Pages - Menu

Wednesday, 20 November 2013

Makalah Riwayat Alamiah Penyakit


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Epidemiologi adalah salah satu bagian dari ilmu kesehatan masyarakat (public health) yang menekankan perhatiannya terhadap keberadaan penyakit ataupun masalah kesehatan lainnya dalam masyarakat (Bustan, 2006: 1). Keberadaan penyakit dalam masyarakat itu diekati oleh epidemiologi secara kuantitiatif. Oleh karena itu, epiemiologi akan mewujudkan dirinya sebagai suatu metode pendekatan yang banyak memberikan perlakuan kuantitatif dalam menjelaskan masalah kesehatan (Bustan, 2006: 1).
Menurut asal katanya, secara etimologis, epidemiologi berarti ilmu mengenai kejadian yang menimpa penduduk. Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani, dimana epi = upon, pada atau tentang: demos = people, penduduk; dan logia = knowledge, ilmu. Nama epidemiologi berkaitan dengan sejarah kelahirannya dimana epidemiologi memberikan perhatian tentang penyakit mengenai penduduk (epidem). Demikian, epidemiologi dimaksudkan tidak hanya mempelajari penyakit dan epideminya saja, tetapi menyangkut masalah kesehatan secara keseluruhan (Bustan, 2006: 2)
Ranah kajian epidemiologi meliputi pengertian, sejarah perkembangan, ukuran frekuensi epidemiologi, skrining, kejadian luar biasa, riwayat alamiah penyakit, hubungan antara host, agent an environment, pencegahan penyakit, imunisasi, surveilans, serta pengantar studi epiemiologi deskriptif dan analitik. Pembahasan kali ini terfokus pada tema riwayat alamiah penyakit.
Seperti yang diketahui, munculnya berbagai macam penyakit disebabkan oleh banyak faktor, tidak terkecuali penyakit akut yang mempunyai massa perlangsungan tersendiri. Bagaimanapun akutnya, perlu waktu yang memang mungkin singkat untuk tercetusnya suatu penyakit. Studi RAP yakni riwayat alamiah penyakit mempelajari bagaimana suatu penyakit tersebut dapat timbul dan tersebar. Studi ini diduga mempunyai manfaat dalam mengetahui bagaimana pecegahan penyakit yang seharusnya dilakukan.
Oleh karena itu, pada makalah ini penyusun akan menjabarkan bagaimana tahap riwayat alamiah penyakit, jenis-jenis penyakit menular dan masa inkubasinya, pola penyebaran penyakit, manfaat riwayat alamiah penyakit dan tingkat pencegahan penyakit.
1.2  Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah adalah sebagai berikut.
1.      Menjelaskan tahapan riwayat alamiah suatu penyakit;
2.      Mengetahui jenis-jenis penyakit menular serta masa inkubasinya;
3.      Menjelaskan pola penyebaran penyakit;
4.      Mengetahui manfaat riwayat alamiah penyakit; dan
5.      Mengidentifikasi tingkat pencegahan penyakit.















BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Tinjauan Pustaka
2.1.1  Tahapan Riwayat Alamiah Penyakit
Riwayat alamiah penyakit merupakan perjalanan penyakit yang alami dan tanpa pengobatan apapun, yang terjadi mulai dari keadaan sehat hingga timbul penyakit. Meskipun setiap penyakit mempunyai riwayat alamiah yang berbeda, karena kerangka konsep yang bersifat umum perlu dibuat untuk menjelaskan riwayat perjalanan penyakit pada umumnya.

