa diantaranya dengan melakukan:
a. Screening
(Penyaringan)
b. Pejejakan
kasus (Case Finding)
c. Pemeriksaan
khusus (laboratorium dan tes)
d. Pemberian
obat yang rational dan efektif
Usaha
pengobatan yang terlambat dapat mengakibatkan usaha penyembuhan
menjadi lebih sulit, bahkan mungkin tidak dapat sembuh lagi misalnya pengobatan
kanker (neoplasma) yang terlambat, kemungkinan terjadinya kecacatan akan lebih besar, penderitaan dari penderita sakit akan lebih lama,
biaya untuk perawatan dan pengobatan menjadi lebih besar.
a.
Diagnosis
Awal
1) Penemuan Penderita Tuberkulosis Pada
Orang Dewasa
Penemuan penderita TB Paru
dilakukan secara pasif, artinya penjaringan tersangka penderita dilaksanakan
pada mereka yang datang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan. Penemuan secara
pasif tersebut didukung dengan penyuluhan secara aktif, baik oleh petugas
kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka
penderita. Cara ini biasa dikenal dengan sebutan passive promotive case
finding (penemuan penderita secara pasif dengan promosi aktif).
Selain itu, semua kontak
penderita TB Paru BTA positif dengan gejala sama, harus diperiksa dahaknya.
Seorang petugas kesehatan diharapkan menemukan tersangka penderita sedini
mungkin, mengingat tuberkulosis adalah penyakit menular yang dapat
mengakibatkan kematian. Semua tersangka penderita harus diperiksa 3 spesimen
dahak dalam waktu 2 hari berturut-turut, yaitu sewaktu-pagi-sewaktu (SPS).
2) Diagnosis Tuberkulosis Paru Pada Orang
Dewasa
Diagnosis TB paru pada orang
dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara
mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua tiga
spesimen SPS BTA hasilnya positif. Bila hanya 1 yang positif perlu diadakan
pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau emeriksan dahak SPS
diulang.
a) Kalau hasil rontgen mendukung TB Paru, maka penderita didiagnosis
sebagai penderita TB Paru BTA positif.
b) Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB Paru. Maka pemeriksaan
dahak SPS diulangi.
Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan
lain, misalnya biakan. Bila ketiga spesimen dahak hasilnya negatif, diberikan
antibiotik spektrum luas (misalnya kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1 – 2
minggu. Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TB
Paru, ulangi pemeriksaan dahak SPS.
a) Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TB Paru BTA
positif.
b) Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemeriksaan foto rontgen
dada, untuk mendukung diagnosis TB Paru.
i. Bila hasil rontgen mendukungTB Paru, didiagnosis sebagai penderita
TB Paru BTA negatif Rontgen positif.
ii. Bila hasil rontgen tidak mendukung TB Paru, penderita tersebut
bukan TB Paru.
UPK yang tidak memiliki fasilitas rontgen, penderita dapat dirujuk
untuk foto rontgen dada (Werdhani, 2009).
3)
Uji Tuberkulin
Pada anak, uji tuberkulin merupakan
pemeriksaan yang paling bermanfaat untuk menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mycobacterium
tuberculosis dan sering digunakan dalam “Screening TBC”. Efektifitas dalam
menemukan infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%. Penderita
anak umur kurang dari 1 tahun yang menderita TBC aktif uji tuberkulin positif
100%, umur 1–2 tahun 92%, 2–4 tahun 78%, 4–6 tahun 75%, dan umur 6–12 tahun
51%. Dari persentase tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar usia anak maka
hasil uji tuberkulin semakin kurang spesifik.
