BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Epidemiologi adalah salah satu bagian
dari ilmu kesehatan masyarakat (public health) yang menekankan perhatiannya
terhadap keberadaan penyakit ataupun masalah kesehatan lainnya dalam masyarakat
(Bustan, 2006: 1). Keberadaan penyakit dalam masyarakat itu diekati oleh
epidemiologi secara kuantitiatif. Oleh karena itu, epiemiologi akan mewujudkan
dirinya sebagai suatu metode pendekatan yang banyak memberikan perlakuan
kuantitatif dalam menjelaskan masalah kesehatan (Bustan, 2006: 1).
Menurut asal katanya, secara etimologis,
epidemiologi berarti ilmu mengenai kejadian yang menimpa penduduk. Epidemiologi
berasal dari bahasa Yunani, dimana epi =
upon, pada atau tentang: demos = people, penduduk; dan logia = knowledge, ilmu. Nama
epidemiologi berkaitan dengan sejarah kelahirannya dimana epidemiologi
memberikan perhatian tentang penyakit mengenai penduduk (epidem). Demikian,
epidemiologi dimaksudkan tidak hanya mempelajari penyakit dan epideminya saja,
tetapi menyangkut masalah kesehatan secara keseluruhan (Bustan, 2006: 2)
Ranah kajian epidemiologi meliputi
pengertian, sejarah perkembangan, ukuran frekuensi epidemiologi, skrining,
kejadian luar biasa, riwayat alamiah penyakit, hubungan antara host, agent an
environment, pencegahan penyakit, imunisasi, surveilans, serta pengantar studi
epiemiologi deskriptif dan analitik. Pembahasan kali ini terfokus pada tema
riwayat alamiah penyakit.
Seperti yang diketahui, munculnya
berbagai macam penyakit disebabkan oleh banyak faktor, tidak terkecuali
penyakit akut yang mempunyai massa perlangsungan tersendiri. Bagaimanapun
akutnya, perlu waktu yang memang mungkin singkat untuk tercetusnya suatu
penyakit. Studi RAP yakni riwayat alamiah penyakit mempelajari bagaimana suatu
penyakit tersebut dapat timbul dan tersebar. Studi ini diduga mempunyai manfaat
dalam mengetahui bagaimana pecegahan penyakit yang seharusnya dilakukan.
Oleh karena itu, pada makalah ini
penyusun akan menjabarkan bagaimana tahap riwayat alamiah penyakit, jenis-jenis
penyakit menular dan masa inkubasinya, pola penyebaran penyakit, manfaat
riwayat alamiah penyakit dan tingkat pencegahan penyakit.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah
adalah sebagai berikut.
1. Menjelaskan
tahapan riwayat alamiah suatu penyakit;
2. Mengetahui
jenis-jenis penyakit menular serta masa inkubasinya;
3. Menjelaskan
pola penyebaran penyakit;
4. Mengetahui
manfaat riwayat alamiah penyakit; dan
5. Mengidentifikasi
tingkat pencegahan penyakit.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tinjauan
Pustaka
2.1.1 Tahapan
Riwayat Alamiah Penyakit
Riwayat alamiah penyakit merupakan
perjalanan penyakit yang alami dan tanpa pengobatan apapun, yang terjadi mulai
dari keadaan sehat hingga timbul penyakit. Meskipun setiap penyakit mempunyai
riwayat alamiah yang berbeda, karena kerangka konsep yang bersifat umum perlu
dibuat untuk menjelaskan riwayat perjalanan penyakit pada umumnya.
Gambar 1: Bagan Riwayat Alamiah Penyakit
(Rajab,
2009: 16)
Berasarkan bagan diatas, riwayat alamiah
penyakit dibagi menjadi lima kategori, yaitu:
a. Tahap
prapatogenesis: Manusia (host) masih dalam keadaan sehat namun pada saat ini
pula manusia telah terpajan dan berisiko terhadap penyakit yang ada di
sekelilingnya. Adapun penyebabnya karena telah terjadi interaksi dengan bibit
penyakit (agent), bibit penyakit belum masuk ke manusia (host), manusia masih
dalam keadaan sehat atau belum ada tanda penyakit, dan belum terdeteksi baik
secara klinis maupun laboratorium.