Gambar 1: Bagan Riwayat Alamiah Penyakit
(Rajab, 2009: 16)
Berasarkan bagan diatas, riwayat alamiah penyakit dibagi menjadi lima kategori, yaitu:
a.    Tahap prapatogenesis: Manusia (host) masih dalam keadaan sehat namun pada saat ini pula manusia telah terpajan dan berisiko terhadap penyakit yang ada di sekelilingnya. Adapun penyebabnya karena telah terjadi interaksi dengan bibit penyakit (agent), bibit penyakit belum masuk ke manusia (host), manusia masih dalam keadaan sehat atau belum ada tanda penyakit, dan belum terdeteksi baik secara klinis maupun laboratorium.
b.   Tahap inkubasi: tahap ini bibit penyakit telah masuk ke manusia, namun gejala belum tampak. Jika daya tahan pejamu tidak kuat, akan terjadi gangguan pada bentuk dan fungsi tubuh.
c.    Tahap penyakit dini: tahap ini mulai timbul gejala penyakit, sifatnya masih ringan, dan umumnya masih dapat beraktivitas.
d.   Tahap penyakit lanjut: tahap ini penyakit makin bertambah hebat, penderita tidak dapat beraktivitas sehingga memerlukan perawatan.
e.    Tahap akut penyakit: tahap akhir perjalanan penyakit ini, manusia berada dalam lima keadaan yaitu sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, karrier, kronis, atau meninggal dunia.
(Rajab, 2009: 17)
Namun, ada beberapa penyakit yang tidak sesuai dengan bagan diatas, sehingga dikenal dengan istilah atau kejadian seperti dibawah ini:
a.    Self limiting desease: proses penyakit berhenti sendiri dan semua fungsi tubuh normal kembali.
b.   Penyakit inapparent: penyakit yang berlangsung tanpa gejala klinis, penderita penyakit tertentu sudah mulai menularkan penyakitnya sebelum masa inkubasi selesai (misal campak, polio, rubella, cacar air), atau penderita penyakit tertentu menularkan penyakitnya setelah gejala klinis muncul (misal filariasis, batuk rejan, malaria).
c.    Masa latent: masa antara masuknya agent sampai penderita dapat menularkan penyakitnya.
d.   Periode menular: penderita mampu menularkan penyakit ketika keadaan penderita pulih (konvalesens) dan pulih sesudah penyakit tidak menunjukkan gejala klinis (penderita menjadi karrier).
e.    Periode akut: penyakit berlangsung dalam waktu singkat (beberapa hari atau minggu saja). Misalnya, influenza, rabies, cacar, atau campak.
f.    Periode kronis: penyakit ini berlangsung beberapa tahun (misal TBC, leprae, AIDS).
(Rajab, 2009: 18)
Epidemiologi penyakit infeksi, individu yang terpapar belum tentu terinfeksi. Hanya jika agen kausal penyakit infeksi terpapar pada individu lalu memasuki tubuh dan sel (cell entry), lalu melakukan multiplikasi dan maturasi, dan menimbulkan perubahan patologis yang dapat dideteksi secara laboratoris atau terwujud secara klinis, maka individu tersebut dikatakan mengalami infeksi.
Riwayat alamiah penyakit infeksi, proses terjadinya infeksi, penyakit klinis, maupun kematian dari suatu penyakit tergantung dari berbagai determinan, baik intrinsik maupun ekstrinsik, yang mempengaruhi penjamu maupun agen kausal. Tergantung tingkat kerentanan (atau imunitas), individu sebagai penjamu yang terpapar oleh agen kausal dapat tetap sehat, atau mengalami infeksi (jika penyakit infeksi) dan mengalami perubahan patologi yang ireversibel. Ukuran yang menunjukkan kemampuan agen penyakit untuk mempengaruhi riwayat alamiah penyakit sebagai berikut: (1) infektivitas, (2) patogenesitas, dan (3) virulensi.
a.       Infektivitas adalah kemampuan agen penyakit untuk menyebabkan terjadinya infeksi. Dihitung dari jumlah individu yang terinfeksi dibagi dengan jumlah individu yang terpapar.
b.      Patogenesitas adalah kemampuan agen penyakit untuk menyebabkan penyakit klinis. Dihitung dari jumlah kasus klinis dibagi dengan jumlah individu yang terinfeksi.
c.       Virulensi adalah kemampuan penyakit untuk menyebabkan kematian. Indikator ini menunjukkan kemampuan agen infeksi menyebabkan keparahan (severety) penyakit. Dihitung dari jumlah kasus yang mati dibagi dengan jumlah kasus klinis.
(Murti, 1997)
Contoh, kanker serviks merupakan kanker bagian bawah (leher) uterus yang berhubungan dengan vagina. Kanker tersebut merupakan kanker kedua terbanyak pada wanita dan penyebab kematian karena kanker paling utama di negara-negara berkembang. Sekitar 466,000 kasus baru kanker serviks terjadi pada wanita di seluruh dunia setiap tahun, sebagian besar di negara berkembang. Dari 231,000 wanita yang meninggal karena kanker serviks setiap tahun, sekitar 80 persen berasal dari negara berkembang (Alliance for Cervical Cancer Prevention, 2007).