Ada beberapa cara melakukan uji
tuberkulin, namun sampai sekarang cara mantoux lebih sering digunakan. Lokasi
penyuntikan uji mantoux umumnya pada ½ bagian atas lengan bawah kiri bagian
depan, disuntikkan intrakutan (ke dalam kulit). Penilaian uji tuberkulin
dilakukan 48–72 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter dari pembengkakan
(indurasi) yang terjadi:
a)
Pembengkakan (Indurasi) : 0–4mm, uji
mantoux negatif. Arti klinis : tidak ada infeksi Mycobacterium tuberculosis.
b)
Pembengkakan (Indurasi) : 5–9mm, uji
mantoux meragukan. Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi silang dengan Mycobacterium
atypikal atau pasca vaksinasi BCG.
c)
Pembengkakan (Indurasi) : ³10mm,
uji mantoux positif. Arti klinis: sedang atau pernah terinfeksi Mycobacterium
tuberculosis.
b. Pengobatan
Tuberkulosis
Pengobatan tuberkulosis bertujuan untuk menyembuhkan pasien,
mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan
mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. Mikobakteri merupakan
kuman tahan asam yang sifatnya berbeda dengan kuman lain karena tumbuhnya
sangat lambat dan cepat sekali timbul resistensi bila terpajan dengan satu
obat.
Umumnya antibiotika bekerja lebih aktif terhadap kuman yang
cepat membelah dibandingkan dengan kuman yang lambat membelah. Sifat lambat
membelah yang dimiliki mikobakteri merupakan salah satu faktor yang menyebabkan
perkembangan penemuan obat antimikobakteri baru jauh lebih sulit dan lambat
dibandingkan antibakteri lain (Werdhani, 2009).
Obat yang digunakan untuk tuberkulosis digolongkan atas dua
kelompok yaitu kelompok pertama dan kelompok kedua. Kelompok obat pertama yaitu
rifampisin, isoniazid, pirazinamid, etambutol dan streptomisin. Kelompok obat
ini memperlihatkan efektivitas yang tinggi dengan toksisitas yang dapat
diterima (Depkes RI, 2006).
4.
Pembatasan kecacatan dan berusaha untuk
menghilangkan gangguan kemampuan bekerja yang diakibatkan sesuatu penyakit
(Disability Limitation).
Disability
Limitation atau pembatasan kecacatan dan berusaha untuk menghilangkan gangguan
kemampuan berfikir dan bekerja yang diakibatkan suatu masalah kesehatan dan
penyakit. Usaha ini merupakan lanjutan dari usah early diagnosis and promotif treatment yaitu dengan pengobatan dan
perawatan yang sempurna agar penderita sembuh kembali dan tidak cacat (tidak
terjadi komplikasi). Bila sudah terjadi kecacatan maka dicegah agar kecacatan
tersebut tidak bertambah berat dan fungsi dari alat tubuh yang cacat ini
dipertahankan semaksimal mungkin (Antika, 2011). Berbagai cara dalam melakukan Disability Limitation atau pembatasan
kecacatan diantaranya adalah:
a.
Pembatasan kecacatan (dissability limitation)
1)
Pencegahan
terhadap komplikasi dan kecacatan.
2)
Pengadaan dan peningkatan fasilitas kesehatan dengan
melakukan pemerikasaan lanjut yang lebih akurat seperti pemeriksaan
laboratorium dan pemerikasaan penunjang lainnya agar penderita dapat sembuh
dengan baik dan sempurna tanpa ada komplikasi lanjut. Serta sejak dini semua
kekuatan pembangunan harus dilibatkan dalam upaya mengembangkan pola hidup
sehat sejahtera, disamping harus ada penanganan yang sangat profesional pada
mereka yang terkena suatu penyakit, strategi yang dikembangkan di Indonesia,
terutama karena masyarakat yang awam dan sangat rendah kesadarannya dalam
bidang kesehatan, harus secara jelas dan tegas bersifat komprehensif. Untuk
mengembangkan strategi dengan target-target yang jelas dan terarah perlu
dilakukan penelitian epidemiologi suatu penyakit yang benar dan tepat.
3)
Penyempurnaan pengobatan agar tidak terjadi komplikasi
b.