b. Tahap
inkubasi: tahap ini bibit penyakit telah masuk ke manusia, namun gejala belum
tampak. Jika daya tahan pejamu tidak kuat, akan terjadi gangguan pada bentuk
dan fungsi tubuh.
c. Tahap
penyakit dini: tahap ini mulai timbul gejala penyakit, sifatnya masih ringan,
dan umumnya masih dapat beraktivitas.
d. Tahap
penyakit lanjut: tahap ini penyakit makin bertambah hebat, penderita tidak
dapat beraktivitas sehingga memerlukan perawatan.
e. Tahap
akut penyakit: tahap akhir perjalanan penyakit ini, manusia berada dalam lima
keadaan yaitu sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, karrier, kronis, atau
meninggal dunia.
(Rajab,
2009: 17)
Namun, ada beberapa penyakit yang tidak
sesuai dengan bagan diatas, sehingga dikenal dengan istilah atau kejadian
seperti dibawah ini:
a. Self
limiting desease: proses penyakit berhenti sendiri dan semua fungsi tubuh
normal kembali.
b. Penyakit
inapparent: penyakit yang berlangsung tanpa gejala klinis, penderita penyakit
tertentu sudah mulai menularkan penyakitnya sebelum masa inkubasi selesai
(misal campak, polio, rubella, cacar air), atau penderita penyakit tertentu
menularkan penyakitnya setelah gejala klinis muncul (misal filariasis, batuk
rejan, malaria).
c. Masa
latent: masa antara masuknya agent sampai penderita dapat menularkan
penyakitnya.
d. Periode
menular: penderita mampu menularkan penyakit ketika keadaan penderita pulih
(konvalesens) dan pulih sesudah penyakit tidak menunjukkan gejala klinis
(penderita menjadi karrier).
e. Periode
akut: penyakit berlangsung dalam waktu singkat (beberapa hari atau minggu
saja). Misalnya, influenza, rabies, cacar, atau campak.
f. Periode
kronis: penyakit ini berlangsung beberapa tahun (misal TBC, leprae, AIDS).
(Rajab,
2009: 18)
Epidemiologi penyakit infeksi, individu
yang terpapar belum tentu terinfeksi. Hanya jika agen kausal penyakit infeksi
terpapar pada individu lalu memasuki tubuh dan sel (cell entry), lalu melakukan
multiplikasi dan maturasi, dan menimbulkan perubahan patologis yang dapat
dideteksi secara laboratoris atau terwujud secara klinis, maka individu
tersebut dikatakan mengalami infeksi.
Riwayat alamiah penyakit infeksi, proses
terjadinya infeksi, penyakit klinis, maupun kematian dari suatu penyakit
tergantung dari berbagai determinan, baik intrinsik maupun ekstrinsik, yang
mempengaruhi penjamu maupun agen kausal. Tergantung tingkat kerentanan (atau
imunitas), individu sebagai penjamu yang terpapar oleh agen kausal dapat tetap
sehat, atau mengalami infeksi (jika penyakit infeksi) dan mengalami perubahan
patologi yang ireversibel. Ukuran yang menunjukkan kemampuan agen penyakit
untuk mempengaruhi riwayat alamiah penyakit sebagai berikut: (1) infektivitas,
(2) patogenesitas, dan (3) virulensi.
a. Infektivitas
adalah kemampuan agen penyakit untuk menyebabkan terjadinya infeksi. Dihitung
dari jumlah individu yang terinfeksi dibagi dengan jumlah individu yang
terpapar.
b. Patogenesitas
adalah kemampuan agen penyakit untuk menyebabkan penyakit klinis. Dihitung dari
jumlah kasus klinis dibagi dengan jumlah individu yang terinfeksi.
c. Virulensi
adalah kemampuan penyakit untuk menyebabkan kematian. Indikator ini menunjukkan
kemampuan agen infeksi menyebabkan keparahan (severety) penyakit. Dihitung dari
jumlah kasus yang mati dibagi dengan jumlah kasus klinis.