Riwayat alamiah penyakit kanker serviks sebagai berikut.
Gambar 4.2 menyajikan riwayat alamiah infeksi HPV dan potensi menjadi kanker

Mutagen pada umumnya berasal dari agen-agen yang ditularkan melalui hubungan seksual seperti Human Papilloma Virus (HPV) dan Herpes Simpleks Virus Tipe 2 (HSV 2) (Rasjidi, 2009, Vol. III No. 3). Lebih spesifik, sekitar 70 % adalah HPV tipe 16/18 yang ditularkan melalui kontak genital. Sebagian besar kanker serviks dimulai dengan infeksi awal oleh HPV, tetapi sebagian besar infeksi HPV tidak berkembang menjadi kanker serviks. Infeksi awal HPV dapat berlanjut dan menjadi displasia atau hilang dengan spontan (Bosch et al., 1994).
Sebagian besar wanita yang terinfeksi HPV akan mengalami displasia tingkat rendah, disebut CIN 1 (cervical intraepithelial neoplasia 1), dalam beberapa bulan atau tahun terinfeksi. Sebagian besar (60%) dari CIN 1 mengalami regresi dan menghilang dengan spontan dalam tempo 2-3 tahun terutama pada wanita usia di bawah 35 tahun. Displasia tingkat rendah (CIN 1) perlu dimonitor tetapi tidak perlu diobati Sebagian kecil kasus CIN 1 akan mengalami progresi menjadi displasia tingkat tinggi, disebut CIN 2/3 (Murti, 1997)
Sekitar 15% infeksi HPV yang persisten akan berkembang menjadi CIN 2/3 dalam tempo 3-4 tahun, baik dengan atau tanpa melalui CIN 1. CIN 2/3 merupakan prekursor kanker serviks, karena itu harus diobati. Perjalanan kanker serviks memiliki masa laten sangat panjang, hingga 20 tahun. Risiko perkembangan dari lesi prekanker (CIN 2/3) menjadi kanker invasif adalah sekitar 30-70% (rata-rata 32 persen) dalam tempo 10 tahun. Kanker serviks paling sering terjadi pada wanita setelah usia 40 tahun, lebih-lebih wanita di usia 50 dan 60 tahunan (Parkin et al., 1997).
Walaupun semua virus herpes simpleks tipe 2 (HPV-2) belum didemonstrasikan pada sel tumor, teknik hibridisasi insitu telah menunjukkan bahwa terdapat HSV RNA spesifik pada sampel jaringan wanita dengan displasia serviks. DNA sekuens juga telah diidentifikasi pada sel tumor dengan menggunakan DNA rekombinan. Diperkirakan, 90% pasien dengan kanker serviks invasive dan lebih dari 60% pasien dengan neoplasia intraepithelial serviks (CIN) mempunyai antibodi terhadap virus (Rasjidi, 2009, Vol. III No. 3).
2.1.2  Jenis-Jenis Penyakit Menular serta Masa Inkubasinya
Jenis Penyakit
Masa Inkubasi
AIDS
2 bulan – 10 tahun
Amoebiasis
2 – 4 minggu
Antraks
2 – 7 hari
Botulism
12 – 36 jam
Chikungunya
3 – 12 hari
Kholera
1 – 5 hari
Difteri
2 – 5 hari
Filariasis
3 – 12 bulan
Hepatitis A
15 – 50 hari
Hepatitis B
7 – 26 minggu
Leptospirosis
4 – 18 hari
Campak
10 – 14 hari
Poliomyelitis
5 – 30 hari
Tetanus
4 – 21 hari
                                                                                               (Bustan, 2006 : 43)