Masyarakat diharapkan mendapatkan pengobatan yang
tepat dan benar oleh tenaga kesehatan agar penyakit yang dideritanya tidak
mengalami komplikasi. Selain itu untuk mencegah terjadinya komplikasi maka
penderita yang dalam tahap pemulihan, dianjurkan untuk berkunjung ke fasilitas
kesehatan secara rutin untuk melakukan pemeriksaan rutin agar penderita sembuh
secara sempurna (Antika, 2011).
Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia
sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok
tertentu. Setelah perang kemerdekaan, TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan
Penyakit Paru Paru (BP-4). Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara
nasional melalui Puskesmas. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah
paduan standar INH, PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. Para
Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. Sejak 1977 mulai
digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH, Rifampisin dan
Etambutol selama 6 bulan (Suswati, 2007).
Berbagai variasi regimen telah
diperkenalkan selama ini. Pada dasarnya semuanya mengandung dua fase, yaitu
fase awal intensif dan fase lanjutan. Fase awal intensif biasanya diberikan
sedikitnya 3 atau 4 obat, sedangkan fase lanjutan dapat diberikan 2 obat saja
baik setiap hari maupun intermitten. Pada tahun 1997 WHO telah membuat
klasifikasi regimen pengobatan pada berbagai keadaan penyakit TB (Suswati,
2007).
Tabel 1.Jenis dan Dosis OAT
|
Jenis Obat
|
Sifat
|
Dosis yang Direkomendasikan (mg/kg)
|
|
|
Harian
|
3x Seminggu
|
||
|
Isoniazid (H)
|
Bakterisid
|
5 (4-5)
|
10 (8-12)
|
|
Rifampicin
(R)
|
Bakterisid
|
25
(20-30)
|
15
(12-18)
|
|
Pyrazinamide (Z)
|
Bakterisid
|
15
(15-20)
|
10 (8-12)
|
|
Streptomycin
(S)
|
Bakterisid
|
10 (8-12)
|
35 (30-40)
|
|
Ethambutol
(E)
|
Bakteriostatik
|
15
(12-18)
|
30
(20-35)
|
Tabel 2. Dosis
Untuk Paduan OAT Kategori II
|
Berat Badan
|
Tahap intensif tiap hari RHZE
(150/75/400/275)+S
|
Tahap Lanjutan 3 kali seminggu RH(150/150)+E(400)
|
|
|
Selama 56 hari
|
Selama 28 hari
|
Selam 20 minggu
|
|
|
30 – 37
Kg
|
2 tab
4KDT
+500 mg streptomisin inj.
|
2 tab 4KDT
|
2 tab
2KDT
+2 tab Etambutol
|
|
38 – 54
Kg
|
3 tab
4KDT
+750 mg Streptomisin Inj.
|
3 tab 4KDT
|
3 tab
2KDT
+Etambutol
|
|
55 – 70 Kg
|
4 tab
4KDT
+1000mg streptomisin Inj.
|
4 tab
4KDT
|
4 tab
2KDT
+4 tab Etambutol
|
|
271 Kg
|
5 tab
4KDT
+1000 mg Streptomisin inj.
|
5 tab
4KDT
|
tab 2KDT +5 tab Etambutol
|
|
Tahap Pengobatan
|
Lama
Pengobatan
(Bulan)
|
Tablet
Isoniasid @300 mgr
|
Kaplet
Rifampisin @450 mgr
|
Tablet
Pirazinamid @500 mgr
|
Etambulot
|
Streptomisin
Inj
|
Jumlah hari/kali menelan obat
|
|
|
Tablet
@250 mgr
|
Tablet
@400 mgr
|
|
|
|||||
|
Tahap intensif (dosis harian)
|
2
1
|
1
1
|
1
1
|
3
3
|
3
3
|
-
-
|
0,75 gr
-
|
56
28
|
|
Thap lanjutan (dosis 3% seminggu)
|
4
|
2
|
1
|
-
|
1
|
2
|
-
|
60
|
Tabel 3. Paduan OAT
Kategori III
Penderita yang menghentikan pengobatannya <2 minggu
pengobatan OAT dapat dilanjutkan sesuai jadwal.