(Murti, 1997)
Contoh, kanker serviks merupakan kanker
bagian bawah (leher) uterus yang berhubungan dengan vagina. Kanker tersebut
merupakan kanker kedua terbanyak pada wanita dan penyebab kematian karena
kanker paling utama di negara-negara berkembang. Sekitar 466,000 kasus baru
kanker serviks terjadi pada wanita di seluruh dunia setiap tahun, sebagian
besar di negara berkembang. Dari 231,000 wanita yang meninggal karena kanker
serviks setiap tahun, sekitar 80 persen berasal dari negara berkembang
(Alliance for Cervical Cancer Prevention, 2007).
Riwayat
alamiah penyakit kanker serviks sebagai berikut.
Gambar 4.2
menyajikan riwayat alamiah infeksi HPV dan potensi menjadi kanker
Mutagen
pada umumnya berasal dari agen-agen yang ditularkan melalui hubungan seksual
seperti Human Papilloma Virus (HPV) dan Herpes Simpleks Virus Tipe 2 (HSV 2)
(Rasjidi, 2009, Vol. III No. 3). Lebih spesifik, sekitar 70 % adalah HPV tipe
16/18 yang ditularkan melalui kontak genital. Sebagian besar kanker serviks
dimulai dengan infeksi awal oleh HPV, tetapi sebagian besar infeksi HPV tidak
berkembang menjadi kanker serviks. Infeksi awal HPV dapat berlanjut dan menjadi
displasia atau hilang dengan spontan (Bosch et al., 1994).
Sebagian
besar wanita yang terinfeksi HPV akan mengalami displasia tingkat rendah,
disebut CIN 1 (cervical intraepithelial neoplasia 1), dalam beberapa bulan atau
tahun terinfeksi. Sebagian besar (60%) dari CIN 1 mengalami regresi dan
menghilang dengan spontan dalam tempo 2-3 tahun terutama pada wanita usia di
bawah 35 tahun. Displasia tingkat rendah (CIN 1) perlu dimonitor tetapi tidak
perlu diobati Sebagian kecil kasus CIN 1 akan mengalami progresi menjadi
displasia tingkat tinggi, disebut CIN 2/3 (Murti, 1997)
Sekitar
15% infeksi HPV yang persisten akan berkembang menjadi CIN 2/3 dalam tempo 3-4
tahun, baik dengan atau tanpa melalui CIN 1. CIN 2/3 merupakan prekursor kanker
serviks, karena itu harus diobati. Perjalanan kanker serviks memiliki masa
laten sangat panjang, hingga 20 tahun. Risiko perkembangan dari lesi prekanker
(CIN 2/3) menjadi kanker invasif adalah sekitar 30-70% (rata-rata 32 persen)
dalam tempo 10 tahun. Kanker serviks paling sering terjadi pada wanita setelah
usia 40 tahun, lebih-lebih wanita di usia 50 dan 60 tahunan (Parkin et al.,
1997).
Walaupun
semua virus herpes simpleks tipe 2 (HPV-2) belum didemonstrasikan pada sel
tumor, teknik hibridisasi insitu telah menunjukkan bahwa terdapat HSV RNA
spesifik pada sampel jaringan wanita dengan displasia serviks. DNA sekuens juga
telah diidentifikasi pada sel tumor dengan menggunakan DNA rekombinan. Diperkirakan,
90% pasien dengan kanker serviks invasive dan lebih dari 60% pasien dengan
neoplasia intraepithelial serviks (CIN) mempunyai antibodi terhadap virus
(Rasjidi, 2009, Vol. III No. 3).
2.1.2 Jenis-Jenis
Penyakit Menular serta Masa Inkubasinya
Jenis Penyakit
|
Masa Inkubasi
|
AIDS
|
2 bulan – 10 tahun
|
Amoebiasis
|
2 – 4 minggu
|
Antraks
|
2 – 7 hari
|
Botulism
|
12 – 36 jam
|
Chikungunya
|
3 – 12 hari
|
Kholera
|
1 – 5 hari
|
Difteri
|
2 – 5 hari
|
Filariasis
|
3 – 12 bulan
|
Hepatitis A
|
15 – 50 hari
|
Hepatitis B
|
7 – 26 minggu
|
Leptospirosis
|
4 – 18 hari
|
Campak
|
10 – 14 hari
|
Poliomyelitis
|
5 – 30 hari
|
Tetanus
|
4 – 21 hari
|
(Bustan,
2006 : 43)
2.1.3 Pola
Penyebaran Penyakit
Suatu penyakit
(menular) tidak hanya selesai setelah membuat seseorang sakit, tetapi cenderung
untuk menyebar. Setelah menyelesaikan riwayatnya pada suatu rangkaian kejadian
sehingga seseorang jatuh sakit, pada saat yang sama penyakit bersama dengan
kumannya dapat berpindah dan menyebar kepada orang lain/masyarakat. Proses
perjalanan penyakit, kuman memulai aksinya dengan memasuki pintu masuk tertentu
(portal of entry) calon penderita baru dan kemudian jika ingin berpindah
ke penderita baru lagiakan ke luar melalui pintu tertentu (portal of exit).