2.1.3  Pola Penyebaran Penyakit
Suatu penyakit (menular) tidak hanya selesai setelah membuat seseorang sakit, tetapi cenderung untuk menyebar. Setelah menyelesaikan riwayatnya pada suatu rangkaian kejadian sehingga seseorang jatuh sakit, pada saat yang sama penyakit bersama dengan kumannya dapat berpindah dan menyebar kepada orang lain/masyarakat. Proses perjalanan penyakit, kuman memulai aksinya dengan memasuki pintu masuk tertentu (portal of entry) calon penderita baru dan kemudian jika ingin berpindah ke penderita baru lagiakan ke luar melalui pintu tertentu (portal of exit).
Kuman penyakit tidak masuk dan ke luar begitu saja tetapi harus melalui “pintu” tubuh tertentu sesuai dengan jenis masing-masing penyakit misalnya melalui: kulit, saluran pernapasan, saluran pencernaan, atau saluran kemih. Dalam memilih pintu masuk-keluar ini setiap jenis kuman mempunyai jalan masuk dan ke luar tersendiri dari tubuh manusia. Ada yang masuk melalui mulut (oral) dan ke luar melalui dubur (sistem pencernaan), seperti yang dilakukan oleh kebanyakan cacing. Namun ada pula yang masuk melalui kulit tetapi ke luar melalui dubur, misalnya cacing Ankylostoma.
Pengetahuan tentang jalan masuk ini penting untuk epidemiologi karena dengan pengetahuan itu dapat dilakukan ‘penghadangan’ perjalanan kuman masuk ke dalam tubuh manusia. Cacing yang ingin masuk melalui mulut dicegah dengan upaya cuci tangan sebelum makan. Sedangkan pengetahuan tentang jalan keluar bermanfaat untuk menemukan kuman itu untuk tujuan identifikasi atau diagnosis. Misalnya kuman TBC keluar melalui batuk maka penemuan kuman TBC dilakukan dengan penangkapan kumannya di batuk/dahak.
(Bustan, 2006 : 45)
2.1.4  Manfaat Riwayat Alamiah Penyakit
Berdasarkan riwayat alamiah penyakit diperoleh beberapa informasi penting seperti:
a.       Masa inkubasi atau masa latent, masa atau waktu yang diperlukan selama perjalanan suatu penyakit untuk menyebabkan seseorang jatuh sakit.
b.      Kelengkapan keluhan (symptom) yang menjadi bahan informasi dalam menegakkan diagnosis.
c.       Lamanya dan beratnya keluhan dialami oleh penderita.
d.      Kejadian penyakit menurut musim (season) kapan penyakit itu lebih frekuen kejadiannya.
e.       Kecenderungan lokasi geografis serangan penyakit sehingga dapat dengan mudah dideteksi lokasi kejadian penyakit.
f.       Sifat-sifat biologis kuman patogen sehingga, menjadi bahan informasi untuk pencegahan penyakit, khususnya untuk pembunuhan kuman penyebab.
Selain itu, dengan mengetahui riwayat alamiah dapat ditarik beberapa manfaat seperti:
a.       Untuk diagnostik: masa inkubasi dapat dipakai sebagai pedoman penentuan jenis penyakit, misalnya jika terjadi KLB (kejadian luar biasa).
b.      Untuk pencegahan: dengan mengetahui kuman patogen penyabab dan rantai perjalanan penyakit dapat dengan mudah dicari titik potong yang penting dalam upaya pencegahan penyakit.
c.       Untuk terapi: intervensi atau terapi hendaknya biasanya diarahkan ke fase paling awal. Pada tahap perjalanan awal penyakit itu terapi tepat sudah perlu diberikan.
(Bustan, 2006 : 45)
2.1.5  Tingkat Pencegahan Penyakit
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan akan sesuai dengan perkembangan patologis penyakit itu dari waktu ke waktu, sehingga upaya pencegahan itu dibagi atas berbagai tingkat sesuai dengan perjalanan penyakit.