Jika penderita menghentikan pengobatannya ≥ 2 minggu :
a. Berobat
≥ 4 bulan, BTA negatif dan klinis, radiologis negatif OAT STOP
b. Berobat
≥ 4 bulan, BTA positif : pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang
lebih kuat dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama.
c. Berobat
< 4 bulan, BTA positif : pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat
yang sama.
d. Berobat
< 4 bulan, berhenti berobat > 1 bulan, BTA negatif, akan tetapi klinis
dan radiologis positif : pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang
sama.
e. Berobat
< 4 bulan, BTA negatif, berhenti berobat 2 – 4 minggu pengobatan dilanjutkan
kembali sesuai jadwal (Suswati, 2007).
5.
Rehabilitasi (Rehabilitation).
Rehabilitasi adalah program yang dijalankan untuk
membantu memulihkan orang yang memiliki penyakit kronis baik dari fisik ataupun psikologisnya.
Gangguan fisik dan psikiatrik tidak hanya memerlukan tindakan medis khusus,
tetapi juga membutuhkan sikap simpatik. Dokter harus melakukan pendekatan yang
akan membantu penderita ataupun pasien untuk mengatasi gangguan fisik atau
psikiatriknya dan menyadari potensi maksimal mereka baik secara fisik, psikiatrik, dan sosial di dunia luar yang nyata. Jenis pendakatan
ini semakin dikenal dan membuat rehabilitasi menjadi bidang khusus yang
terpisah di banyak rumah sakit. Waktu yang akan dijalankan untuk rehabilitasi
juga menentukan perbedaan perawatan antar pasien ataupun penderita, dan
pengobatan rawat jalan. Penderita atapun pasien yang masuk pusat rehabilitasi
biasanya menderita rendah diri atau kurangnya pandangan positif terhadap
kehidupan, dan oleh sebab itu psikologi dalam terapi ini memaikan peranan yang besar dalam
program rehabilitasi (David, 2009).
a. Edukasi
Edukasi
merupakan proses rehabilitasi yang sangat penting. Pasien diberikan pemahaman
tentang penyakit dan pencegahan eksaserbasi, terapi (obat-obat) termasuk
program rehabilitasi serta target yang akan dicapai sehingga diharapkan pasien
mematuhi program. Edukasi juga berisi tentang teknik-teknik konservasi energi.
Dengan begitu, diharapkan pasien dapat menyederhanakan setiap
aktivitasnya terutama yang berhubungan dengan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Seperti berjalan, makan, mandi, berpakaian sampai dengan aktivitas pekerjaanya (Goesasi, 2011).
b.
Latihan dan Terapi Fisik
Latihan dasar dari program
rehabilitasi secara umum, latihan terdiri dari latuhan pernafasan dan latihan
rekondisi. Jenis latihan pernafasan tergantung dari gangguan atau restriktif.
Selain itu , diajarkan juga teknik-teknik pernafasan untuk mendapatkan pola
nafas yang baik dan ventilasi yang maksimal. Macam-macam latihan pernafasan:
1)
Latihan pernafasan diafragmatik untuk meningkatkan
gerakan pengembangan dinding dada
2)
Latihan pernafasan pursed lip untuk mengurangi
kolaps paru, dyspneu dan frekuensi
pernafasan.
3)
Latihan posisi tubuh tertentu untuk meningkatkan
ventilasi dan relaksasi, misalnya duduk dengan posisi tubuh mendatar ke depan (eaning
forward).