Kuman penyakit
tidak masuk dan ke luar begitu saja tetapi harus melalui “pintu” tubuh tertentu
sesuai dengan jenis masing-masing penyakit misalnya melalui: kulit, saluran
pernapasan, saluran pencernaan, atau saluran kemih. Dalam memilih pintu
masuk-keluar ini setiap jenis kuman mempunyai jalan masuk dan ke luar
tersendiri dari tubuh manusia. Ada yang masuk melalui mulut (oral) dan
ke luar melalui dubur (sistem pencernaan), seperti yang dilakukan oleh
kebanyakan cacing. Namun ada pula yang masuk melalui kulit tetapi ke luar
melalui dubur, misalnya cacing Ankylostoma.
Pengetahuan
tentang jalan masuk ini penting untuk epidemiologi karena dengan pengetahuan
itu dapat dilakukan ‘penghadangan’ perjalanan kuman masuk ke dalam tubuh
manusia. Cacing yang ingin masuk melalui mulut dicegah dengan upaya cuci tangan
sebelum makan. Sedangkan pengetahuan tentang jalan keluar bermanfaat untuk
menemukan kuman itu untuk tujuan identifikasi atau diagnosis. Misalnya kuman
TBC keluar melalui batuk maka penemuan kuman TBC dilakukan dengan penangkapan
kumannya di batuk/dahak.
(Bustan, 2006 : 45)
2.1.4 Manfaat
Riwayat Alamiah Penyakit
Berdasarkan
riwayat alamiah penyakit diperoleh beberapa informasi penting seperti:
a.
Masa
inkubasi atau masa latent, masa atau waktu yang diperlukan selama perjalanan
suatu penyakit untuk menyebabkan seseorang jatuh sakit.
b.
Kelengkapan
keluhan (symptom) yang menjadi bahan informasi dalam menegakkan
diagnosis.
c.
Lamanya
dan beratnya keluhan dialami oleh penderita.
d.
Kejadian
penyakit menurut musim (season) kapan penyakit itu lebih frekuen
kejadiannya.
e.
Kecenderungan
lokasi geografis serangan penyakit sehingga dapat dengan mudah dideteksi lokasi
kejadian penyakit.
f.
Sifat-sifat
biologis kuman patogen sehingga, menjadi bahan informasi untuk pencegahan
penyakit, khususnya untuk pembunuhan kuman penyebab.
Selain itu, dengan mengetahui riwayat
alamiah dapat ditarik beberapa manfaat seperti:
a. Untuk
diagnostik: masa inkubasi dapat dipakai sebagai pedoman penentuan jenis
penyakit, misalnya jika terjadi KLB (kejadian luar biasa).
b. Untuk
pencegahan: dengan mengetahui kuman patogen penyabab dan rantai perjalanan
penyakit dapat dengan mudah dicari titik potong yang penting dalam upaya
pencegahan penyakit.
c. Untuk
terapi: intervensi atau terapi hendaknya biasanya diarahkan ke fase paling
awal. Pada tahap perjalanan awal penyakit itu terapi tepat sudah perlu
diberikan.
(Bustan, 2006 : 45)
2.1.5 Tingkat
Pencegahan Penyakit
Upaya pencegahan yang
dapat dilakukan akan sesuai dengan perkembangan patologis penyakit itu dari
waktu ke waktu, sehingga upaya pencegahan itu dibagi atas berbagai tingkat sesuai
dengan perjalanan penyakit.