Dikenal ada empat tingkat utama pencegahan penyakit, yaitu:
a.       Pencegahan tingkat awal (Primordial Prevention)
Pencegahan tingkat awal diperkenalkan oleh WHO (Beaglehole, WHO 1993) sebagai salah satu bentuk upaya pencegahan yang didapatkan berdasarkan pengalaman epidemiologis dalam menangani masalah penyakit kardiovaskuler. Ditemukan bahwa terjadinya penyakit jantung pada masyarakat luas hanya jika terdapat kausal dasar (basic underlying cause) yang berupa makanan tinggi lemak jenuh binatang. Jika bentuk penyebab dasar ini tidak ada, seperti halnya di China dan Jepang, penyakit jantung jarang ditemukan meskipun ditemukan banyak faktor resiko lainnya seperti merokok dan tekanan darah tinggi.
        Tujuan primordial prevention ini adalah untuk menghindari terbentuknya pola hidup sosial – ekonomi dan cultural yang mendorong peningkatan resiko penyakit. Upaya ini terutama sesuai untuk ditujukan kepada masalah penyakit tidak menular yang dewasa ini cenderung menunjukkan peningkatannya.
        Upaya primordial juga diperlukan dalam hal pengendalian peningkatan polusi udara (green house effect, hujan asam, ozone – layer depletion) dan pengaruh asap di daerah perkotaan dalam pencegahan penyakit jantung dan paru. Perhatian dapat ditujukan pada pengendalian peningkatan konsentrasi sulfur diokside di atmosfer pada beberapa kota besar metropolitan seperti di Paris, London, Newyork dan Tokyo yang melebihi nilai ambang maksimum yang direkomendasikan oleh WHO.
        Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pencegahan awal ini diarahkan kepada mempertahankan kondisi dasar atau status kesehatan masyarakat yang bersifat positif yang dapat mengurangi kemungkinan suatu penyakit atau faktor resiko dapat berkembang atau memberikan efek patologis. Faktor-faktor itu tampaknya banyak bersifat sosial atau berhubungan dengan gaya hidup dan pola makan. Upaya awal terhadap tingkat pencegahan primordial ini merupakan upaya mempertahankan kondisi kesehatan yang positif yang dapat melindungi masyarakat dari gangguan kondisi kesehatan.
(Bustan, 2006: 50-53)
b.      Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)
Pencegahan tingkat pertama dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) menjauhkan agen untuk dapat kontak atau memapar pejamu, dan (2) menurunkan kepekaan pejamu (host susceptibility). Intervensi ini dilakukan sebelum perubahan patologis terjadi (fase prepatogenesis). Jika suatu penyakit lolos dari pencegahan primordial, maka saatnya pencegahan tingkat pertama ini digalakkan terhadap penyakit. Apabila lolos dari upaya maka penyakit itu akan segera dapat timbul secara epidemiologis, tercipta sebagai suatu penyakit yang endemis atau yang lebih berbahaya apabila timbul dalam bentuk KLB (Bustan, 2006: 53).
Adapun dalam pencegahan primer dilakukan upaya-upaya antara lain:a.Promosi kesehatan/health promotion yang ditujukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap masalah kesehatan. b.Perlindungan khusus (specific protection): upaya spesifik untuk mencegah terjadinya penularan penyakit tertentu, misalnya melakukan imunisasi, peningkatan ketrampilan remaja untuk mencegah ajakan menggunakan narkotik dan untuk menanggulangi stress dan lain-lain (Rivai, 2005, Vol. I No. 1).
c.       Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)
            Pencegahan tingkat keua ini dilakukan dalam fase patologis dengan cara mengetahui perubahan klinik atau fisiologis yang terjadi dalam awal penyakit (early symptoms) atau semasa masih dalam presymtomatic, masa sangat awal kelainan klinik. Pencegahan ini ditunjukkan untuk meneteksi penyakit sedini mungkin untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan demikian, pencegahan ini sekurang-kurangnya dapat menghambat atau memperlambat progresifitas penyakit, mencegah komplikasi penyakit, dan membatasi kemungkinan kecacatan.
        Bentuk utama pencegahan tingkat kedua adalah penyaringan (skrening). Adapun dengan skrening diharapkan dapat dideteksi indikator fisiologi awal yang ada sebelum orang menunjukkan keluhan. Contoh skrening adalah hapusan Pap (pap smear) untuk kanker serviks, tes pendengaran untuk kerusakan ketulian, skin test untuk tuberkulin, VDRL untuk sifilis, dan Phenylalanine test untuk phenylketonuria (PKU) untuk retardasi mental bayi.
(Bustan, 2006: 54)
d.      Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)
Pencegahan tingkat ketiga atau upaya rehabilitasi ditujukan untuk membatasi kecacatan sehingga tidak menjadi tambah cacat dan melakukan rehabilitasi dari mereka yang punya cacat atau kelainan akibat penyakit. Keadaan ini, kerusakan patologis sudah bersifat irreversible, tidak bias diperbaiki lagi. Oleh karena itu, upaya-upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan misalnya, terapi latihan untuk mempertahankan kondisi otot, pergerakan, mencegah kontraktur bagi penderita paralise akibat stroke.
(Bustan, 2006: 54)
Tingkat pencegahan
Fase penyakit
Kelompok target
Primordial
Kondisi normal kesehatan
Populasi total dan kelompok terpilih
Primary
Keterpaparan faktor penyebab khusus
Populasi total dan kelompok terpilih dan idividu sehat
Secondary
Fase patogenesitas awal
Pasien
Tertiary
Fase lanjut penyakit (pengobatan dan rehabilitasi)
Pasien
Tabel 1: Tingkat Pencegahan dan Kelompok Targetnya Menurut Fase Penyakit
Sumber: Beoglehole, WHO 1993