4)
Latihan rekondisi dilakukan untuk mempertahankan dan
meningkatkan kebugaran fisik terutama bagi penderita yang telah mengalami
deconditioning. Latihan dapat berupa senam ringan, latihan fleksibilitas
(streching) dan kekuatan alat gerak atas dan bawah, latihan cardiopulmonal
endurance atau latihan khusus untuk otot-otot pernafasan. Intensitas latihan
dimulai dari yang paling ringan. Jenis latihan endurance dapat berupa berjalan,
ergocycle (sepeda statis) atau treadmill. Lama waktu setiap latihan adalah 30
menit dengan frekuensi latihan minimal tiga kali seminggu (Goesasi, 2011).
c.
Terapi Perilaku dan Psikososial
Gejala-gejala
yang dialami pasien sekian lama akan menimbulkan kecemasan atau depresi.
Kondisi ini akan menambah berat kondisi dan berpotensi untuk membuat pasien
jatuh dalam keadaan deconditioning.
Pemeriksaan khusus psikologis diperlukan untuk penampisan kecemasan atau
depresi. Bentuk terapi yang diperlukan dapat berupa edukasi atau latihan
seperti latihan relaksasi untuk mengurangi kecemasan maupun relaksasi otot-otot
pernafasan agar beban kerja berkurang dan tidak mudah terjadi fatigue.
Penderita dapat lebih percaya diri untuk melakukan aktivitas.
Depresi
akan menghambat kepatuhan pasien terhadap program terutama untuk latihan
sehingga diperlukan suatu psikoterapi. Keluarga juga dapat terkena dampak
dampak dari ketidakmampuan penderita beraktivitas. Tenaga psikolog diharapkan
dapat memberika konseling, sehingga keluarga dapat memberikan dorongan kepada
penderita. Terapi perilaku dan psikososial (Goesasi,
2011).
DAFTAR
PUSTAKA
Antika.
2011. Disability Limitation dan
Rehabilitation. Jakarta.
Budiarto,
Eko dan Dewi Anggraeni. 2002. Pengantar
Epidemiologi Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. 2002. Pedoman
Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Cetakan ke 8. Jakarta. 2002. p 1-37.
David Arnot, dkk (2009). Pustaka kesehatan Populer Pengobatan Praktis:
perawatan Alternatif dan tradisional, volume 7. Jakarta: PT Bhuana Ilmu
Populer. hlm. 180
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. 1994. Pengawasan Kualitas Kesehatan Lingkungan
dan Pemukiman, Dirjen P2M & PLP. Jakarta
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Protokol
Surveilans HIV diantara pasien TB di Indonesia. Jakarta : Depkes RI, UGM,
Asia Link, KNCV.
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Pedoman
Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi 2:cetakan II, Jakarta
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. 2001. Pedoman
Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta.
Fatimah Siti.
2008. Faktor Kesehatan Lingkungan Rumah Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tb
Paru Di Kabupaten Cilacap (Kecamatan : Sidareja, Cipari, Kedungreja, Patimuan,
Gandrungmangu, Bantarsari) Tahun 2008 (Tesis). Program Pascasarjana FKM
Undip Semarang
Goesasi Rachmat, 2011. Rehabilitasi Medik Pada Penyakit Tb di Bandung.
Jakarta: Rineka Cipta.
Herlina, L. 2007. Tuberkulosis dan faktor risiko kejadian Multidrug ResistantTuberculosis (MDR
TB/Resistensi Ganda). Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan
Masyarakat Peminatan Epidemiologi Komunitas Universitas Padjadjaran.
Keman,
Soedjajadi, 2005, Kesehatan Perumahan dan Lingkungan Pemukiman, Journal
Kesehatan Lingkungan , Vol. 2, No. 1, Juli 2005
Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Penanggulangan TB.Jakarta
Leavell & Clark. 1965. Preventive Medicine for The omDoctor in his Comunity: An Epidemiologic approach Third Edit. New York: Prentice-Hall Englewood Cliffs, NJ.
mantap dah artikelnya
ReplyDeleteAcemaxs31.com/obat-tbc