Dikenal ada empat
tingkat utama pencegahan penyakit, yaitu:
a. Pencegahan
tingkat awal (Primordial Prevention)
Pencegahan
tingkat awal diperkenalkan oleh WHO (Beaglehole, WHO 1993) sebagai salah satu
bentuk upaya pencegahan yang didapatkan berdasarkan pengalaman epidemiologis
dalam menangani masalah penyakit kardiovaskuler. Ditemukan bahwa terjadinya
penyakit jantung pada masyarakat luas hanya jika terdapat kausal dasar (basic
underlying cause) yang berupa makanan tinggi lemak jenuh binatang. Jika bentuk
penyebab dasar ini tidak ada, seperti halnya di China dan Jepang, penyakit
jantung jarang ditemukan meskipun ditemukan banyak faktor resiko lainnya
seperti merokok dan tekanan darah tinggi.
Tujuan primordial prevention ini adalah untuk menghindari
terbentuknya pola hidup sosial – ekonomi dan cultural yang mendorong peningkatan
resiko penyakit. Upaya ini terutama sesuai untuk ditujukan kepada masalah
penyakit tidak menular yang dewasa ini cenderung menunjukkan peningkatannya.
Upaya primordial juga diperlukan dalam hal pengendalian
peningkatan polusi udara (green house effect, hujan asam, ozone – layer
depletion) dan pengaruh asap di daerah perkotaan dalam pencegahan penyakit
jantung dan paru. Perhatian dapat ditujukan pada pengendalian peningkatan
konsentrasi sulfur diokside di atmosfer pada beberapa kota besar metropolitan seperti
di Paris, London, Newyork dan Tokyo yang melebihi nilai ambang maksimum yang
direkomendasikan oleh WHO.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pencegahan awal ini
diarahkan kepada mempertahankan kondisi dasar atau status kesehatan masyarakat
yang bersifat positif yang dapat mengurangi kemungkinan suatu penyakit atau
faktor resiko dapat berkembang atau memberikan efek patologis. Faktor-faktor
itu tampaknya banyak bersifat sosial atau berhubungan dengan gaya hidup dan
pola makan. Upaya awal terhadap tingkat pencegahan primordial ini merupakan
upaya mempertahankan kondisi kesehatan yang positif yang dapat melindungi
masyarakat dari gangguan kondisi kesehatan.
(Bustan,
2006: 50-53)
b. Pencegahan
tingkat pertama (Primary Prevention)
Pencegahan tingkat pertama dilakukan
dengan dua cara, yaitu (1) menjauhkan agen untuk dapat kontak atau memapar
pejamu, dan (2) menurunkan kepekaan pejamu (host
susceptibility). Intervensi ini dilakukan sebelum perubahan patologis
terjadi (fase prepatogenesis). Jika suatu penyakit lolos dari pencegahan
primordial, maka saatnya pencegahan tingkat pertama ini digalakkan terhadap
penyakit. Apabila lolos dari upaya maka penyakit itu akan segera dapat timbul
secara epidemiologis, tercipta sebagai suatu penyakit yang endemis atau yang lebih
berbahaya apabila timbul dalam bentuk KLB (Bustan, 2006: 53).
Adapun dalam pencegahan primer dilakukan
upaya-upaya antara lain:a.Promosi kesehatan/health promotion yang ditujukan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh terhadap masalah kesehatan. b.Perlindungan khusus
(specific protection): upaya spesifik untuk mencegah terjadinya penularan
penyakit tertentu, misalnya melakukan imunisasi, peningkatan ketrampilan remaja
untuk mencegah ajakan menggunakan narkotik dan untuk menanggulangi stress dan
lain-lain (Rivai, 2005, Vol. I No. 1).
c. Pencegahan
tingkat kedua (Secondary Prevention)
Pencegahan tingkat keua ini dilakukan dalam
fase patologis dengan cara mengetahui perubahan klinik atau fisiologis yang
terjadi dalam awal penyakit (early symptoms) atau semasa masih dalam
presymtomatic, masa sangat awal kelainan klinik. Pencegahan ini ditunjukkan
untuk meneteksi penyakit sedini mungkin untuk mendapatkan pengobatan yang
tepat. Dengan demikian, pencegahan ini sekurang-kurangnya dapat menghambat atau
memperlambat progresifitas penyakit, mencegah komplikasi penyakit, dan
membatasi kemungkinan kecacatan.