Riwayat Penyakit
Tingkat Pencegahan
Upaya Pencegahan
Pre-patogenesis
Primordial Prevention
Primary Prevention
Underlying Condition Health Promotion
Specific Protection
Patogenesis
Secondary Prevention
Early diagnosis and Prompt Treatment
Disability Limitation
Tertiary Prevention
Rehabilitation
Tabel 2: Hubungan Kedudukan Riwayat Perjalan Penyakit, Tingkatan Pencegahan dan Upaya Pencegahan
Sumber: Beoglehole, WHO 1993















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.      Riwayat alamiah penyakit merupakan perjalanan penyakit yang alami dan tanpa pengobatan apapun, yang terjadi mulai dari keadaan sehat hingga timbul penyakit.
riwayat alamiah penyakit dibagi menjadi lima kategori, yaitu:
a)      Tahap prepatogenesis
b)      Tahap inkubasi
c)      Tahap penyakit dini
d)     Tahap penyakit lanjut
e)      Tahap akut penyakit
2.      Jenis penyakit menular dengan masa inkubasi paling lama, yaitu AIDS (2 bulan – 10 tahun). Sedangkan jenis penyakit menular dengan masa inkubasi paling cepat, yaitu tetanus (4 – 21 hari).
3.      Pola penyebaran penyakit, yaitu dengan :
a)      Portal of entry
b)      Portal of exit
4.      Manfaat riwayat alamiah penyakit yaitu sebagai berikut :
a)      Untuk diagnostik
b)      Untuk pencegahan
c)      Untuk terapi
5.      Upaya pencegahan dibagi atas berbagai tingkat sesuai dengan perjalanan penyakit. Dikenal ada empat tingkat utama pencegahan penyakit, yaitu:
a)      Pencegahan tingkat awal (Primordial Prevention)
b)      Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)
c)      Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)
d)     Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)


No comments:

Post a Comment