Bentuk utama pencegahan tingkat kedua adalah penyaringan
(skrening). Adapun dengan skrening diharapkan dapat dideteksi indikator
fisiologi awal yang ada sebelum orang menunjukkan keluhan. Contoh skrening
adalah hapusan Pap (pap smear) untuk kanker serviks, tes pendengaran untuk
kerusakan ketulian, skin test untuk tuberkulin, VDRL untuk sifilis, dan
Phenylalanine test untuk phenylketonuria (PKU) untuk retardasi mental bayi.
(Bustan,
2006: 54)
d. Pencegahan
tingkat ketiga (Tertiary Prevention)
Pencegahan tingkat ketiga atau upaya
rehabilitasi ditujukan untuk membatasi kecacatan sehingga tidak menjadi tambah
cacat dan melakukan rehabilitasi dari mereka yang punya cacat atau kelainan
akibat penyakit. Keadaan ini, kerusakan patologis sudah bersifat irreversible,
tidak bias diperbaiki lagi. Oleh karena itu, upaya-upaya rehabilitasi yang
dapat dilakukan misalnya, terapi latihan untuk mempertahankan kondisi otot,
pergerakan, mencegah kontraktur bagi penderita paralise akibat stroke.
(Bustan, 2006: 54)
Tingkat pencegahan
|
Fase penyakit
|
Kelompok target
|
Primordial
|
Kondisi normal
kesehatan
|
Populasi total dan
kelompok terpilih
|
Primary
|
Keterpaparan faktor
penyebab khusus
|
Populasi total dan
kelompok terpilih dan idividu sehat
|
Secondary
|
Fase patogenesitas awal
|
Pasien
|
Tertiary
|
Fase lanjut penyakit
(pengobatan dan rehabilitasi)
|
Pasien
|
Tabel
1: Tingkat Pencegahan dan Kelompok Targetnya Menurut Fase Penyakit
Sumber:
Beoglehole, WHO 1993
Riwayat Penyakit
|
Tingkat Pencegahan
|
Upaya Pencegahan
|
Pre-patogenesis
|
Primordial Prevention
Primary Prevention
|
Underlying Condition
Health Promotion
Specific Protection
|
Patogenesis
|
Secondary Prevention
|
Early diagnosis and
Prompt Treatment
Disability Limitation
|
Tertiary Prevention
|
Rehabilitation
|
Tabel
2: Hubungan Kedudukan Riwayat Perjalan Penyakit, Tingkatan Pencegahan dan Upaya
Pencegahan
Sumber:
Beoglehole, WHO 1993
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Riwayat
alamiah penyakit merupakan perjalanan penyakit yang alami dan tanpa pengobatan
apapun, yang terjadi mulai dari keadaan sehat hingga timbul penyakit.
riwayat
alamiah penyakit dibagi menjadi lima kategori, yaitu:
a) Tahap
prepatogenesis
b) Tahap
inkubasi
c) Tahap
penyakit dini
d) Tahap
penyakit lanjut
e) Tahap
akut penyakit
2. Jenis
penyakit menular dengan masa inkubasi paling lama, yaitu AIDS (2 bulan – 10
tahun). Sedangkan jenis penyakit menular dengan masa inkubasi paling cepat,
yaitu tetanus (4 – 21 hari).
3. Pola
penyebaran penyakit, yaitu dengan :
a)
Portal
of entry
b)
Portal
of exit
4. Manfaat
riwayat alamiah penyakit yaitu sebagai berikut :
a) Untuk
diagnostik
b) Untuk
pencegahan
c) Untuk
terapi
5. Upaya
pencegahan dibagi atas berbagai tingkat sesuai dengan perjalanan penyakit.
Dikenal ada empat tingkat utama pencegahan penyakit, yaitu:
a) Pencegahan
tingkat awal (Primordial Prevention)
b) Pencegahan
tingkat pertama (Primary Prevention)
c) Pencegahan
tingkat kedua (Secondary Prevention)
d) Pencegahan
tingkat ketiga (Tertiary Prevention)
No comments:
Post a Comment